COOPERATIVE LEARNING TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENTS (TGT)

COOPERATIVE LEARNING TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENTS (TGT)

A.    Strategi Cooperative Learning.
1.    Konsep dasar Cooperative Learning.
Secara filosofis, cooperative learning didasari oleh pembelajaran gotong royong. Hal ini berlandaskan falsafah homo homini socius, atau manusia adalah makhluq sosial. Sehingga kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup.
Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang dikaruniai akal telah membukakan jalan baginya dalam beberapa hal. Seperti telah diungkapkan Plato dalam mendefinisikan hakekat manusia yang antara lain; memperoleh pengetahuan, memperoleh reputasi, dan memperoleh materi. Oleh karena itu sebagai manusia tidak dapat terlepas dari kodratnya sebagai mahluk sosial. Dimana hidup bermasyarakat adalah suatu keharusan bagi manusia, sebab segala bentuk aktivitas manusia akan bersinggungan langsung dengan masyarakatnya dimana ia tinggal.
Lebih daripada itu, konsep pendidikan yang diungkapkan Plato dalam Tafsir, menyatakan bahwa masyarakat yang rusak akan memproduksi individu-individu yang cacat, dan individu yang cacat tersebut akan menyumbangkan kesulitan sosial bagi masyarakatnya.
Dengan melihat konsep diatas, maka penyelenggaraan pendidikan yang bertujuan untuk membentuk manusia seutuhnya dengan keseimbangan jasmani, ruhani, dan akal, seyogyanya mengagendakan proses pendidikan dan pembelajaran yang dapat mengantarkannya menjadi sosok yang tangguh dan penuh tanggungjawab dalam kehidupannya, terutama saat hidup berdampingan di dalam masyarakat dan lingkungannya.
Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran hendaknya membelajarkan kepada anak didik keterampilan bekerjasama dan berkolaborasi. Mengingat segala aspek kehidupan manusia sebagian besar dilakukan dalam bentuk kelompok. Maka dari itu, strategi cooperative learning merupakan sebuah jalan alternatif dalam proses pembelajaran. Dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan dikelompokkan dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Sehingga dalam penyelesaian tugas, setiap anggota kelompok saling bekerja sama dan membantu demi memahami bahan pelajaran.
Teori Psikodinamika mengungkapkan bahwa kelompok bukan hanya sekedar kumpulan individu melainkan merupakan satu kesatuan yang memiliki ciri dinamika dan emosi tersendiri. Sebab, kelompok terbentuk karena adanya ketergantungan antar individu, saling melindungi, dan saling membutuhkan.

Cooperative Learning terdapat 2 (dua) komponen utama yaitu komponen tugas kooperatif dan komponen struktur insentif kooperatif. Tugas kooperatif berkaitan dengan hal yang menyebabkan anggota kelompok bekerjasama dalam menyelesaikan tugas kelompok, sedangkan struktur insentif merupakan keunikan yang akan mendorong dan memotivasi antar anggota kelompok untuk bekerja keras dalam belajar, sehingga mencapai tujuan kelompok dalam pembelajaran. Lain daripada itu, cooperative learning akan memberikan dampak positif  yang mengiringi prestasi dan motivasi belajar siswa, yang diantaranya relasi sosial, saling menghargai, norma akademik, penghargaan terhadap waktu, dan saling tolong menolong.

2.    Tipologi Cooperative Learning.
Jika dilihat dari karakteristik cooperative learning yang mengedepankan kinerja kelompok demi mencapai tujuan pembelajarannya, maka dapat ditentukan tipologi strategi pembelajaran ini adalah sebagai berikut :
a. Tujuan Kelompok. Dalam metode pembelajaran tim, tujuan kelompok bisa berupa sertifikat atau rekognisi lainnya  yang diberikan kepada tim yang memiliki kriteria yang telah ditentukan sebelumnya, sebagai penghargaan atas prestasi dan kinerja kelompok sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas secara bersama-sama. b. Tanggungjawab Individual. Untuk mengetahuinya maka dapat dilakukan penjumlahan skor kelompok atau nilai rata-rata diskusi individual atau penilaian lainnya. Selain itu juga dengan pemberian spesialisasi tugas, di mana setiap siswa diberikan tanggungjawab khusus sebagai tugas kelompok. c. Kesempatan Sukses Yang Sama. Karakteristik unik dari metode pembelajaran tim adalah penggunaan metode skor yang memastikan semua anak didik mendapat kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam timnya. d. Kompertisi Tim. Dalam hal ini, antar kelompok yang telah dibentuk secara acak dan heterogen, akan saling berkompetisi positif demi mencapai tujuan kelompok dan tujuan pembelajaran. e. Spesialisasi Tugas. Hal ini diberikan agar tercipta tanggungjawab masing-masing anggota kelompok, namun tidak membiarkan siswa bekerja secara sendiri-sendiri, akan tetapi tetap memprioritaskan kerjasama yang melibatkan kelompok sehingga spesialisasi tugas tersebut telah memastikan bahwa setiap anggota kelompok telah mampu menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. f. Adaptasi Terhadap Kebutuhan Kelompok. Hal ini akan memberikan ruang kepada setiap anggota kelompok untuk saling memahami dan saling memberikan kontribusi demi menutupi kekurangan anggota kelompok.

