Motivasi Belajar

MOTIVASI BELAJAR

1.      Pengertian belajar dan motivasi belajar.

Dalam dunia pendidikan, proses belajar merupakan hal yang manjadi pembahasan utama. Sebab dengan adanya proses tersebut berarti telah melaksanakan bagian dari proses pendidikan. Ada berbagai definisi yang diungkapkan oleh para pakar untuk membahas tentang definisi belajar. Belajar secara bahasa dimaknai sebagai berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, atau diartikan sebagai berlatih, serta berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.[1]

Ada kalanya proses belajar dan mengajar merupakan dua kegiatan yang tunggal, akan tetapi memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan penyediaan kondisi yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku maupun kesadaran diri sebagai pribadi.[2]

Secara lebih terperinci Sardiman mengemukakan teori belajar mengajar sebagai berikut :

a. Belajar pada hakekatnya menyangkut potensi manusiawi dan kelakuannya. b. Belajar memerlukan proses dan pentahapan serta kematangan diri. c. Belajar akan lebih mantap dan efektif bila didorong dengan motivasi, baik motivasi internal maupun eksternal. d. Belajar merupakan proses percobaan dan pembiasaan. e. Kemampuan belajar siswa harus diperhitungkan dalam rangka menentukan isi pelajaran. f. Belajar dapat dilakukan dengan pembelajaran langsung, kontrol, penghayatan, pengalaman, pengenalan dan peniruan. g. Belajar melalui praktek dan mengalami secara langsung akan lebih efektif dan mampu membina sikap, ketrampilan, dan cara berfikir kritis. h. Kemampuan belajar siswa akan banyak dipengaruhi oleh perkembangan pengalamannya. i. Bahan pelajaran yang bermakna, akan lebih menarik bagi siswa. j. Informasi tentang kelakuan baik, pengetahuan, serta keberhasilan siswa banyak membantu kelancaran dan gairah belajar. k. Belajar sedapat mungkin diubah ke dalam bentuk aneka ragam tugas, sehingga siswa melakukan dialog dalam dirinya atau mengalaminya sendiri.[3]

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono memberikan pernyataan tentang belajar adalah :

a. Perubahan hasil belajar merupakan usaha sengaja dan hasilnya dapat disadari oleh pembelajar. b. Belajar adalah hal yang berkesinambungan dengan pengetahuan dan ketrampilan hasil belajar sebelumnya. c. Perubahan hasil belajar bersifat fungsional. d. Belajar dapat menentukan arah kemajuan dan perubahan perilaku. e. Belajar dapat diperoleh dengan cara yang aktif. f. Hasil belajar akan bersifat permanen dan bertahan cukup lama. g. Kegiatan belajar bertolak kepada suatu tujuan tertentu. h. Dengan belajar dapat membentuk sikap, perilaku dan kepribadian yang menyeluruh dari peserta didik.[4]

Belajar adalah kemampuan intelektual peserta didik untuk membentuk dan mengkonstruksi pengetahuan yang diperolehnya. Kaitannya dengan hal ini Syaiful Sagala membagi pembelajaran dalam dua karakteristik, yaitu : Pertama, dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental peserta didik secara maksimal, bukan hanya menuntut mendengar, mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas peserta didik dalam proses berfikir. Kedua, dalam pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab yang terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir peserta didik yang akan dapat membantunya untuk memperoleh pengetahuan yang dikonstruksikannya sendiri.[5]

Selanjutnya Hamruni dengan konsep edutainmentnya, menyatakan bahwa proses belajar mengajar seyogyanya dilakukan dengan mengoptimalkan cara kerja otak dan memori, motivasi, emosi, metakognisi dan gaya belajar. Sebab pembelajaran yang terjadi akan berlangsung lebih kondusif dan menyenangkan. Hal ini dibangun atas dasar asumsi bahwa pertama, perasaan positif (senang dan gembira) akan mempercepat pembelajaran. kedua,  jika seseorang mampu menggunakan potensi nalar dan emosinya secara jitu, maka ia akan membuat loncatan prestasi belajar yang tidak terduga sebelumnya. ketiga, apabila pembelajar dapat dimotivasi dengan tepat dan diajar dengan cara yang benar, yakni cara yang menghargai gaya belajar dan modalitas belajar siswa, maka siswa tersebut akan mendapatkan hasil belajar yang optimal.[6]

Sedangkan motivasi yang dimaknai sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu, atau usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.[7]

Dari pendefinisian diatas, banyak pakar memberikan asumsi bahwa belajar merupakan perbuatan dan tindakan yang selalu dilakukan baik secara sengaja maupun tidak sengaja yang dapat dipengaruhi oleh motif mengapa seseorang belajar.

