KAJIAN ISLAM

PENDEKATAN PENDIDIKAN DALAM KAJIAN ISLAM

A. Pendahuluan

Islam dan segala macam bentuk kajian yang berkaitan dengannya telah lahir sejak empat belas abad yang lalu. Tentunya berbagai cabang ilmu pun telah terlahir dari berbagai sudut pandang pemikirnya, yang selalu tekun dan kreatif dalam mengadakan berbagai macam penelitian ilmiah berkaitan dengan Islam, baik ditinjau sebagai agama yang diyakini para pemeluknya sehingga membentuk struktur sosial dan segala hal yang dijadikan kajian atasnya, atau Islam yang ditinjau sebagai pokok dari ilmu dan keilmuan.

Islam sebagai agama, telah dijadikan sebagai fenomena sosial sekaligus menjadi daya dorong kehidupan ataupun sebagai pattern of reference dalam kehidupan. Dengan demikian Islam sebagai agama merupakan petunjuk dari Allah swt yang tertuang dalam bentuk kaidah-kaidah perundangan yang ditujukan kepada orang-orang yang berakal budi, supaya mereka mampu berusaha di jalan yang benar dalam rangka memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat nanti. Karena itu agama bukanlah produk pemunculan getaran hati manusia sendiri, melainkan perwujudan kehendak Tuhan yang dijabarkan dalam bentuk petunjuk dan bimbingan untuk kehidupan manusia di alam nyata dan di alam metefisis.[1]

Di satu sisi, Islam juga memberikan prinsip-prinsip landasan bagi manusia untuk mengembangkan potensi kejiwaan yang berupa berfikir, berkehendak, berperasaan, dan lain sebagainya, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai sumber hukum sekaligus sumber ilmu dan keilmuan. Terlebih lagi ajaran Islam yang menekankan pada keseimbangan, keserasian, dan keselarasan antara pribadi dengan masyarakatnya, alam sekitarnya, juga dengan Allah sebagai Maha Pencipta, juga antara akal dan keimanan.

Berdasar pada pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa Islam telah menempatkan suatu hal yang dapat dijadikan sebagai pendongkrak kebangkitan kehidupan manusia di berbagai bidang. Hal tersebut adalah pendidikan, yang telah menjadi agenda utama dalam memperbaiki kehidupan dan keadaan manusia. Kepedulian Islam tersebut antara lain terlihat dari wahyu yang turun pertama yakni surat al-Alaq ayat 1-5. Dalam ayat tersebut setidaknya terdapat lima komponen utama dalam pendidikan, yaitu guru (Allah swt), murid (Muhammad saw), sarana dan prasarana (kalam), metode pengajaran (iqra’ yang berarti membaca, menelaah, mengobservasi, mengkategorisasi, membanding, menganalisa, menyimpulkan dan memverifikasi), dan kurikulum (sesuatu yang tidak diketahui).[2] Lain dari pada itu, masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan tentang pentingnya pendidikan. Atas dasar inilah dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an adalah kitab pendidikan, mengingat begitu besar perhatiannya terhadap masalah pendidikan.

Dari beberapa pandangan tersebut, ternyata antara Islam sebagai agama tidak dapat terlepas dari konsep pendidikan secara teoretis maupun pragmatis. Karena pada dasarnya, Islam sebagai agama yang memberikan ajaran tentang tata kehidupan umat manusia telah mencerminkan suatu proses pendidikan dengan visi, misi dan tujuan yang jelas, yakni mencapai ridha Allah swt.

Akan tetapi jika memperhatikan bahwa Islam adalah suatu objek kajian keilmuan, maka pendidikan pun dapat menempatkan dirinya sebagai suatu konsep yang dapat membentuk sikap keberagamaan atau keislaman pada suatu struktur kehidupan sosial manusia. Hal ini menjadi hal yang wajar, karena Allah swt telah menciptakan manusia dengan fithrah untuk selalu berada dalam dunia pendidikan, dengan dorongan agar menjadi manusia yang lebih maju dan menjadi manusia yang lebih baik. Dengan demikian, pendidikan yang di bentuk pun akan selalu mengikuti bagaimana proses kehidupan manusia serta kemajuan-kemajuan yang telah diraihnya. Bahkan ada kalanya proses pendidikan dapat mempengaruhi pemahaman dan interpretasi seseorang terhadap Islam sebagai suatu keyakinan.[3]