3.    Potensi penghalang pada Cooperative Learning.
Walaupun cooperative learning merupakan sebuah strategi pembelajaran yang dapat mendukung keberhasilan bersama dalam tim, serta dapat meningkatkan potensi akademik maupun potensi sosial anak didik, namun dengan metode bekerja di dalam tim akan sangat memungkinkan terjadinya difusi tanggung jawab yang akan menjadi penghalang keberhasilan cooperative learning. Hal tersebut terjadi, dimana terdapat anggota kelompok yang mendominasi kinerja kelompok sehingga menjadikan anggota kelompok lainnya menjadi pasif dan hanya mengandalkan hasil kerja salah satu anggota kelompok yang dianggap unggul.
Untuk menghindari kejadian tersebut, Slavin memberikan 2 (dua) langkah solusi berupa :
a.    Dengan membuat masing-masing anggota kelompok bertanggungjawab atas unit yang berbeda dalam tugas kelompok.
b.    Dengan membuat para siswa bertanggungjawab secara individual atas pembelajaran mereka. Misalnya, masing-masing kelompok dihargai berdasarkan jumlah skor kuis individual atau hasil kerja individual lainnya. Dengan cara ini, tugas-tugas kelompok adalah memastikan bahwa tiap orang anggotanya telah mempelajari semua materi pelajaran.

B.    Tipe Teams Games Tournamens (TGT) dan Implementasinya.
1.    Ciri dasar dan tujuan Teams Games Tournamens (TGT).
TGT merupakan tipe belajar kooperatif yang dihasilkan dari pengembangan tipe STAD (Student Teams-Acheivment Divisions), dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan komponen utama berupa presentasi kelas, diskusi tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. Sedangkan yang menjadi pembeda dari kedua tipe ini adalah adanya game-game akademik pada tipe TGT, sehingga dapat menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan dalam dalam suasana gembira serta terciptanya kompetisi tim yang didasarkan pada tanggung jawab masing-masing individunya.
TGT pada awalnya diperkenalkan oleh Johns Hopkins dan dikembangkan lebih lanjut oleh David DeVries dan Keith Edwards. Secara umum TGT dengan turnamen akademiknya dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, dimana pada siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.
Adapun deskripsi dari komponen-komponen TGT adalah sebagai berikut :
a.    Presentasi di kelas, dengan adanya presentasi di kelas yang dipimpin oleh guru atau juga pada presentasi audiovisual. Akan tetapi pada presentasi ini seorang guru haruslah mampu memfokuskan presentasinya pada unit-unit tim, sehingga dapat menjadikan para siswa sadar bahwa mereka harus benar-benar memperhatikan penuh presentasi kelas yang disampaikan, sebab dengan demikian akan berpengaruh pada kuis-kuis, dan skor individu yang mempengaruhi skor tim.
b.    Tim, terdiri dari 4 (empat) atau 5 (lima) siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, dan etnisitas. Fungsi utama tim adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan lebih khususnya lagi adalah mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik.
c.    Game, terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentasi kelas dan pelaksanaan kerja tim.
d.    Turnamen, adalah struktur dimana game berlangsung yang dapat dilakukan pada akhir unit, setelah guru memberikan presentasi di kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan. Dalam turnamen tersebut, siswa dengan kinerja akademik yang setara akan menempati satu meja turnamen sehingga akan terjadi turnamen yang seimbang. Setelah turnamen pertama berakhir, siswa akan mendapat kemungkinan bertukar tempat meja turnamennya tergantung dari kinerja mereka di meja turnamen sebelumnya, atau jika kinerjanya meningkat maka akan menempati meja turnamen pada level diatasnya dan jika kinerjanya menurun maka akan menurunkannya pada level dibawahnya.
e.    Rekognisi Tim, tim akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan lainnya apa bila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu.
Yang dilakukan guru dalam TGT adalah memberikan kesempatan kompetitif dalam suasana konstruktif dan positif. Para siswa menyadari bahwa kompetisi merupakan sesuatu yang selalu mereka hadapi setiap saat, akan tetapi TGT memberikan mereka peraturan dan strategi untuk bersaing sebagi individu setelah mereka mendapat bantuan dari rekan timnya. Dengan demikian mereka membangun ketergantungan atau kepercayaan dalam tim mereka yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk merasa percaya diri ketika mereka harus bersaing dalam turnamen.
Adapun tujuan diadakannya TGT merupakan salah satu jalan keluar yang dapat mengatasi permasalahan potensi penghalang keberhasilan pembelajaran kooperatif, yang mana dominasi salah satu anggota kelompok yang berpotensi tinggi akan menjadikan anggota lainnya hanya akan menjadi pendamping dan membonceng keberhasilan rekan sekelompoknya. Akan tetapi dengan TGT hal ini tidak akan terjadi, sebab setiap anggota kelompokharus bertanggungjawab penuh atas keberhasilan individunya di meja turnamen, dan setiap anggota kelompok akan merasa mendapat kesempatan untuk berkontribusi dalam keberhasilan kelompoknya.