Dengan asumsi tersebut motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik yang berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, dan harapan akan cita-cita. Selain itu juga dapat timbul karena faktor ekstrinsik yang berupa penghargaan, pembentukan lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Sehingga motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, dan menjadikan seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat.[8]

Adapun yang dimaksud dengan motivasi belajar adalah kekuatan-kekuatan atau tenaga-tenaga yang dapat memberikan dorongan kepada kegiatan belajar siswa.[9]

Tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi sangat dipengaruhi oleh seberapa besarnya motivasi yang ditimbulkan pada diri individu berarti pula perubahan energi yang dimanfaatkanpun akan semakin besar, serta didahului adanya reaksi-reaksi yang ingin dicapai. Jadi motivasi belajar sebagai sistem bimbingan internal yang berusaha untuk menetapkan fokus anak dalam hal belajar, namun harus berdiri pada dirinya sendiri dan berkompetisi melawan semua hal menarik lain pada eksistensi keseharian.[10]

Selebihnya Sardiman mengemukakan bahwa keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar, dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar dapat tercapai merupakan konsep motivasi belajar. Sehingga motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Adapun peranannya adalah menumbuhkan gairah, rasa senang, dan semangat untuk belajar.[11]

Sedangkan Slavin yang mengembangkan konsep belajar kooperatif memberikan penekanan bahwa motivasi belajar siswa akan terbentuk pada situasi di mana penghargaan kelompok yang didasarkan pada kinerja kelompok akan menciptakan struktur penghargaan interpersonal di mana terdapat daya dorong masing-masing anggota kelompok untuk melakukan usaha maksimal. Sehingga tercipta norma-norma yang pro akademik diantara siswa yang berpengaruh pada pencapaian tujuan yang telah ditentukan.[12]

Dari pandangan-pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa belajar dan motivasi belajar merupakan tindakan yang mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab dengan adanya motivasi belajar telah menumbuhkan daya dorong untuk melakukan aktivitas belajar baik secara individu maupun kelompok, demi pencapaian sebuah tujuan yang dapat memberikan perubahan pada pengetahuan maupun tingkah laku.

2.      Prinsip-prinsip motivasi belajar.

Begitu pentingnya perang motivasi dalam belajar, sebab dengan keberadaannya sangat berarti bagi perbuatan belajar dan merupakan pengarah untuk perbuatan belajar kepada tujuan yang jelas untuk dapat dicapai.[13] Sehingga diharapkan motivasi belajar tersebut muncul dan timbul karena kesadaran, ataupun pengaruh lingkungan yang dapat mempengaruhi keinginan untuk belajar. Lingkungan tersebut bisa dibentuk oleh guru pada proses pembelajaran formal ataupun orang tua yang membentuk lingkungan belajar di rumah, serta kondisi lingkungan lainnya seperti alam sekitar, masyarakat, dan lain-lain yang mendukung proses pembelajaran.

Jika belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang mantab serta diakibatkan oleh pengalaman. Ada banyak perilaku perubahan pengalaman, serta dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar. Para ahli pendidikan dan psikolog sependapat bahwa motivasi amat penting untuk keberhasilan belajar.

