STUDI HADITS

MEMAHAMI HADITS TENTANG SETIAP ANAK ADAM YANG TERLAHIR DISENTUH OLEH SYETAN

(HR. MUSLIM No. 4364)

A. Pendahuluan

Sungguh merupakan kebahagiaan yang tiada terkira ketika seseorang yang sedang menanti kelahiran sang buah hati mendengar jerit tangisnya memecah segala rasa keresahan dan kekhawatiran. Tangisan bayi mungil tersebut pasti disambut dengan senyum dan tangis keharuan dari orang-orang yang ada disekilingnya sebagai luapan kegembiraan. Bahkan seorang ibu yang telah merasakan rasa sakit yang tiada terperi pun akan merasa senang ketika mendengar tangisan pertama kali sang buah hati saat dilahirkan. Karena ini menjadi bukti bahwa sang bayi lahir dengan selamat. Rasa sakit di detik-detik perjuangan saat melahirkan seolah pupus sudah tatkala sang ibu melihat bayi mungil yang keluar dari rahimnya menangis dengan keras. Inilah satu-satunya tangisan seorang bayi yang tidak pernah membuat sang ibu manapun merasa kesal, sedih atau bahkan marah, namun sebaliknya senyum simpul dan rasa lega yang terpancar pada wajah sang ibu seakan menggambarkan rasa bahagia menyambut kedatangan sang buah hati.

Tangisan keras sang bayi saat ia dilahirkan memang sudah menjadi hal yang lumrah dan wajar. Bahkan jika ditilik dari dunia medis, justru bayi yang lahir dengan keadaan sehat maka ia akan menangis dengan keras, yang menandakan fungsi jantung dan paru-parunya telah bekerja dengan normal. Akan tetapi di lain pihak, tangisan bayi saat ia dilahirkan juga menyimpan berbagai misteri yang berkenaan dengan hal-hal ghaibiyah yang di luar kemampuan manusia biasa dan para medis.

Hal ini mungkin sudah sering jadi bahan perbincangan dikalangan masyarakat secara turun temurun. Apalagi bagi masyarakat yang masih kental dengan budaya klenik atau yang sejenisnya, pastilah hal ini sudah menjadi hal yang tidak asing lagi. Seperti contoh, setiap ibu yang baru melahirkan dianjurkan untuk membawa gunting kemanapun ia pergi, ada pula yang memberikan sesajen di dekat bayi yang baru lahir, dan lain sebagainya. Walaupun hal tersebut sudah banyak diketahui oleh para masyarakat yang hidup dikalangan modern, akan tetapi di antara mereka masih banyak yang melakukannya, dengan alasan sebagai tulak sawan atau tolak bala.

Dengan memperhatikan permasalahan diatas, penulis akan mencoba mengungkap permasalahan terkait dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim pada kitab shahihnya dengan nomor hadits 4364.

B. Teks Hadits dan Kritik Sanad Hadits

Dari kondisi yang telah penulis paparkan pada pendahuluan di atas, sepertinya terdapat keselarasan dengan sabda Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Muslim pada kitab shahihnya :

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ أَنَّ أَبَا يُونُسَ سُلَيْمًا مَوْلَى أَبِي هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ كُلُّ بَنِي آدَمَ يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا

Artinya : “Setiap anak Adam akan disentuh oleh syetan di saat ibunya melahirkannya, kecuali Maryam dan anaknya (Isa).”[1]

Hadits tersebut telah melalui periwayatan sebagai berikut :

No Perawi Urutan sanad Jarah wa Ta’dil
1. Abu Hurairah 1 Dari golongan sahabat, yang ke-adil-an dan ke-tsiqqah-annya tidak diragukan.
2. Abu Yunus Sulaim 2 An-Nasa’i dan Ibnu Hibban memberinya derajat Tsiqqah.
3. ‘Amru bin al-Haris 3 An-Nasa’i, al-‘Ajliy, Yahya bin Mu’in, Abu Zar’ah memberinya derajat tsiqqah, dan Abu Hatim mengatakan bahwa adalah seorang yang terjaga hafalannya di zamannya.
4. Ibnu Wahb 4 Abu Zar’ah, al-Khilal, dan Yahya bin Mu’in men-Tsiqqah-kannya, dan Ahmad bin Hanbal menilainya sebagai pembawa berita yang benar, serta Abu Hatim mengatakan bahwa berita yang dibawanya benar dan jujur.
5. Abu Thahir 5 An-Nasa’i, Musallamah bin Qasim men-Tsiqqah-kannya, dan Abu Hatim, juga Abu Zar’ah menilainya tidak apa-apa sebagai periwayat hadits.

Dengan memperhatikan kritik dari para ahli Jarh wa ta’dil tersebut, menyatakan bahwa hadits tersebut shahih.