B. Ilmu Pendidikan Sebagai Langkah Pendekatan

Sudah sekian banyak para pakar mengemukakan teori pendidikan. Akan tetapi dalam perjalanannya teori tentang pendidikan tersebut selalu saja berkembang sesuai dengan kebutuhan hidup manusia dan tuntutan zaman, walaupun secara mendasar teori tersebut selalu bermuara pada sisi yang sama yaitu transformasi ilmu pengetahuan yang diarahkan pada pembentukan karakteristik kepribadian manusia secara fisik maupun non fisik.[4]

Ditinjau dari sifatnya, ilmu pendidikan merupakan disiplin keilmuan tersendiri yang otonom, dengan pengertian bahwa : Pertama, Ilmu pendidikan mengkaji sendiri dan menghasilkan konsep-konsep dasar dan teori-teori tentang pendidikan. Kedua, Ilmu pendidikan juga menerapkan konsep-konsep dan teori-teori yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu lainnya seperti filsafat, sosiologi, psikologi, antropologi dan lain sebagainya yang memang dibutuhkan baik untuk memperkaya konsep dan teori kependidikan maupun meningkatkan upaya rekayasa pendidikan. Lain dari pada itu, ilmu pendidikan juga digolongkan ke dalam rumpun ilmu-ilmu perilaku sehingga unsur rekayasa perubahan perilaku memegang peranan penting, disamping itu ilmu pendidikan dapat digolongkan ke dalam rumpun ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya yang bersifat deskriptif dan reflektif. Pengelompokan ilmu pendidikan ke dalam rumpun ilmu sosial dan budaya serta ilmu perilaku diperkuat oleh pertimbangan bahwa pendidikan tidak hanya berkenaan dengan perilaku atau behavior yang dapat diamati, melainkan berkenaan dengan perbuatan yang mengandung unsur-unsur yang sulit diamati dan subyektif.[5]

Sejalan dengan teori tersebut, maka pendidikan dapat dijadikan sebagai sarana investasi bagi sumberdaya manusia. Dengan alasan bahwa pendidikan telah memberikan kreativitas, kesadaran estetis, serta sosialisasi norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik bagi seorang individu. Adapun investasi yang lebih umum dari pendidikan adalah memberikan dorongan dan kesadaran bagi manusia untuk selalu belajar sepanjang hayat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih maju.[6]

Demikian pula pendidikan Islam yang berjangkauan luas, seperti yang diungkapkan Muhammad S.A Ibrahimy dalam kutipan Muzayyin Arifin menyatakan bahwa nafas keislaman dalam pribadi seoarang muslim merupakan elane vitale yang menggerakkan perilaku yang diperkokoh dengan ilmu pengetahuan yang luas, sehingga mampu memberikan jawaban yang tepat dan berguna terhadap tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu pendidikan Islam memiliki ruang lingkup yang berubah-ubah menurut waktu yang berbeda-beda. Ia bersikap lentur terhadap perkembangan kebutuhan umat manusia dari waktu ke waktu.[7]

Dari beberapa pernyataan diatas, konsep pendidikan telah terarah kepada suatu konsep ilmu yang terstruktur dan sistematis. Oleh sebab itu pendidikan telah dapat dijadikan sebagai tolok ukur atas kemajuan keilmuan manusia hingga keberadaban suatu bangsa.

Untuk membentuk batang tubuh ilmu pendidikan telah ditentukan titik tolak pada landasan filosofis, psikologis dan sosial budaya yang menggambarkan rincian dari objek studi ilmu pendidikan. Terdapat 5 (lima) komponen inti yang membangun ilmu pendidikan, yang antara lain :