Pembahasan motivasi belajar tidak bisa terlepas dari masalah-masalah psikologi dan fisiologi, karena keduanya ada saling keterkaitan. Yang perlu di pahami dalam prinsip-prinsip motivasi belajar adalah sebagai berikut:

  1. Memuji lebih baik daripada mencela. Perlu diketahui bahwa manusia cenderung akan mengulangi perbuatan yang mendapat pujian atau apresiasi dari pihak lain.
  2. Memenuhi kebutuhan psikologi.
  3. Motivasi intrinsik lebih efektif daripada ekstrinsik.
  4. Keserasian antara motivasi.
  5. Mampu manjelaskan tujuan pembelajaran.
  6. Menumbuhkan perilaku yang lebih baik.
  7. Mampu mempengaruhi lingkungan.
  8. Bisa diaplikasikan dalam wujud yang nyata.[14]

Sejalan dengan pernyataan tersebut diatas Keller juga memberikan pandangan atas prinsip motivasi yang lebih dikenal dengan teori ARCS[15] yang sekiranya dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang antara lain :

Attention (Perhatian),  Perhatian peserta didik muncul karena didorong rasa ingin tahu. Oleh sebab itu, rasa ingin tahu ini perlu mendapat rangsangan, sehingga peserta didik akan memberikan perhatian selama proses pembelajaran. Rasa ingin tahu tersebut dapat dirangsang melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks. Apabila elemen-elemen tersebut dimasukkan dalam rencana pembelajaran, hal ini dapat menstimulus rasa ingin tahu peserta didik. Namun, perlu diperhatikan agar tidak memberikan stimulus yang berlebihan, untuk menjaga efektifitasnya.

Relevance (Relevansi), Relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik. Motivasi peserta didik akan terpelihara apabila mereka menganggap bahwa apa yang dipelajarinya memenuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang. Kebutuhan pribadi dikelompokkan dalam 3 (tiga) ketegori yaitu Pertama, motif pribadi yang antara lain kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk berkuasa, dan kebutuhan untuk berafiliasi. Kedua, motif instrumental yang mencakup keberhasilan dalam mengerjakan suatu tugas dianggap sebagai langkah untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut, dan ketiga, motif kultural, yang mana jika tujuan yang ingin dicapai konsisten atau sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang oleh oleh kelompok tertentu.

Confidence (Percaya diri), Merasa diri kompeten atau mampu, merupakan potensi untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa motivasi akan meningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Harapan ini seringkali dipengaruhi oleh pengalaman sukses di masa lampau. Motivasi dapat memberikan ketekunan untuk membawa keberhasilan (prestasi), dan selanjutnya pengalaman sukses tersebut akan memotivasi untuk mengerjakan tugas berikutnya.

Satisfaction (Kepuasan),  Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan. Kepuasan karena mencapai tujuan dipengaruhi oleh konsekuensi yang diterima, baik yang berasal dari dalam maupun luar individu. Untuk meningkatkan dan memelihara motivasi peserta didik, dapat menggunakan pemberian penguatan (reinforcement) berupa pujian, pemberian kesempatan, dsb.

Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan. Secara alami anak-anak selalu ingin tahu dan melakukan kegiatan penjajagan dalam lingkungannya. Rasa ingin tahu ini seyogianya didorong dan bukan dihambat dengan memberikan aturan yang sama untuk semua anak. Berkenaan dengan motivasi ini ada beberapa prinsip yang seyogianya kita perhatikan.

a. Individu bukan hanya didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan biologi, sosial dan emosional. Tetapi disamping itu ia dapat diberi dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari yang dimiliki saat ini. b. Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan mendorong terjadinya peningkatan usaha. Pengalaman tentang kegagalan yang tidak merusak citra diri siswa dapat memperkuat kemampuan memelihara kesungguhannya dalam belajar. c. Dorongan yang mengatur perilaku tidak selalu jelas bagi para siswa. Contohnya seorang murid yang mengharapkan bantuan dari gurunya, dan jika kebutuhan emosinya terpenuhi maka ia pun dapat mencapai sesuatu yang diinginkan. d. Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian seperti rasa rendah diri, atau keyakinan diri. Seorang anak yang temasuk pandai atau kurang juga bisa menghadapi masalah. e. Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar. Kegagalan dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi tergantung pada berbagai faktor. Tidak bisa setiap siswa diberi dorongan yang sama untuk melakukan sesuatu. f. Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi. g. Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terhadap motivasi dan perilaku. h. Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah dan bukan karena ingin belajar. i. Kompetisi dan insentif bisa efektif dalam memberi motivasi, tapi bila kesempatan untuk menang begitu kecil kompetisi dapat mengurangi motivasi dalam mencapai tujuan. j. Sikap yang baik untuk belajar dapat dicapai oleh kebanyakan individu dalam suasana belajar yang memuaskan. k. Proses belajar dan kegiatan yang dikaitkan kepada minat pelajar saat itu dapat mempertinggi motivasi.[16]

3.      Macam-macam motivasi belajar.

Kaitannya dengan motivasi belajar, para pemikir telah memberikan sumbang saran pemikiran demi pengklasifikasian macam motivasi belajar. Banyak dari pemikir tersebut menyepakati bahwa motivasi belajar dibedakan menjadi 2 (dua) bagian, yakni  Motivasi Intrinsik dan Motivasi Ekstrinsik.