Untuk mendapatkan telaah lebih lanjut terhadap hadits riwayat Muslim no. 4364, tentang sentuhan syetan pada setiap anak Adam, maka penulis mengadakan penelusuran berdasarkan hadits tersebut dengan dibatasi pada kutub at-tis’ah yang telah tersedia dalam bentuk CD ROM Mausu’ah Hadits asy-Syarif, dan mendapati beberapa hadits yang serupa dengan masalah hadits diatas, akan tetapi memiliki redaksi yang berbeda-beda. Hadits-hadits tersebut antara lain :

1.      Shahih Muslim pada no. hadits 4363 dan 4365.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ ثُمَّ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ و حَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ ح و حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ جَمِيعًا عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَا يَمَسُّهُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسَّةِ الشَّيْطَانِ إِيَّاهُ وَفِي حَدِيثِ شُعَيْبٍ مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَاحُ الْمَوْلُودِ حِينَ يَقَعُ نَزْغَةٌ مِنْ الشَّيْطَانِ

2.      Shahih Bukhari pada no. hadits 3044, 3177, dan 4184.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبَيْهِ بِإِصْبَعِهِ حِينَ يُولَدُ غَيْرَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَهَبَ يَطْعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلَّا يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا وَالشَّيْطَانُ يَمَسُّهُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ إِيَّاهُ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

3.      Musnad Ahmad pada no. hadits 6885, 7383, 7540, 7574, 7906, 8459, dan 10.355.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ ثُمَّ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا الشَّيْطَانُ يَمَسُّهُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسَّةِ الشَّيْطَانِ إِيَّاهُ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ عَجْلَانَ مَوْلَى الْمُشْمَعِلِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَوْلُودٍ مِنْ بَنِي آدَمَ يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ بِأُصْبُعِهِ إِلَّا مَرْيَمَ ابْنَةَ عِمْرَانَ وَابْنَهَا عِيسَى عَلَيْهِمَا السَّلَام

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ عَجْلَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ مِنْ بَنِي آدَمَ يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ بِإِصْبَعِهِ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا عَلَيْهِمَا السَّلَام

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ عَجْلَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ مِنْ بَنِي آدَمَ يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ بِإِصْبَعِهِ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا

حَدَّثَنَا هَيْثَمٌ قَالَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ يَلْكُزُهُ الشَّيْطَانُ بِحِضْنَيْهِ إِلَّا مَا كَانَ مِنْ مَرْيَمَ وَابْنِهَا أَلَمْ تَرَوْا إِلَى الصَّبِيِّ حِينَ يَسْقُطُ كَيْفَ يَصْرُخُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَذَاكَ حِينَ يَلْكُزُهُ الشَّيْطَانُ بِحِضْنَيْهِ

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيْطَانُ بِإِصْبَعِهِ فِي جَنْبِهِ حِينَ يُولَدُ إِلَّا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ذَهَبَ يَطْعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ

Dari penelusuran tehadap hadits tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa hadits tersebut tergolong hadits ahad yang masyhur. Dan dari seluruh riwayatnya telah marfu’ hingga Rasulullah saw. Hanya saja dari seluruh periwayatan hadits tersebut berpusat pada periwayat pertamanya adalah Abdurrahman bin Shakhr yang lebih dikenal dengan Abu Hurairah, dan dikenal pula sebagai sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Dengan demikian fenomenalnya kemampuan Abu Hurairah dalam meriwayatkan hadits, tentunya tak terlepas dari kritik yang mengarah kepadanya baik dari kalangan kaum orientalis (outsider) maupun dari kalangan ulama muslim sendiri (insider). Dari ulama yang memberikan kritik atas kemampuan Abu Hurairah dalam meriwayatkan hadits salah satunya adalah Mahmud Abu Rayyah melalui karyanya yang diberi judul Adhawa’ ‘Ala as-Sunnah al-Muhammadiyah. Dengan karyanya ini Abu Rayyah memberikan kritik dan meragukan atas hafalan Abu Hurairah. Dengan alasan bahwa masa kebersamaan Abu Hurairah dan Rasulullah saw, merupakan waktu yang relatif singkat yakni hanya 21 bulan, sedangkan sahabat lain yang telah mengikuti Rasul sejak awal dakwah Islam, tidak ada yang meriwayatkan hadits sebanyak yang diriwayatkan Abu Hurairah. Lain dari pada itu Abu Rayyah juga berpedoman pada riwayat yang menerangkan pengakuan Abu Hurairah bahwa ia berkata “Ya Rasul Allah, aku mendengar banyak hadits darimu, tapi setelah itu aku lupa.” Nabi berkata:”Bentangkan jubahmu.” Lalu dengan kedua tangannya Nabi menyendok (yaitu kemudian nabi membuat isyarat seolah-olah Nabi menyendok sesuatu dan memasukkan ke dalam jubah) seraya berkata:” Satukan (ujung-ujung) jubah itu.”Aku melakukan hal ini, dan aku tidak lupa sesuatu pun semenjak itu.[2]