1.      Kurikulum, yaitu seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Pada prinsipnya kurikulum mengandung arti : Sebagai program pengajaran, Sebagai isi pelajaran, Sebagai pengalaman belajar yang direncanakan, Sebagai pengalaman di bawah tanggung jawab sekolah, Sebagai rencana tertulis untuk dilaksanakan. Jika dilihat dari sisi perannya, kurikulum berperan sebagai : alat yang konservastif yang mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial kepada generasi muda, alat kritis dan evaluatif yang aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan menekankan unsur berfikir kritis, serta alat untuk kreatif yang mencipta dan menyusun suatu yang baru sesuai kebutuhan sosial masyarakat untuk masa sekarang dan yang akan datang. Selain itu kurikulum memiliki kompetensi yang dikembangkan yang berupa, kompetensi akademik penguasaan ilmu pengetahuan, ketrempilan hidup, pengembangan moral dan dan semangat untuk menjadi lebih baik, pembentukan karakter, semangat bekerja sama, dan apresiasi estetika terhadap dinia sekitarnya.

2.      Belajar, merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan denga proses pelaksanaan interaksi ditinjau dari sudut peserta didik. Kegiatan atau tingkah laku belajar terdiri dari kegiatan psikis dan fisik yang saling bekerjasama secara terpadu dan komprehensif. Sejalan dengan itu, belajar dapat dipahami sebagai usaha atau melatih supaya mendapat kepandaian. Sebab dalam implementasinya belajar adalah kegiatan individu dalam memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan perubahan perilaku.

3.      Mendidik dan mengajar, komponen ilmu pendidikan jika ditinjau dari sudut pendidik atau guru. Dalam hal ini, pendidik yang telah mempunyai tujuan tertentu, hendaknya melakukan interaksi dalam proses belajar mengajar dengan memberikan rangsangan kepada peserta didiknya untuk selalu dapat meningkatkan jalannya proses belajar. Oleh karena itu, pendidik seyogyanya memiliki model dan proses pembelajaran yang didalamnya dapat mengakomodir beberapa hal yang ada dalam diri peserta didiknya baik dari segi cara belajarnya maupun kondisi psikologis para peserta didik yang dihadapinya.

4.      Lingkungan pendidikan, adalah komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan situasi yaitu interaksi yang berlangsung beserta unsur-unsur penunjangnya.

5.      Penilaian, merupakan komponen yang berkenaan dengan cara mengetahui tujuan yang ingin dicapai melalui interaksi yang telah terwujud dari diri peserta didik.[8]

Dari sekian komponen yang membangun ilmu pendidikan, merupakan satu kesatuan yang akan mengarahkan kepada suatu tujuan diadakannya pendidikan. Dengan objek pendidikan yang menempatkan tiga ranah pokok potensi akademik yang harus dikembangkan, sebagaimana konsep matra pendidikan yang dikemukakan oleh Bloom yang disebut sebagai taksonomi Bloom, yakni kognitif, afektif dan psikomotorik.[9] Demikian pula pendidikan Islam yang berorientasi pada penumbuhkembangan potensi peserta didik serta mengarahkannya sesuai dengan arah tujuan hidup manusia menurut ajaran Islam.[10] Kaitannya dengan hal tujuan hidup manusia tersebut, pendidikan Islam berupaya menumbuhkembangkan potensi yang ada dalam diri manusia yang berupa potensi fisik, psikis, dan rohani.[11] Dari ketiga aspek yang dijadikan objek pendidikan, dan dikarenakan mempunyai fungsi dan karakteristik yang berbeda, maka diperlukan langkah pendekatan yang hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang hendak dicapai.

Ilmu pendidikan sebagai langkah pendekatan, dengan melihat objek studi yang ditelaahnya, maka dapat dibedakan dua struktur yang ada dalam tatanan ilmu pendidikan iti sendiri, yaitu struktur internal yang memperlihatkan tatanan di dalam ilmu pendidikan itu sendiri dan struktur eksternal yang memperlihatkan interaksi ilmu pendidikan dengan ilmu-ilmu lainnya. Sehingga pengkajian dan pengembangan teori-teori ilmu pendidikan digunakan pendekatan yang bersifat deduktif spekulatif dan induktif empirik.[12]

