Ketika di Puncak Menara

Ketika di Puncak Menara

ketika di puncak menara,
melepas pandang
pada hamparan semesta
tak bersudut.
jutaan warna tergambar
penuhi relung hati
yang hanya memiliki seberkas cahaya.
tak seterang matahari.

ketika di puncak menara,
kekerdilan tampak sungguh nyata.
menggapai langit yang kian jauh
tapi, hendak turun pun enggan.
ada semacam tirai
menjulur di setiap sisi
mengurung diri dalam tempurung sunyi.

ketika di puncak menara,
keakuan terbungkam tanpa sengaja.
saat tangan-tangan mengepal
menggenggam seribu dendam
dengan kibar bendera aneka rupa.
lalu, kejenuhan melucuti semangat juang
dan hanya tinggal cerita
atau dongeng kepunahan sejarah.

ketika di puncak menara,
ada yang terus berkisah
pada anak cucu yang tak pernah salah.
hingga tak penting lagi konfirmasi
dan jutaan tanya tak terjawab
demi sebuah keterpaksaan
atas realitas teladan.

ketika di puncak menara,
jabat tangan tak lagi berharga.
dan hanya tatapan sinis kebencian
tertanam dalam
di tiap jantung yang berdetak.

Jogja, 11 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s