  1. Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah dorongan yang berasal dari dalam diri seorang anak atau siswa itu sendiri.[17] Dorongan-dorongan dari dalam diri anak timbul secara sadar dan terarah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan, oleh sebab itu keberadaan motivasi dalam diri anak mempunyai andil dan peran yang besar.

Motivasi yang berasal dari dalam diri anak sendiri, tumbuh dari kebutuhan yang hendak dipenuhi yang menyebabkan seseorang itu melakukan sesuatu. Jika motivasi itu tumbuh dan bangkit dari orang yang belajar itu sendiri, maka kegiatan belajar itu baik (hasil belajarnya efektif dan tahan lama).

Adapun hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi intrinsik adalah: 1) Adanya kebutuhan, yang akan menjadi pendorong bagi anak untuk berbuat dan berusaha. 2) Adanya pengetahuan, Pengetahuan atau pengenalan terhadap diri sendiri sangat penting. Seorang anak yang mengetahui hasil-hasil dan prestasinya sendiri akan merasa senang dan bangga, karena dia mengetahui kekurangan dan kelebihan atau kemajuan yang terjadi pada dirinya. Hal ini pula yang mendorong anak untuk belajar lebih giat. 3) Adanya Aspirasi atau Cita-cita, mungkin bagi anak kecil belum mempunyai cita-cita, sekalipun mempunyai cita-cita, mungkin cita-cita itu hanya sederhana saja tetapi semakin berkembang maka anak akan semakin memahami tentang cita-cita itu, sehingga gambaran mengenai cita-cita semakin jelas dan tegas. Anak ingin menjadi sesuatu, seperti menjadi dokter atau insinyur, cita-cita itulah yang mendorong anak untuk terus berusaha dan belajar demi mencapai tujuannya. Di samping itu cita-cita dari seorang anak sangat dipengaruhi oleh kemampuannya, anak yang mempunyai kemampuan baik, umumnya mempunyai cita-cita yang realistik, jika dibandingkan dengan anak yang tingkat kemampuannya rendah. [18]

Dari ketiga macam motivasi di atas dapat diambil satu kesimpulan sebagai bentuk, bahwa dasar kebutuhan anak adalah memperoleh pendidikan dan bimbingan, hal ini diperlukan untuk menentukan status manusia sebagaimana mestinya.

  1. Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah tenaga-tenaga pendorong yang berasal dari luar anak. Seorang guru atau pendidik dapat memberikan motivasi terhadap anak didiknya dengan beberapa cara diantaranya dalam proses belajar mengajar, guru dapat menggunakan metode yang tepat dan relevan. Sehingga anak didik terangsang untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar.

Hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi ekstrinsik adalah:

1)      Ganjaran (disesuaikan dengan situasi dan kondisi). Ganjaran merupakan alat pendidikan represif yang bersifat positif. Di samping itu fungsinya sebagai alat pendidikan represif positif, ganjaran juga merupakan alat motivasi, yaitu alat yang bisa menimbulkan motivasi ekstrinsik. Ganjaran dapat menjadikan pendorong bagi anak untuk belajar lebih baik dan lebih giat lagi. Seorang guru atau pendidik dapat memilih macam-macam ganjaran sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing.[19] Pada garis besarnya, ganjaran dibedakan kedalam empat macam, yaitu: a) Pujian, pujian adalah ganjaran yang paling mudah dilaksanakan. b) Penghormatan, Penghormatan ada dua macam yang harus diberikan yaitu,  Pertama, berupa penobatan, dalam arti anak yang mendapat prestasi diumumkan atau ditampilkan di depan kelas, Kedua berupa penghormatan berbentuk pemberian kekuasaan atau kesempatan untuk melakukan sesuatu. c) Hadiah, hadiah adalah ganjaran yang berbentuk pemberian yang berupa barang, atau disebut juga ganjaran materil. Tanda Penghargaaan adalah bentuk ganjaran yang bukan dalam bentuk barang, tetapi dalam bentuk surat atau sertifikat sebagai simbol atau tanda penghargaan yang diberikan atas prestasi yang dicapai oleh anak.