Dengan munculnya kritik keras Abu Rayyah tersebut telah memancing banyak komentar dari para ulama lainnya dengan membantah apa yang diungkapkan Abu Rayyah. Seperti Dr. Muhammad Hamidullah menguatkan bukti tentang kekuatan Hafalan Abu Hurairah sebagai berikut:
“Abu Hurayrah has himself ascribed the strength of his memory to the prophet’s blessing on him. Hearing the fame of his memory, Marwan ibn al-Hakam the governor of Madinah, on one occasion, tested this capacity of his. He sent for him and after having conversed with him on miscellaneous matters, began to ask him the Hadith of the prophet. Behind the curtain was seated a scribe , who was writing down everything that Abu Hurairah spoke, Abu Hurayrah himself being totally ignorant of the arrangement. The scribe relates : “Marwan went on asking, and I went on writing, and the Hadith grew considerable in number. After the lapse of a year, Marwan sent for Abu Hurayrah again, and I was seated once more behind the curtain. He went on questioning him on the same traditions, and I was comparing what he said now with what he had narrated before. He did not speak a word more or word less.” This establishes not only the truth of Abu Hurayrah strong memory, but also the fact that, by marwan orders, a number of the Hadith that Abu Hurayrah narrated were consigned to writing and that these were verified also by, so to say, a collation with the original.”[3]

Lain dari pada itu sanggahan atas pendapat Abu Rayyah juga disampaikan oleh Dr. al-A’zhami yang melakukan penelitian, bahwa jumlah 5.000-an hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadis yang substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadis-hadis yang diulang-ulang substansinya, maka hadis dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah tinggal 1336 saja. Dengan demikian Ali al-Salus menandaskan bahwa hal tersebut bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari mu’jizat kenabian?”. Dr. Quraish Shihab juga memberikan perhitungan matematis untuk menyanggah kritik Abu Rayyah, hampir sama dengan yang diungkap al-A’zhami. Katakanlah, seseorang dapat menyampaikan informasi yang ia dengar atau lihat menyangkut Nabi rata-rata sebanyak lima informasi (hadis) dalam sehari, berarti dalam setahun ia mampu menyampaikan 365 x 5 yakni sama dengan 1825 hadis. Dan dengan demikian, Abu Hurairah yang hidup bersama Nabi selama empat tahun berpotensi untuk meriwayatkan hadis sebanyak 7300, jumlah ini jauh lebih banyak dari yang dinisbahkan kepada Abu Hurairah yang dinyatakan 5374 hadis.[4]

C. Telaah Linguistik

Setelah memperhatikan beberapa teks hadits di atas, didapati beberapa istilah yang pada dasarnya mempunyai kemiripan makna dalam pernyataan yang menyatakan perbuatan syetan terhadap bayi yang baru lahir, antara lain :

1.      مسّ – يمَسّ yang artinya menyentuh[5], jadi hadits yang menggunakan istilah ini dapat dimaknai bahwa syetan telah menyentuh bayi yang dilahirkan.

2.      نزغ – ينزغ yang artinya menusuk, dan  نزغ الشيطان diartikan dengan godaan/bujukan syetan untuk berbuat maksiat[6].

3.      نخس – ينخس yang diartikan mencucuk[7], dengan kata lain bahwa sentuhan yang dilakukan sehingga membuat si objek menjadi sakit.

4.      طعن – يطعن yang artinya menikam dan menusuk[8], serta

5.      لكز – يلكز yang artinya menusuk atau memukul dengan kepalan tangan[9].

Dengan pemaknaan yang tersebut diatas, lebih jelasnya menerangkan bagaimana syetan membuat sentuhan kepada setiap anak Adam yang dilahirkan. Namun jika hadits-hadits tersebut dipahami secara tekstual maka akan mendapatkan makna yang kontradiktif dengan kenyataan ketika bayi tersebut dilahirkan dan menangis. Terutama jika makna tersebut dipertemukan dengan tinjauan medis yang justru mengharap setiap bayi yang lahir dengan menangis.

Oleh karena itu, hadits tersebut lebih memberikan pesan secara balaghi yang berupa majaz untuk dapat dicermati maknanya dan menangkap pesan yang ada dengan lebih baik lagi. Sebab secara logis, syetan tidak mungkin memberikan sentuhan langsung kepada seorang bayi apalagi sampai menusuk atau memukulnya. Adapun pemaknaan yang lebih dapat ditangkap dan dicerna dengan akal adalah penggunaan kata نزغ – ينزغ – نزغة yang berarti godaan. Hal tersebut sangat beralasan ketika dikaitkan dengan perbuatan syetan yang selalu memberikan godaan kepada setiap anak Adam agar mengikuti langkahnya yang sesat.