2.    Implementasi Teams Games Tournamens (TGT).
Dalam pelaksanaannya TGT dapat diterapkan dalam berbagai macam kondisi pelajaran, mulai dari matematika, ilmu sosial, bahasa, sains, dan lain sebagainya. Namun demikian, tidak ada satupun model pembelajaran yang cocok untuk semua materi ajar, situasi dan anak. Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik yang menjadi penekanan dalam proses implementasinya dan sangat mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran. Secara psikologis, lingkungan belajar yang diciptakan guru dapat direspon beragama oleh siswa sesuai dengan modalitas mereka.
Pada dasarnya implementasi TGT dapat dilaksanakan dengan beberapa tahapan, antara lain :
a.    Persiapan materi. Materi yang dipersiapkan merupakan materi yang dirancang khusus untuk pembelajaran tim, dan dapat pula dipersiapkan dengan penyesuaian terhadap sumber-sumber belajar yang berupa buku teks atau sumber belajar lainnya. Dalam hal ini guru diharapkan untuk membuat lembar kegiatan siswa beserta lembar jawabannya, yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi tim atau kelompok.
b.    Menempatkan para siswa ke dalam tim. Sebagaimana tipe STAD dilaksanakan, penempatan siswa ke dalam tim dapat dilakukan berdasarkan pada kinerja akademik. Sehingga dalam satu tim akan terpenuhi kinerja akademik yang tinggi, menengah, dan bawah.
c.    Menempatkan siswa ke dalam meja turnamen. Penempatan pada setiap meja turnamen akan didasarkan pada kinerja akademik siswa, sehingga turnamen pada setiap meja turnamen akan berjalan dengan seimbang. Akan tetapi, posisi turnamen tersebut dapat berubah pada turnamen-turnamen berikutnya, tergantung pada kinerja siswa pada turnamen sebelumnya.
Adapun pelaksanaan game yang akan dijadikan sistem turnamen dapat dikombinasikan sesuai dengan kreatifitas guru dalam membuat sistem permainan yang dapat dimainkan. Dalam hal ini, Slavin memberikan sebuah contoh yang telah diterapkan oleh Johns Hopkins dengan menggunakan kartu indeks bernomor yang berisikan soal untuk dijawab di meja turnamen, dan diperbolehkannya adanya penantang jika kartu tersebut tidak dapat dijawab oleh pembacanya, atau penantang memiliki jawaban yang lainnya, sampai akhirnya penantang terakhir akan memeriksa lembar jawaban. Dan siapapun yang benar akan berhak menyimpan kartu tersebut. Akan tetapi, jika pertanyaan tersebut tidak terjawab maka kartu tersebut harus dikembalikan kedalam kotak kartu indeks. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.
Dalam kegiatan ini ada pula yang menggunakan istilah The Destiny, yang berarti menentukan nasibnya. Dimana permainan ini ditentukan oleh bagaimana seorang pemain di meja turnamen menentukan soal yang harus dijawabnya dengan menggunakan pelemparan dadu secara bergiliran.
TGT dalam menerapkan game turnamennya tidak ada aturan yang pasti dan teoritis, akan tetapi penerapan permainannya merupakan hal yang diajukan oleh guru pengajar dan disepakati oleh para siswanya. Jadi, kreatifitas guru lah yang akan dapat menjamin keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.