2)      Hukuman, Hukuman merupakan alat pendidikan yang tidak menyenangkan, alat pendidikan yang bersifat negatif, namun demikian dapat juga menjadi alat motivasi dan alat pendorong untuk mempergiat belajar siswa. Hukuman adalah  tindakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja, sehingga menimbulkan nestapa. Dan dengan adanya nestapa itu akan menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.[20]

Sedangkan hakikat dari mengadakan hukuman, terdapat dua macam prinsip, yaitu: a) Hukuman diadakan oleh karena adanya pelanggaran dan adanya kesalahan yang diperbuat oleh anak didik. b) Hukuman diadakan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran lagi.[21]

3)      Persaingan/kompetisi,  Persaingan sebenarnya adalah dorongan untuk memperoleh kedudukan dan penghargaan. Kebutuhan anak akan penghargaan adalah kebutuhan yang sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhannya. Oleh karena itu kompetisi menjadi pendorong bagi seorang anak , tetapi kompetisi dapat pula diadakan secara sengaja oleh pendidik/guru. Kompetisi dapat terjadi secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.[22]

Jika memperhatikan macam-macam motivasi tersebut, baik intrinsik maupun ekstrinsik telah menempati posisi penting dalam proses pembelajaran. Akan tetapi motivasi intrinsik lebih cenderung menempati posisi utama dalam membentuk motivasi belajar sebab siswa yang belajar berdasarkan motivasi intrinsik sangat sedikit terpengaruh dari luar. Semangat belajarnya sangat kuat. Self study adalah bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan belajar anak didik yang memiliki motivasi intrinsik.[23] Walaupun demikian, bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak berperan dalam kegiatan belajar, akan tetapi dengan menggunakan pendekatan, metode, dan strategi yang tepat dan menarik juga dapat memberikan pengaruh besar pada kegiatan belajar.

4.      Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar.

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang dengan sengaja diciptakan untuk kepentingan anak didik, agar anak didik senang dan bergairah dalam kegiatan belajar, dengan guru berusaha menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dengan memanfaatkan semua potensi kelas yang ada. Keinginan ini selalu ada pada setiap diri guru di mana pun dan kapan pun. Hanya saja, tidak semua keinginan guru terkabul karena berbagai faktor penyebabnya. Dalam hal ini, masalah motivasi adalah salah satu dari sederetan faktor yang menjadi penyebabnya.[24]

Dengan melihat kenyataan tersebut, seyogyanya guru melihat dan memperhatikan perilaku anak didik tersebut untuk dapat mengambil langkah yang dapat menimbulkan motivasi anak untuk belajar. Sebab hanya dengan motivasilah anak didik akan tergerak hatinya untuk melakukan kegiatan belajar. Dan untuk mengusahakan agar gairah belajar anak didik dapat terbangkitkan, maka terdapat 6 (enam) hal yang dapat dilakukan guru, yaitu :

a. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. b. Menjelaskan secara kongkret kepada anak didik apa yang dapat dilakukan di akhir pelajaran. c. Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsangnya untuk mendapat prestasi yang lebih baik di kemudian hari. d. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. e. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. f. Menggunakan metode yang bervariasi.[25]

Seperti halnya jika mengacu pada teori Maslow dalam piramida herarki kebutuhan, bahwa motivasi akan dapat dibangkitkan bilamana tingkat motivasi yang berada di bawahnya telah terpenuhi.[26]