Dan ketika pendidikan sebagai langkah pendekatan pada kajian Islam, maka haruslah disadari bahwa Islam sebagai agama dan ajaran yang sarat dengan nilai-nilai sebagaimana yang dimaksudkan oleh pendidikan Islam. Jadi, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Islam merupakan sebuah aturan dan tatanan moralitas yang absolut dan merupakan sumber dari tata nilai bagi penganutnya. Dengan demikian, menurut apa yang dikutip Ramli Zakaria dari Superka bahwa telah melakukan kajian dan merumuskan tipologi dari berbagai pendekatan pendidikan nilai yang berkembang dan digunakan dalam dunia pendidikan. Dalam kajian tersebut dibahas pendekatan pendidikan nilai berdasarkan kepada berbagai literatur dalam bidang psikologi, sosiologi, filosofi, dan pendidikan yang berhubungan dengan nilai. Pendekatan-pendekatan tersebut adalah:

1.      Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach)

2.      Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach)

3.      Pendekatan analisis nilai (values analysis approach)

4.      Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach)

5.      Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach)[13]

C. Aplikasi Pendekatan Pendidikan Dalam Kajian Islam

Sebagaimana telah diketahui bahwa di satu sisi Islam sebagai objek kajian dan di sisi lain Islam merupakan suatu agama dan ajaran bagi para penganutnya yang hidup dikalangan masyarakat yang terbentuk dari sosialisasi kemasyarakatan maupun interaksi dengan nilai ajaran itu sendiri yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian secara tidak langsung, Islam telah diyakini sebagai ajaran karena adanya proses interaktif pada pembentukan suatu sistem yang disebut dengan pendidikan. Sehingga pembicaraan seputar Islam dan pendidikan tetap akan menjadi hal yang menarik, terutama dalam kaitannya dengan upaya membangun sumber daya muslim. Dan Islam pun sebagai pandangan hidup yang diyakini mutlak kebenarannya akan memberikan arah dan landasan etis serta moral dalam pendidikan.

Mengacu pada pernyataan tersebut, penulis berasumsi bahwa Islam sebagai agama yang merupakan sarana penanaman nilai-nilai melalui pendidikan. Oleh karena itu untuk mengadakan pengkajian terhadap Islam tersebut diperlukan pendekatan pendidikan yang mengacu pada pendidikan nilai pula. Dan seperti yang telah penulis ungkap diatas, bahwa pendidikan nilai dapat dilaksanakan dengan 5 (lima) pendekatan yang uraiannya adalah sebagai berikut:

1.      Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Yang tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini adalah: Pertama, diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa; Kedua, berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. Pendekatan ini digunakan lebih banyak dalam penanaman nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya. Para penganut agama memiliki kecenderungan yang kuat untuk menggunakan pendekatan ini dalam pelaksanaan program-program pendidikan agama. Bagi penganut-penganutnya, agama merupakan ajaran yang memuat nilai-nilai ideal yang bersifat global dan kebenarannya bersifat mutlak. Nilai-nilai itu harus diterima dan dipercayai. Oleh karena itu, proses pendidikannya harus bertitik tolak dari ajaran atau nilai-nilai tersebut. Seperti dipahami bahwa dalam banyak hal batas-batas kebenaran dalam ajaran agama sudah jelas, pasti, dan harus diimani. Ajaran agama tentang berbagai aspek kehidupan harus diajarkan, diterima, dan diyakini kebenarannya oleh pemeluk-pemeluknya. Keimanan merupakan dasar penting dalam pendidikan agama.

2.      Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach). Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi. Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama. Pertama, membantu dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong untuk mendiskusikan alasan-alasan argementatif ketika memilih nilai dan
posisinya dalam suatu masalah moral.

3.      Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilema moral yang bersifat perseorangan. Ada dua tujuan utama pendidikan moral menurut pendekatan ini. Pertama, membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah sosial, yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. Kedua, membantu siswa untuk menggunakan proses berpikir rasional dan analitik, dalam menghubung-hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai mereka. Adapun langkah-langkah analisis nilai adalah Langkah analisis nilai: mengidentifikasi dan menjelaskan nilai yang terkait, mengumpulkan fakta yang berhubungan, menguji kebenaran fakta yang berkaitan, menjelaskan kaitan antara fakta yang bersangkutan, merumuskan keputusan moral sementara, menguji prinsip moral yang digunakan dalam pengambilan keputusan.

4.      Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga. Pertama, membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri; Ketiga, membantu siswa, supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri.