D. Telaah Tematis Komprehensif

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut berkenaan dengan hadits tentang sentuhan syetan kepada setiap anak Adam yang dilahirkan, perlu diadakan penelusuran terhadap hadits yang memiliki tema yang serupa dengan hadits tersebut. Dan dari penelusuran tersebut penulis mendapatkan :

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

Artinya : “Seandainya dari mereka berkehendak untuk mendatangi keluarganya (menyetubuhi istrinya), maka bacalah dengan nama Allah, ya… Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan dari apa yang Kau berikan kepada kami rizki (anak), maka sesungguhnya jika Allah berkehendak kepada keduanya anak di kala itu maka tidak ada bahaya apapun daripada syetan”.[10]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ وَأَبَوَاهُ بَعْدُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ فَإِنْ كَانَا مُسْلِمَيْنِ فَمُسْلِمٌ كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ يَلْكُزُهُ الشَّيْطَانُ فِي حِضْنَيْهِ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا

Artinya : “Setiap manusia yang dilahirkan oleh ibunya adalah suci, dan kedua orangtuanya lah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi, dan jika keduanya muslim maka muslimlah ia, setiap manusia yang dilahirkan oleh ibunya akan ditekan syetan pada dadanya kecuali Maryam dan anaknya”.[11]

Dengan mengkonfirmasi terhadap dua hadits tersebut, dapat ditarik benang merah yang menghubungkan antara sentuhan syetan pada setiap anak Adam dan juga fitrah manusia ketika ia dilahirkan. Dengan permisalan yang diangkat pada hadits adalah keistimewaan Maryam dan Isa, adalah menyatakan bahwa keduanya merupakan manusia pilihan yang terjaga dari segala bentuk godaan syetan, hal ini disebabkan karena kesalehan para orang tua mereka.[12]

Adapun penjelasan tentang fitrah yang merupakan sifat dasar manusia saat ia dilahirkan, bahwa fitrah adalah karunia Allah pada ciptaan-Nya yang berupa keimanan, pengetahuan, dan kesaksian atas ketuhanan Allah swt. Sedangkan hal yang mempengaruhi keimanannya adalah pengaruh orang tuanya yang akan menjadikannya berpaling dari fitrahnya.[13]

E. Telaah Konfirmatif

Perjalanan Rasulullah yang membawa risalah kenabian, dan segala hal yang dilakukannya baik secara langsung maupun tak langsung tentunya selalu mendapatkan penjagaan Allah swt. Maka untuk mendapatkan informasi yang kongkret atas hadits tentang sentuhan syetan pada setiap anak Adam, tentunya dapat dikonfirmasikan dengan firman Allah dalam al-Qur’an sehingga orisinalitas hadits tersebut lebih terjaga dan tidak adanya pertentangan antara kedua sumber hukum Islam tersebut.

Adapun ayat-ayat yang penulis kemukakan demi konfirmatifnya hadits yang sedang dikaji adalah sebagai berikut :

Artinya : “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah (200) Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (201)”.[14]

Ibnu Katsir memberikan pandangan atas ayat tersebut, bahwa makna نزغ adalah فساد, dalam artian berupa marah dan bentuk keburukan lainnya. Sedangkan العياذ diartikan dengan berlindung dari segala keburukan.[15] Sedangkan makna sentuhan syetan pada ayat 201, dimaknai dengan godaan syetan, dan perbuatan dosa.[16]

Az-Zamakhsari menjelaskan bahwa syetan akan selalu memberikan godaan (وسوسة), dengan berbagai cara, sehingga bagi orang yang shaleh adalah selalu memohon perlindungan Allah dan selalu mengingat Allah untuk menghindari godaan syetan tersebut.[17]

Hal tersebut juga diperkuat dengan janji iblis kepada Allah untuk selalu menggoda manusia dari segala penjuru, untuk menjerumuskan manusia kepada jalannya yang sesat.[18]

Ayat lain yang dapat dijadikan pertimbangan adalah :

Artinya : “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”[19]

Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa kesalehan dan ketaatan seorang hamba terhadap Tuhannya merupakan hal yang sedemikian pentingnya bagi kesalehan generasi dan keturunannya dan agar terhindar dari godaan syetan. Ayat tersebut mengisahkan keluarga imran yang taat, dengan istrinya yang mandul yang bernama Hannah binti Fakuz[20]. Dengan ketaatan dan kesalehahannya ia tak lepas berdo’a agar dikaruniai seorang anak, sehingga Allah mengabulkan do’anya. Dan ia pun bernadzar untuk menyerahkan anak yang dikandungnya kepada rumah ibadah (Baitul Maqdis). Akan tetapi setelah melahirkan ternyata anak tersebut perempuan yang diberi nama Maryam, dan dengan peristiwa tersebut ia tetap berserah diri kepada Allah dan mendo’akan anaknya beserta keturunannya agar terlindungi dari syetan.[21]

Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.[22]

F. Analisa Realitas Historis

Untuk memahami suatu hadits diperlukan pula kajian melalui pendekatan historis baik secara makro maupun mikro. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya pada saat turunnya sabda Rasul tersebut.