C.    Keunggulan dan Kelemahan Tipe Teams Games Tournamens (TGT).
Riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran telah banyak dilakukan oleh pakar pembelajaran maupun oleh para guru di sekolah. Dari tinjuan psikologis, terdapat dasar teoritis yang kuat untuk memprediksi bahwa metode-metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan tanggung jawab individual akan meningkatkan pencapaian prestasi siswa. Dua teori utama yang mendukung pembelajaran kooperatif adalah teori motivasi dan teori kognitif.
Menurut Slavin, perspektif motivasional pada pembelajaran kooperatif terutama memfokuskan pada penghargaan atau struktur tujuan di mana para siswa bekerja. terdapat tiga struktur tujuan dalam pembelajaran kooperatif,  yaitu:
1.    Kooperatif, di mana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu memberi konstribusi pada pencapaian tujuan anggota yang lain.
2.    Kompetitif, di mana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu menghalangi pencapaian tujuan anggota lainnya.
3.    Individualistik, di mana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu tidak memiliki konsenkuensi apa pun bagi pencapaian tujuan anggota lainnya.
Dari pespektif motivasional, struktur tujuan kooperatif menciptakan sebuah situasi di mana satu-satunya cara anggota kelompok bisa meraih tujuan pribadi mereka adalah jika kelompok mereka sukses. Oleh karena itu, mereka harus membantu teman satu timnya untuk melakukan apa pun agar kelompok berhasil dan mendorong anggota satu timnya untuk melakukan usaha maksimal.
Sedangkan dari perspektif teori kognitif, mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif menekankan pada pengaruh dari kerja sama terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Asumsi dasar dari teori pembangunan kognitif adalah bahwa interaksi di antara para siswa berkaitan dengan tugas-tugas yang sesuai mengingkatkan penguasaan mereka terhadap konsep kritik. Pengelompokan siswa yang heterogen mendorong interaksi yang kritis dan saling mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan atau kognitif. Penelitian psikologi kognitif menemukan bahwa jika informasi ingin dipertahankan di dalam memori dan berhubungan dengan informasi yang sudah ada di dalam memori, orang yang belajar harus terlibat dalam semacam pengaturan kembali kognitif, atau elaborasi dari materi. Salah satu cara elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan materinya kepada orang lain.
Terkait dengan adanya keunggulan dan kelemahan pembelajaran dengan menggunakan TGT sebagai pembelajaran kooperatif, Hamruni mengidentifikasikan sebagai berikut :

1.    Keunggulan.
a.    Siswa tidak terlalu bergantung kepada guru, dan akan menambahkan rasa kepercayaan dengan kemampuan diri untuk berfikir mandiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar bersama siswa lainnya.
b.    Mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan secara verbal dan membandingkan dengan ide-ide orang lain.
c.    Menumbuhkan sikap respek pada orang lain, dengan menyadari keterbatasannya dan bersedia menerima segala perbedaan.
d.    Membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e.    Meningkatkan prestasi akademik dan kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal, ketrampilan mengelola waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.
f.    Mengambangkan kemampuan untuk menguji ide dan pemahaman siswa, serta menerima umpan balik.
g.    Meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan mengubah belajar abstrak menjadi riil.
h.    Meningkatkan motivasi belajar dan melahirkan rangsangan untuk berfikir, yang akan sangat berguna bagi proses pembelajaran jangka panjang.

2.    Kelemahan.
a.    Dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk memahami filosofi pembelajaran tim, sehingga siswa yang memiliki kemampuan lebih akan merasa terhambat oleh siswa lainnya yang memiliki kemampuan dibawahnya.
b.    Dengan diciptakannya kondisi saling membelajarkan antara siswa, bisa jadi dapat menimbulkan pemahaman yang tidak seharusnya atau tidak sesuai dengan harapan.
c.    Penilaian yang didasarkan pada kinerja kelompok, seharusnya dapat disadari oleh guru bahwa sebenarnya hasil dan prestasi yang diharapkan adalah prestasi dari setiap individu siswa.
d.   Dan bukan merupakan pekerjaan yang mudah, untuk mengkolaborasikan kemampuan indivudial siswa bersamaan dengan kemampuan kerjasamanya.

Pustaka :

Hamruni, Edutainment Dalam Pendidikan Islam & Teori-teori Pembelajaran Quantum, Yogyakarta : Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, 2009.

Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif dan Menyenangkan, Yogyakarta : Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, 2009.

Lie, Anita, Cooperative Learning : Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas, cet. Ke-7, Jakarta : PT. Grasindo, 2010.

Slavin, Robert E., Cooperative Learning : Teori, Riset dan Praktik, terj. Narulita Yusron, cet.VI, Bandung : Penerbit Nusa Media, 2010.

Slavin, Robert E., Cooperative Learning, Review of Educational Research, vol. 50, no. 2, Johns Hopkins University : Sage Publications, 1980.

Svinicki, Marilla D., New Direction in Learning and Motivation, No. 80, Austin : Jossey Bass Publishers, 1999.

Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s