ANTARA SUNNAH DAN HADITS

ANTARA SUNNAH DAN HADITS
(Sebuah Paradigma Pergeseran Syariah)

Sunnah dan atau Hadits bagi sebagian umat didefinisikan dengan struktur definisi yang sama, yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi baik perkataan, perbuatan, persetujuan maupun sifatnya. Akan tetapi jika diadakan telaah lebih lanjut, maka akan didapatkan perbedaan makna yang signifikan baik secara bahasa maupun istilah. Kaitannya dengan hal tersebut Sunnah memiliki makna yang lebih luas daripada Hadits, walaupun dari keduanya terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus, namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. Sunnah lebih dapat dipahami dengan suatu manifestasi dari hal yang disebut sebagai “tradisi” Nabi, sedangkan Hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang “didiamkan” beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai “pembenaran”). Jadi, tidak berarti bahwa Hadits dengan sendirinya mencakup seluruh Sunnah. (Nurcholis Majid)
Telah banyak diketahui bahwa terdapat kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas kumpulan hadits. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah, karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan “Ingkar Hadits” (sebutlah “Inkar al-Hadits”). Menurut Dr. Mushthafa al-Siba’i, mantan dekan Fakultas Syari’ah Universitas Syiria, golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam dunia Islam, dari dahulu sampai sekarang. Sangat menarik jalan pikiran seorang tokoh yang ingkar hadits itu di zaman modern, yang disebutkan oleh al-Siba’i sebagai contoh, dan yang dinilainya banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk juga bersikap ingkar pada hadits. Tanpa menyebut namanya secara jelas, al-Siba’i mengutip tokoh itu yang pandangannya pernah dimuat oleh majalah al-Manar pimpinan Sayyid Muhammad Rashyid Ridla. Tokoh itu sendiri, menurut Mushthafa al-Siba’i, adalah seorang muslim yang bergairah, yang telah tampil membela Islam dengan cara yang mengagumkan. Tapi pandangannya yang menolak otoritas hadits telah menimbulkan heboh di kalangan para ulama al-Azhar. Secara ringkas, menurut al-Siba’i, pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah al-Qur’an saja, dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber penetapan syari’ah disebabkan kepastian otentisitasnya. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen (hujjah) karena terjadi penambahan-penambahan padanya, dan karena adanya banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar dari nash-nash-nya. Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut: 1.Allah telah menegaskan “Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q.S. Al-An’am 6:38). Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari’ah, sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menetapkan hukum dan membuat syari’ah. 2.Allah menjamin pemeliharaan al-Qur’an dari kesalahan, sebagaimana difirmankan, “Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran, dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya” (Q.S. al-Hijr 15:9). Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits), sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan. Kalau seandainya hadits termasuk sumber penetapan syari’ah, tentulah Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya. 3.Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw., bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun, dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabi’un seperti ‘Umar, Abu Bakr, ‘Alqamah, ‘Ubaydah, al-Qasim Ibn Muhammad, al-Sya’bi, al-Nakha’i, dll., menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya. Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama, dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga. Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits, dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka, sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syar’i, karena Allah berfirman, “Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran” (Q.S. al-Najm 52:28). 4.Terdapat penuturan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda “Sesungguhnya hadits akan memancarkan dari diriku. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur,an, ia berasal dari diriku; dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Qur’an, ia tidak berasal dariku.” Dalam kutipan al-Siba’i tentang argumen orang yang ingkar pada hadits itu disebutkan bahwa pembukaan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri, dan rampung pada pertengahan abad ketiga. Mungkin yang dimaksudkan ialah adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah ‘Umar Ibn ‘Abd al-‘Aziz (w. 102 H.) dari Bani Umayyah. Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan, Umar II, yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan ‘Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari. Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang ‘Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa, al-Rasyidun, sesudah ‘Ali Ibn Abi Thalib. ‘Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal, Syihab al-Din al-Zuhri (w. 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah, Kota Nabi, karena keyakinan ‘Umar II bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi, jika bukannya malah merupakan wujud historis yang kongkret dari “tradisi” atau “sunnah” Nabi sendiri. Dari sudut analisa politik, tindakan ‘Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideologi Jama’ah-nya, yang dengan ideologi itu ia ingin merangkul seluruh kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka, termasuk kaum Syi’ah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. ‘Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah, di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti ‘Abd-Allah ibn ‘Umar (Ibn al-Khaththab), ‘Abd-Allah Ibn ‘Abbas dan ‘Abd-Allah Ibn Mas’ud. Jadi, dalam pandangan ‘Umar II, sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan “tradisi” atau “sunnah” historis penduduk Madinah, dan dengan begitu, juga merupakan kelanjutan yang sah dari “tradisi” atau “sunnah” Nabi. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukaan “tradisi” atau “sunnah” Nabi. Selanjutnya, “sunnah” itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang persatuan seluruh umat Islam dalam “Jama’ah” yang serba mencakup. Berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi ‘Umar II kelak disebut sebagai paham “sunnah dan jama’ah” dan para pendukungnya disebut ahl al-sunnah wa al-Jama’ah (golongan sunnah dan jama’ah). Mushthafa al-Siba’i amat menghargai kebijakan ‘Umar II berkenaan dengan pembukaan sunnah itu, sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syi’ah dan Khawarij (karena, dalam pandangan al-Siba’i, golongan oposisi itu kemudian mampu memobilisasi diri sehingga, dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi, mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam). Dan, menurut al-Siba’i, sebelum masa ‘Umar II pun sebetulnya sudah ada usaha-usaha pribadi untuk mencatat hadits, sebagaimana dilakukan oleh ‘Abd Allah Ibn ‘Amr Ibn al-‘Ash. Tapi, sesungguhnya, pembukuan hadits secara sistematis dan kritis dan dalam skala besar serta pada tingkat kesungguhan yang tinggi baru dimulai pada awal abad ketiga dengan tampilnya Iman al-Syafi’i (w. 204 H), dan baru benar-benar rampung pada awal abad keempat Hijri, dengan tampilnya al-Nasa’i (w. 303 H). Imam al-Syafi’i adalah tokoh pemikir peletak sebenarnya teori ilmiah pengumpulan dan klasifikasi hadits. Teori dan metodenya kemudian diterapkan dengan setia oleh al-Bukhari (w. 256 H), lalu diteruskan berturut-turut oleh Muslim (w. 261 H), Ibn Majah (w.273 H), Abu Dawud (w.275 H), al-Turmudzi (.w. 279 H) dan terakhir, al-Nasa’i (w. 303 H). Koleksi mereka berenam itulah yang kelak disebut “Kitab yang Enam” (al-Kutub al-Sittah). Akibatnya, pengertian “sunnah” pun kemudian menjadi hampir identik dengan koleksi hadits dalam “Kitab yang Enam” itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s