5.      Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Tujuan utama pendidikan moral berdasarkan kepada pendekatan ini. Pertama, memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan mahupun secara bersama-sama, berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri; Kedua, mendorong siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam pergaulan dengan sesama, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat.[14]

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa beberapa pendekatan yang dilakukan lebih bertujuan untuk memberikan penanaman nilai-nilai pada diri siswa (baca : individu), sebagaimana Islam yang menanamkan ajaran-ajaran bagi penganutnya, sehingga membentuk pola pendidikan yang Islami.

Islam sebagai ajaran moral dan etis, telah diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. Sebagai bukti hal tersebut adalah sebagaimana yang terungkap dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ahmad didalam musnadnya dengan nomor hadits 8595, yang artinya “Sesungguhnya aku telah diutus untuk menyempurnakan kebaikan ahlak”.

Selain apa yang penulis ungkap diatas, Islam juga telah datang dengan sebuah kitab al-Qur’an yang menjadi landasan dari segala sumber hukum Islam, dan adanya hadits-hadits yang menjadi sunnah. Dengan inilah Islam membentuk suatu sistem yang akhirnya dijadikan sebagai tindak sikap dan perilaku bagi para pemeluknya dalam kehidupan bersosial. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan zaman, dengan tetap eksisnya Islam sebagai agama dan ajaran yang telah diyakini sebagai hal yang selalu sesuai dengan keadaan tempat dan masa.

Melihat kondisi tersebut, dapat dipahami bahwa pembentukan kehidupan sosial kemasyarakatan pada masyarakat muslim, tentunya tidak terlepas dari bagaimana komunitas tersebut mempelajari dan memberikan pelajarannya tentang kaidah-kaidah Islam yang tertuang dalam al-Qur’an dan Hadits serta bagaimana tingkat pemahamannya dalam menginterpretasikan kedua sumber tersebut, yang tentunya akan sangat berpengaruh pada pembentukan budaya dan pola kehidupan sosial religius pada suatu masyarakat tertentu. Dengan demikian pendekatan pendidikan telah nampak jelas pada transfer pengetahuan keagamaan baik dengan cara yang disengaja melalui kegiatan formal ataupun nonformal.

Kaitannya dengan hal ini, Abudin Nata membagi tiga kelompok yang saling kontroversial mengenai pemahamannya tentang Islam dan pendidikan. Ketiga kelompok tersebut antara lain :

1.      Mereka yang memahami dan meyakini bahwa Islam sebagai agama teakhir dan sempurna, dengan ajarannya mencakup segala aspek kehidupan umat manusia. Kelompok ini dijuluki dengan universalis, dan mereka bersikap radikal dalam memahami Islam dan umumnya skriptualis.

2.      Kelompok yang berpendapat bahwa Islam hanya mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya, mengajak manusia kembali pada jalan yang mulia dengan menjunjung tinggi budi pekerti yang luhur. Sedangkan masalah duniawi termasuk didalamnya pendidikan adalah sebagai hak otonomi yang diberikan kepada manusia untuk mengaturnya berdasarkan pada kemampuan akal budi yang dimilikinya.

3.      Adapun kelompok ketiga berpendapat bahwa Islam bukanlah sistem kehidupan yang praktis dan baku, melainkan sebuah sistem nilai dan norma yang secara dinamis harus dipahami dan diterjemahkan berdasarkan setting sosial dan dimensi ruang dan waktu tertentu. Dengan kata lain, dalam hal pendidikan, Islam hanya menyediakan bahan baku, sedangkan untuk menjadi sebuah sistem yang operasional, manusia diberi kebebasan untuk membangun dan menginterpretasikannya, sehingga tidak akan ada pendidikan Islam yang baku, melainkan manusia dirangsang untuk menciptakan pendidikan yang paling ideal.[15]

D. Penutup

Sebagai suatu objek kajian studi, Islam akan selalu menarik untuk dijadikan sebagai fenomena bahan kajian. Sebab segi kompleksitasnya yang mampu membangun suatu sistem tertentu telah banyak mempengaruhi berbagai teori keilmuwan yang berkembang kemudian.