Adapun analisis realitas historis pada hadits tentang sentuhan syetan pada setiap anak Adam dapat dianalisa dengan melihat teks hadits tersebut yang sarat dengan pesan balaghi. Walaupun dalam hal ini penulis tidak dapat menelusuri asbabul wurud mikro dari turunnya hadits ini, akan tetapi dari susunan hadits tersebut dapat di ketahui asbabul wurudnya secara makro. Menurut analisa penulis, hadits tersebut sesuai dengan kondisi masyarakat yang sedang dihadapi Rasulullah pada masa dakwahnya. Yaitu kondisi masyarakat yang sangat mengapresiasi terhadap bahasa dengan kualitas sastra yang tinggi, dan juga keyakinan akan keistimewaan Maryam dan Isa yang telah mereka ketahui sebelumnya dari al-Kitab. Terbukti dalam al-Qur’an menyatakan bahwa masyarakat Quraisy yang tertawa ketika Rasulullah menggunakan permisalan terhadap Maryam dan Isa.[23]

Lain dari pada itu, masyarakat Arab yang pada masa itu tergolong sebagai masyarakat yang maju, akan tetapi masih banyak yang meyakini berbagai mitos tentang segala keburukan yang menimpa mereka. Sehingga untuk menyampaikan risalah pun, Rasulullah menggunakan bahasa qiyas yang mengandung mitologi yaitu “sentuhan syetan” yang seakan bermakna nyata.

Indikasi lain yang dapat dijadikan pertimbangan adalah peristiwa pendelegasian kepada kristen Najran, yang mana inti dakwahnya dengan memberikan penyebutan para tokoh yang diantaranya Adam, yang dilahirkan tanpa ayah ibu, atau Ibrahim yang memperoleh anak saat usianya sudah lanjut dan istrinya mandul, serta keluarbiasaan keluarga Imran.[24]

G. Analisa Generalisasi

Dari beberapa analisis diatas, dapat digeneralisasikan bahwa sabda Nabi yang berkenaan dengan sentuhan syetan kepada setiap anak Adam berkaitan erat dengan pola pendidikan. Yakni, kaitannya sebagai tanggung jawab para orang tua untuk memberikan pendidikan spiritual yang baik kepada anak-anaknya yang telah dikaruniai fitrah oleh penciptanya, sebab anak merupakan amanat Allah yang diberikan kepada manusia dan dikarenakannya terdapat pahala yang sangat besar.[25]

Pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan di saat anak sudah terlahir ke dunia saja, melainkan pendidikan tersebut bermula dari diri para orang tua itu sendiri ketika mengharapkan kehadiran anak-anak yang shaleh. Yaitu dari sebelum pernikahan (memilih dan menentukan pasangan hidup), saat pergaulan antara suami-istri, saat seorang ibu mengandung, dan seterusnya.[26]

Sedangkan syetan sebagai musuh yang nyata bagi manusia dan akan menggelincirkan jalan lurus manusia menuju kesesatan, akan selalu melakukan godaannya dengan berbagai macam cara. Akan tetapi godaan mereka hanya terbatas pada mereka yang tidak ‘mukhlis’, dalam hal ini al-Alusy memberikan penjelasan bahwa orang-orang yang ‘mukhlis’ adalah orang yang penuh ketaatan dan tidak terkait syirik dalam bentuk apapun, sehingga mereka dengan penuh kerendahan hati sebagai hamba Allah untuk beribadah kepada-Nya.[27] Sepeti halnya ketika Syetan hendak ‘menyentuh’ Maryam dan Isa, mereka terhalang oleh ‘penghalang’, yakni sifat kesalehan dari keluarga Imran dan keturunannya.[28]

H. Kritik Praksis

Jika memperhatikan hadits tentang sentuhan syetan pada setiap anak Adam, dan telah mendapati pemahaman bahwa sebenarnya sentuhan yang dilakukan syetan tersebut merupakan godaan dan bisikan untuk menjerumuskan dan mengeluarkannya dari fitrahnya sebagai hamba Allah. Maka sungguh tidaklah logis jika tangisan bayi saat ia dilahirkan disebabkan oleh syetan, melainkan hal itu merupakan sifat naluriah seorang bayi saat ia dilahirkan. Kaitannya dengan hal ini, az-Zamakhsari mengutarakan pendapatnya bahwa jika setiap sentuhan syetan mambuat seseorang menjerit dan menangis maka dunia ini akan ramai oleh jeritan dan tangisan.[29]