Dengan melihat dan memperhatikan piramida tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar akan dapat dibangkitkan setelah beberapa unsur kebutuhan yang berada di tingkat bawahnya dapat terpenuhi. Sejalan dengan teori kebutuhan tersebut,  Suryabrata mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar digolongkan menjadi 3, yaitu:

a. Faktor dari dalam, yang meliputi kondisi fiologis atau kondisi jasmaniah secara umum dan panca indra, serta kondisi psikologis yang mencakup kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif. b. Faktor dari luar, yang meliputi lingkungan alami seperti keadaan udara, waktu belajar, cuaca, tempat belajar, dan media pembelajaran. Serta faktor sosial dimana manusia atau sesama manusia, baik manusia itu ada (kehadirannya) ataupun tidak langsung hadir. Kehadiran orang lain pada waktu sedang belajar, sering kali mengganggu aktivitas belajar. Dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar siswa ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: (1) lingkungan sosial siswa di rumah yang meliputi seluruh anggota keluarga yang terdiri atas: ayah, ibu, kakak atau adik serta anggota keluarga lainnya, (2) lingkungan sosial siswa di sekolah yaitu: teman sebaya, teman lain kelas, guru, kepala sekolah serta karyawan lainnya, dan (3) lingkungan sosial dalam masyarakat yang terdiri atas seluruh anggota masyarakat. c. Faktor instrumen, yakni ; faktor yang adanya dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil yang diharapkan. Faktor instrumen ini antara lain: kurikulum, struktur program, sarana dan prasarana, serta guru.[27]

Untuk memberikan penjelasan yang lebih kongkret atas faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, Mustaqim dan Abdul Wahid menegaskan bahwa motivasi belajar ini bisa kuat dan lemah karena ada beberapa hal yang mempengaruhinya, antara lain:

  1. Kematangan anak. Untuk dapat mempengaruhi motivasi anak harus diperhatikan kematangan anak. Tidak bijaksana untuk merangsang aktifitas-aktifitas sebelum individu matang secara fisik, psikis dan sosial. Karena apabila tidak memperhatikan kematangan ini akan mengakibatkan frustasi dan ini dapat mengurangi kapasitas belajar.
  2. Usaha yang bertujuan atau goal. Apabila mata pelajaran telah disesuaikan dengan kebijaksanaan pada kapasitas anak dan sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak, usaha yang bertujuan dapat dicapai dengan motivasi yang tidak banyak. Semakin jelas tujuannya maka makin kuat perbuatan itu didorong.
  3. Pengetahuan mengenai hasil dalam motivasi. Setiap usaha harus ada tujuan yang jelas dan usaha tersebut harus segera diberitahukan hasilnya karena hal tersebut akan membawa pengaruh yang besar bagi orang yang mengerjakannya. Oleh karena itu hasil pekerjaan harus diberitahukan supaya dapat memperkuat motivasi seseorang. Pekerjaan yang tidak diketahui hasilnya merupakan pekerjaan yang sia-sia dan akibatnya akan melemahkan usaha selanjutnya.
  4. Penghargaan dan hukuman. Untuk meningkatkan motivasi belajar, guru dapat memberikan penghargaan dan hukuman, dimana penghargaan adalah motif yang bersifat positif. Penghargaan ini dapat berupa material dan spiritual. Sedangkan hukuman merupakan motivasi yang negatif yang didasari dengan rasa takut. Akan tetapi anak didik yang patuh karena takut akan lekas tidak patuh apabila takutnya hilang dan telah berani menghadapi konsekuensinya.
  5. Partisipasi. Partisipasi dapat mempengaruhi motivasi belajar karena salah satu dinamika anak ialah keinginan berstatus, keinginan untuk ambil aktifitas-aktifitas untuk berpartisipasi. Oleh karena itu seorang guru harus memberikan kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi pada setiap kegiatan.
  6. Perhatian. Perhatian merupakan intregitas antara motif dan sikap, dan tergantung dari rangsangan yang diberikan. Bila orang sedang dikuasai motif tertentu, maka perhatiannya pun akan tertuju pada hal-hal yang sesuai dengan motif yang menguasainya.[28]

Berdasarkan pada beberapa uraian diatas, motivasi belajar yang terdapat pada diri anak didik dapat berubah dan berkembang. Motivasi tersebut  berkembang sesuai dengan taraf kesadaran seseorang akan tujuan yang hendak dicapainya. Semakin luas dan semakin sadar seorang akan tujuan yang hendak dicapai akan semakin kuat pula motivasi untuk mencapainya.