Ditilik dari konteks awalnya, yang mana Islam sebagai agama telah memberikan bahan ajaran yang menyeluruh sehingga memberikan persepsi bahwa Islam hadir dengan konsep pendidikan bagi umat manusia. Sehingga di beberapa sisi terlihat pembentukan suatu interaksi yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan, terutama pada penanaman nilai-nilai ajarannya yang luhur untuk membentuk suatu kultur sosial yang religius. Hal ini dilakukan dengan cara proses trasfer pengetahuan tentang tata nilai dan etika yang menyentuh ranah kognitif, dan untuk mendapatkan tindak lanjut pada proses pendidikan afektif dan kinerja psikomotoriknya. Walaupun pada intinya, segala respons yang dibentuknya didasarkan pada cara pandang dan cara pemahamannya dalam interpretasi sumber keilmuannya yang memang masih bersifat global.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Muzayyin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, edisi revisi, Jakarta : Bumi aksara, 2008.

Asifudin, Ahmad Janan, Mengungkit Pilar-pilar Pendidikan Islam (Tinjauan Filosofis), Yogyakarta : Sunan Kalijaga Press, 2009.

Muchsin, Bashori dan Wahid, Abdul, Pendidikan Islam Kontemporer, Bandung : PT. Refika Aditama, 2009

Nata, Abudin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung : Angkasa, 2003.

Sagala, Syaiful, Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, Bandung : Alfabeta, 2007.

Sardiman AM., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : Rajawali Press, 1990.

Tafsir, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islami, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006.

Zakaria, Teuku Ramli, “Pendekatan-Pendekatan Pendidikan Nilai Dan Implementasi Dalam Pendidikan Budi Pekerti”, http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/message/131


[1] Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, edisi revisi (Jakarta : Bumi aksara, 2008), hlm. 86.

[2] Abudin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Bandung : Angkasa, 2003), hlm. 221.

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 41-43.

[4] Bashori Muchsin dan Abdul Wahid, Pendidikan Islam Kontemporer, (Bandung : PT. Refika Aditama, 2009), hlm. 3.

[5] Syaiful Sagala, Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan (Bandung : Alfabeta, 2007), hlm. 8.

[6] Bashori Muchsin dan Abdul Wahid, hlm. 50.

[7] Muzayyin Arifin, hlm. 5.

[8] Syaiful Sagala, hlm. 9-11

[9] Matra kognitif mencakup knowledge, comprehension, analysis, synthesis, evaluation, application. Matra afektif yang mencakup receiving, responding, valuing, organization, characterization. Dan matra psikomotorik mencakup initiatory level, pre-routine level, dan routinized level. Lihat pada Sardiman AM., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta : Rajawali Press, 1990), hlm. 25.

[10] Ahmad Janan Asifudin, Mengungkit Pilar-pilar Pendidikan Islam (Tinjauan Filosofis) (Yogyakarta : Sunan Kalijaga Press, 2009), hlm. 62.

[11] Potensi fisik yang berkenaan dengan panca indra dan unsur biologis lainnya. Sedangkan potensi psikis menyangkut akal yang meliputi rasio dan hati yang berpotensi untuk merasakan dan meyakini, serta adanya nafsu yang harus dikendalikan. Adapun rohani adalah hal yang berkenaan dengan jiwa dan potensi yang apabila dididik dan dibina dengan baik dapat mendekatkan diri pemiliknya kepada Allah swt. Lihat pada ibid, hlm. 14.

[12] Pendekatan deduktif spekulatif diterapkan dalam penetapan konsep dan cara-cara kependidikan yang bersifat umum dan mendasar, sedangkan pendekatan induktif empirik diterapkan dalam pengkajian dan pengembangan konsep dan cara-cara kependidikan yang bersifat khusus dan teknis, yang penerapannya dapat berupa pengujian hipotesis, grounded research, ataupun studi pengembangan. Lihat pada Syaiful Sagala, hlm. 13.

[13] Teuku Ramli Zakaria, “Pendekatan-Pendekatan Pendidikan Nilai Dan Implementasi Dalam Pendidikan Budi Pekerti”, http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/message/131, diakses pada tgl. 03 Mei 2010

[14] Ibid,…

[15] Abudin Nata, Katipa Selekta…, hlm. 222-224.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s