Walaupun banyak kalangan masyarakat meyakini kondisi tersebut, seperti halnya keyakinan bahwa bayi mempunyai penglihatan yang lebih tajam dibandingkan dengan manusia dewasa, sehingga dia dapat melihat hal-hal ghaib dan dengan mengapresiasikan apa yang dilihatnya dari perilakunya seperti menangis dan lain sebagainya. Hal ini tidak menutup kemungkinan jika dikaitkan dengan sifat fitrah yang dimilikinya. Akan tetapi akan sangat kesulitan jika hal itu diharapkan dalam kajian ilmiah yang berdasarkan pada pengetahuan empiris, karena keterbatasan pengetahuan manusia. Sedangkan kepercayaan yang telah mendarah daging di kalangan masyarakat merupakan permasalahan yang sulit untuk dicarikan solusi dan jalan keluarnya, sebab perbantahannya hanya akan memperkeruh suasana.

Sedangkan di lain pihak, bagi masyarakat yang telah mengalami proses modernisasi dalam pola pemikirannya, memberikan penafsiran yang lebih realistis dan relevan terhadap apa itu ‘syetan’ yang dimaksud. Dalam hal ini syetan diartikan sebagai segala macam bentuk keburukan yang dapat menyakiti manusia, yang berupa penyakit dan lain sebagainya. Sebagai contoh ketika ada perintah rasul yang diriwayatkan oleh Bukhari untuk tidak membiarkan anak-anak berkeliaran diluar rumah ketika malam telah menjelang, sebab pada saat itu banyak syetan yang berkeliaran, dan Rasul memerintahkan untuk metutup pintu rumah, menutup tempat-tempat air, mematikan lampu dengan menyebut nama Allah[30]. Kaitannya dengan hal tersebut bahwa pada saat malam tiba (dibawah tengah malam) menandakan bahwa tidak baiknya udara malam bagi kesehatan, di mana secara kimiawi udara lebih didominasi oleh CO2 (karbondioksida) dari respirasi tumbuhan dan turunnya beberapa gas negatif yang belum mengembun dan belum terlarut dengan air.

Terlepas dari pandangan tersebut, tinjauan medis yang lebih memberikan wacana terang tentang bayi dan perilakunya menyatakan bahwa sifat naluriah seorang bayi yang dilahirkan adalah menangis, dengan alasan kondisi bayi yang keluar dari rahim ibunya merasakan suhu lingkungannya yang berbeda dari suhu di dalam rahim ibunya yang rata-rata 36-36,5 derajat celcius, sedangkan suhu kamar saat ia dilahirkan berada pada suhu yang lebih rendah ataupun lebih tinggi (khusus di daerah yang bersuhu tinggi hingga lebih dari 40 derajat celcius). Hal lain yang menyebabkan seorang bayi menangis adalah pergantian suplai oksigen yang tadinya bergantung pada plasentanya setelah lahir akan terputus dan di harus menghirup oksigen dengan sendirinya, yang pada awalnya akan sedikit menyakitinya ketika membuka katup jalur pernapasannya. Pernapasan pertama terjadi akibat adanya rangsangan mekanik kala dada bayi tertekan selama melewati jalan lahir. Perbedaan mencolok antara kehangatan dalam rahim dan suhu luar pun memaksa si bayi bernapas. Yang paling utama tentu saja rangsangan kimiawi ketika tubuh bayi merasakan perlunya pasokan udara bagi proses metabolismenya. Selanjutnya, udara akan segera mengisi kantong-kantong udara di paru-paru yang disebut alveolus.[31]

Dari pernyataan-pernyataan diatas, sepertinya terlihat beberapa kontradiksi yang tidak mempertemukan sebuah benang merah. Bahkan secara sekilas jika diperhatikan antara teks hadits, anggapan masyarakat, serta tinjauan medis akan membentuk asumsi bahwa syetan telah membantu proses hidup manusia saat ia dilahirkan. Sebab dengan sentuhannya telah membuat si bayi menangis dan justru itulah yang diharapkan secara medis.

Akan tetapi jika hadits tersebut ditelaah lebih mendalam, terutama jika ditekankan pada kisah kelahiran Maryam dan Isa, barulah akan membuka jalan pemahaman terhadap hadits tersebut. Yang mana untuk memahaminya dibutuhkan kajian sejarah atas kelahiran kedua tokoh tersebut seperti yang sudah penulis ungkapkan pada telaah konfirmatif makalah ini.