5.      Indikator-indikator motivasi belajar.

Motivasi belajar merupakan masalah salah satu masalah serius yang selalu menjadi perhatian para guru dalam menjalankan proses belajar mengajar. Sebab sudah dapat dipastikan jika motivasi belajar anak didik rendah, maka akan menghasilkan output yang berkualitas rendah pula, dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, sebagai guru harus selalu berupaya agar sedapat mungkin meningkatkan motivasi belajar anak didiknya demi memberikan hasil pendidikan dan pengajaran yang optimal.

Berkenaan dengan hal tersebut, perlu diigat bahwa motivasi belajar lebih cenderung pada perilaku psikis para anak didik, walaupun tak terlepas juga dengan perilaku fisiknya yang mencerminkan daya dorong psikisnya. Dengan demikian seorang guru yang juga seorang motivator seharusnya mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan demi mendongkrak motivasi belajar anak didik.

Mengingat bahwa hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada anak didik yang sedang belajar untuk mendapatkan perubahan tingkah laku, pada umumnya selaras dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung yang keberhasilan seseorang dalam belajar. Dan indikator-indikator tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Adanya hasrat dan keinginan berhasil. b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar. c. Adanya harapan dan cita-cita masa depan. d. Adanya penghargaan dalam belajar. e. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar. f. Adanya lingkungan belajar yang kondusif.[29]


[1] Tim Penyusun Kamus, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, Cet. VII (Jakarta : Balai Pustaka, 1995), hlm. 14.

[2] Sardiman AM., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, cet. III  (Jakarta : Rajawali Pers, 1990), hlm. 3.

[3] Ibid., hlm. 26-27

[4] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2004) hlm. 129-131.

[5] Syaiful Sagala, Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan (Bandung : Penerbit Alfabeta, 2007), hlm. 101.

[6] Hamruni, Edutainment Dalam Pendidikan Islam & Teori-teori Pembelajaran Quantum (Yogyakarta : Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, 2009), hlm. 7-8.

[7] Tim Penyusun Kamus, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus,  hlm. 666.

[8] Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, Analisis di Bidang Pendidikan, Ed. 1, Cet. 5 (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), hlm. 23.

[9] Amier Daien Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), hlm. 162

[10] Raymond J. Wlodkowski dan Judith H. Jaynes, Motivasi Belajar, Cet. Ke-2 (Jakarta: Cerdas Pustaka, 2004),  hlm. 12

[11] Sardiman AM, Interaksi, hlm. 75.

[12] Robert E. Slavin, Cooperative Learning, Teori, Riset dan Praktik, Terj. Nuralita Yusron, cet. VI (Bandung : Nusa Media, 2010),  hlm. 34-36.

[13] Hamzah B. Uno, Teori Motivasi, hlm. 23

[14] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005) cet. IV, hlm. 105.

[15] J.M. Keller, Instructional Design Theories and Models ; An Erviews of Their Current Status, ed. Charles M. Reigeluth (London : Wrence Erlbaum Associates Publishers, 1983), hlm. 385.

[17] Nashar, Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal Dalam Kegiatan Pembelajaran (Jakarta : Delia Press, 2004), hlm. 59.

[18] Amier Daien Indrakusuma, Pengantar, hlm. 162.

[19] Ibid., hlm. 163-164.

[20] Ibid., hlm. 165 – 167.

[21] Ibid., hlm. 147. Lihat pula Sardiman, Interaksi, hlm. 93.

[22] Sardiman A.M, Interaksi, hlm. 91-94.

[24] Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2002) cet. 2, hlm. 168.

[25] Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru (Surabaya : Usaha Nasional, 1994) cet. 1, hlm. 38.

[26] Sardiman A.M., Interaksi, hlm. 81.

[27] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta : CV. Rajawali, 1994), hlm. 142.

[28] Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991), cet. 1, hlm. 75 – 77.

[29] Hamzah B. Uno, Teori Motivasi, hlm. 23.

Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

3 Balasan ke Motivasi Belajar

  1. Motivasi berkata:

    Meningkatkan kemandirian belajar anak2 sangat diperlukan, tapi itu semua tidak terlepas dari pengarahan dan bimbingan orang tua mereka dirumah.

  2. Laisa berkata:

    Maaf pak mau tanya jadi, jadi anda menggunakan Indikator motivasi dari Hamzah B UNo? kalau indikator motivasiARCS dari keller (Attention,relevansi,statisfaction,confident) bagaimana Pak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s