Sebuah Pilihan

Sebuah Pilihan

Satu per satu mereka beranjak,
dengan beralas kaki sebuah kekecewaan
menepati titian langkah
yang lebih dari pada sunyi.
Sementara seribu titik api,
berkobar di tiap celah bilik bambu
yang dianyamnya kemarin
menjelang surya tenggelam.

Terlihat di atas kepala,
sebuah gambar berkerudung sutra
seakan mengajak berkemas diri
untuk mendatangi setiap ruang tunggu,
yang jelas bukan untuknya.

Teruslah merapat dalam dekapan dingin
dan tetes embun yg menyapa,
tiap titiknya adalah pengukir masa
dengan menggariskan goresan lembut
pada butir intan
yang ada dalam genggaman.

Tapi, relakan semuanya pergi
lalu, duduklah di sudut serambi masa depan
agar guguran kamboja
di halaman angan yang jauh,
dapat terlihat, atau hanya sekedar
menebar pesonanya yg harum.

Ponorogo, 3 April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s