Oleh karena itu, dari hadits tentang sentuhan syetan pada setiap anak Adam ini, mengandung pesan pendidikan spiritual yang harus dipenuhi oleh para orang tua dalam menyiapkan generasi penerus yang sesuai dengan harapan orang tua dan harapan agama. Hal ini seperti yang telah dilakukan oleh keluarga Imran, dan kisah keluarga lainnya yang shaleh sehingga mendapatkan keturunan yang shaleh pula seperti keluarga Nabi Ibrahim. Walaupun dilain pihak Allah tidak menjamin adanya anak yang shaleh bagi orang tua yang shaleh seperti kejadian yang terjadi pada Nabi Nuh yang tidak dapat menyelamatkan anaknya Kan’an. Sebab hal itu merupakan hak Allah yang tidak dapat dipungkiri dan sebagai ujian keimanan bagi manusia.

Islam memberikan anjuran kepada ummatnya untuk memberikan pendidikan sebaik-baiknya kepada calon janin, saat mengandung dan setelah bayi dilahirkan. Seperti yang telah dilakukan Hannah binti Fakuz istri Imran yang telah melahirkan Maryam. Adapun pentingnya mentarbiyah anak selama dalam kandungan adalah hikmah Ilahiyyah yang menghubungkan antara kesholihan bapak ibu dengan anaknya selagi di alam kandungan. Karena itu, sangatlah patut bagi para orang tua, khususnya para ibu selagi dalam masa hamil, hendaknya mereka banyak bersabar, banyak beramal sholih, berdo’a, berdzikir, tilawah (membaca) al-Qur’an, dan amalan-amalan sunnah lainnya dengan ikhlas, tawakkal, penuh pengharapan kepada-Nya akan lahirnya seorang anak yang shaleh. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dan kebalikannya, bahwa kecenderungan seorang ibu yang sedang hamil kepada kebatilan, senang dengan tontonan-tontonan batil, pendengaran batil, dan lalai dalam hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya akan sangat berpengaruh negatif bagi bayi yang ada dalam kandungannya. Fakta dan ilmu kedokteran membuktikan bahwa wanita yang hamil yang banyak tingkahnya, bayi yang dikandungnya akan ikut bertingkah banyak. Sedang wanita yang hamil yang banyak diam dan tenang, bayinya ikut tenang tidak banyak bertingkah. Ini adalah hubungan antara ibu dengan bayi yang dikandungnya secara jasmani yang tentunya hubungan keduanya secara rohani. Sebab perilaku kejiwaan seorang ibu yang sedang hamil akan berpengaruh besar pola kejiwaan janin yang dikandungnya.[32]

I. Penutup

Dari pembahasan yang telah dilakukan untuk menelaah hadits tentang sentuhan syetan pada setiap anak Adam, dapat disimpulkan bahwa untuk memahami hadits tersebut dapat dilakukan dengan cara :

1.      Pemahaman dengan balaghi majazi, pada ‘sentuhan syetan’ yang dapat dipahami sebagai godaan syetan kepada manusia, sebab syetan tidak akan rela jika manusia tetap berada pada jalan fitrahnya yang lurus.

2.      Pemahaman dengan makna qiyas, pada ‘syetan’ yang dipahami sebagai segala bentuk keburukan, untuk mendapatkan makna yang lebih sinkron dengan kajian ilmiah yang empiris.

3.      Pemahaman dengan bahasa kinayah, bahwa hadits tersebut merupakan matsal yang dinisbatkan kepada Maryam dan Isa yang terlahir dari keluarga yang shaleh.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Hafshoh as-Salafi, Mentarbiyah anak dalam kandungan, diakses dari website http://dianbilqis.multiply.com/journal/item/45

Bahreisy, Salim dan Bahreisy, Said, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, edisi revisi, Surabaya : PT. Bina Ilmu, 2005

Bisri, Adib dan Munawwir AF, al-Bisri Kamus Arab-Indonesia Indonesia-Arab, Surabaya : Pustaka Progresif, 1999

CD ROM al-Maktabah asy-Syamilah, http/www.e-shameela.ws

CD ROM Mausu’ah Hadits asy-Syarif, Global Islamic Software Company, 1997.

Choiry, Muttaqin “Membanting Kritik Abu Rayyah”. Dalam http: www.blaxraan.blogspot.com-2009-01-mebanting-kritik-abu-rayyah.html.

http://ahsinmuslim.wordpress.com/2008/02/06/mengapa-bayi-tatkala-lahir-selalu-menangis/

Muslim, Moh. Akib “Pandangan Abu Rayyah Tentang Adalah As-Sahabat”, Dalam http: http://www.akibm.blogspot.com-2008-12-pandangan mahmud abu rayyah.htm

Shihab, M. Quraish, Sunnah-Syiah Beragandengan Tangan ! Mungkinkah ? Kajian atas Konsep dan Pemikiran. Cet.II .  Jakarta: Lentera Hati, 2007.

Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Volume.2, cet vi, Tangerang : Lentera Hati, 2006

Taufiq, Muhammad, Qur’an In Word ver. 1.3.

Wirjodiardjo, Muljono, Mengapa Bayi Lahir Menangis, sebuah konsultasi online dengan dokter ahli, diakses dari http://tanyatini.blogspot.com/2008/09/mengapa-bayi-yang-baru-lahir-menangis.html

Yurico, Renaldy P, Hikayat-hikayat Iblis, Surabaya : Jawara, 2006.


[1] Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Warad, Shahih Muslim no. hadits 4364. Pada kitab al-Fadho’il, dan bab Fadho’il ‘Isa.

[2] Moh. Akib Muslim, “Pandangan Abu Rayyah Tentang Adalah As-Sahabat”, Dalam http: http://www.akibm.blogspot.com-2008-12-pandangan mahmud abu rayyah.htm

[3] Muttaqin Choiry. “Membanting Kritik Abu Rayyah”. Dalam http: http://www.blaxraan.blogspot.com-2009-01-mebanting-kritik-abu-rayyah.html.

[4] M. Quraish Shihab. Sunnah-Syiah Beragandengan Tangan ! Mungkinkah ? Kajian atas Konsep dan Pemikiran. Cet.II .  Jakarta: Lentera Hati, 2007.

[5] Adib Bisri dan Munawwir AF, al-Bisri Kamus Arab-Indonesia Indonesia-Arab, (Surabaya : Pustaka Progresif, 1999) hlm. 686.

[6] Ibib, hlm. 716.

[7] Ibid, hlm. 712.

[8] Ibid, hlm. 454.

[9] Ibid, hlm. 665.

[10] HR. Bukhari pada Shahihnya, kitab do’a-do’a, bab do’a jika hendak mendatangi istrinya, no. hadits 5909. Riwayat lain yang senada dengan hadits tersebut antara lain HR. Bukhari no. 138, 3031, 3041, 4767, 6847, HR. Muslim no. 2591, HR. at-Tirmidzi no. 1012, HR. Abu Dawud no. 1846, HR. Ibnu Majah no. 1909, dan HR. Ahmad no. 1770, 1809, 2069, 2424, 2466, dan 2115.

[11] HR. Muslim pada Shahihnya , kitab al-Qadar, bab Makna Kullu insan yuladu ‘ala al-fithrah, no. hadits, 4807. Riwayat lain yang senada antara lain HR. Bukhari no. 1270, 1271, 1295, 1296, HR. Muslim no. 4803, 4804, 4805,4806, HR. at-Tirmidzi no. 2064, HR. Abu Dawud no. 4091, HR. Ahmad no. 6884, 7132, 7387, 8206, 8739, 8949, 9851, dan HR. Malik no. 507.

[12] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, juz 12, hlm. 405.

[13] Al-Muntaqi, Syarh al-Muwaththa’, Juz 2, hlm. 71.

[14] QS. Al-A’raaf ayat 200-2001

[15] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hlm. 533.

[16] Ibid, hlm. 534.

[17] Az-Zamakhsari, al-Kassaaf, juz 2, hlm. 328-329.

[18] Lihat pada QS. Al-A’raaf ayat 12 – 17, QS. Al-Hijr ayat 36 – 40, QS. Shaad ayat 79 – 83.

[19] QS. Ali Imran, ayat 36.

[20] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, edisi revisi (Surabaya : PT. Bina Ilmu, 2005), hlm. 53.

[21] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Volume.2, cet vi, (Tangerang : Lentera Hati, 2006) hlm. 77-82.

[22] QS. Ar-Rum, ayat 30. Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.

[23] Lihat QS. Az-Zukhruuf, ayat 57.

[24] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, hlm. 76

[25] Lihat QS. Al-Anfal ayat 28.

[26] Abu Hafshoh as-Salafi, Mentarbiyah anak dalam kandungan, diakses dari website http://dianbilqis.multiply.com/journal/item/45, tgl. 18 Oktober 2010.

[27] Al-Alusy dalam menafsirkan QS. Al-Ghafir ayat 65, hlm. 125.

[28] Lihat QS. Ali Imran ayat 34.

[29] Az-Zamakhsari, al-kasysyaaf, juz 1, hlm. 271.

[30] Lihat HR. Bukhari no. 3038.

[31] Muljono Wirjodiardjo, Mengapa Bayi Lahir Menangis, sebuah konsultasi online dengan dokter ahli, diakses dari http://tanyatini.blogspot.com/2008/09/mengapa-bayi-yang-baru-lahir-menangis.html, pada tgl. 18 Oktober 2010.

[32] Abu Hafshoh as-Salafi, Mentarbiyah anak dalam kandungan.

2 Balasan ke STUDI HADITS

  1. rumadi berkata:

    ass. wahai sdrku, mhn ijin sy ambil tulisan njenengan yang bagus ini. jazakallah. wass

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s