PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN DALAM AL-QUR’AN

PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN DALAM AL-QUR’AN

Pembelajaran tidaklah hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran sebagai ilmu pengetahuan, akan tetapi juga sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa termotivasi untuk belajar. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi siswa untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Pemberdayaan tersebut diarahkan untuk mendorong pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya setiap individu mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar.

Proses pembelajaran disebut juga dengan kegiatan belajar dan mengajar. Belajar dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal, akan tetapi memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan penyediaan kondisi yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku maupun kesadaran diri sebagai pribadi.

Melihat beberapa konsep dasar belajar dan mengajar diatas, dapat diartikan bahwasannya sebuah interaksi pembelajaran dapat berlangsung secara baik ketika hubungan antara pengajar dan peserta didik terdapat hubungan timbal balik yang terarah dan terstruktur. Sehingga peserta didik dapat merasa bahwa dirinya sedang belajar dan termotivasi untuk selalu belajar. Sebab, interaksi pembelajaran yang hanya berjalan searah akan menjadikan peserta didik hanya sebagai objek penerima pelajaran yang cenderung akan menjadi pasif dan tidak kreatif.

Dengan demikian, demi menciptakan interaksi edukatif antara pengajar dan peserta didik, dan agar tercapainya tujuan pembelajaran dengan tidak mengesampingkan aspek emosional peserta didik yang lebih cepat merasa bosan dengan proses pembelajaran yang monoton dan tanpa adanya motivasi yang menumbuhkan kreatifitas mereka dalam pembelajaran, maka perlu adanya sebuah konsep gagasan yang dapat dijadikan sebagai acuan dasar untuk membangun proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan.

Di dalam pelaksanaannya, pembelajaran yang menyenangkan tidak akan terlepas daripada teori motivasi. Sebab pembelajaran yang menyenangkan bertujuan untuk menumbuhkan motivasi dalam diri peserta didik. Ada empat kategori yang perlu diketahui oleh seorang guru yang baik terkait dengan motivasi “mengapa siswa belajar”, yaitu : 1. motivasi intrinsik (siswa belajar karena tertarik dengan tugas-tugas yang diberikan), 2. motivasi instrumental (siswa belajar karena akan menerima konsekuensi: reward atau punishment), 3. motivasi sosial (siswa belajar karena ide dan gagasannya ingin dihargai), dan 4. motivasi prestasi (siswa belajar karena ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dia mampu melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya).

Adapun fungsi motivasi dalam belajar, adalah :

1.      Mendorong siswa untuk berbuat, atau motivasi sebagai motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

2.      Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.

3.      Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan hidup. Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.

Selaras dengan beberapa pernyataan di atas, pendidikan Islam pun telah membuat sistem rancang bangun proses pembelajaran yang terinspirasi dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits, guna mencapai tujuan pendidikan Islam yang hakiki, yaitu menumbuhkembangkan serta mengarahkan potensi yang telah di anugrahkan Allah kepada manusia. Maka, potensi di dalam diri manusia akan berkembang serta terarah secara optimal, ketika proses yang dijalaninya dalam pembelajaran mampu menumbuhkan motivasi dirinya untuk mengembangkan dan mengarahkan potensi yang dimilikinya. Dengan dinamika permasalahan tersebut, pembelajaran yang menyenangkan menjadi hal yang sangat urgen keberadaannya dalam proses pendidikan.

Apabila mengadakan peninjauan  terhadap konsep pembelajaran yang terdapat di dalam al-Qur’an, yang diyakini sebagai wahyu dan ajaran-ajarannya terjaga orisinalitasnya, dan juga telah dijadikan Allah sebagai alat untuk mendidik Nabi Muhammad saw, yang kemudian mentransfernya kepada ummatnya dan telah menuai hasil yang sangat luar biasa. Maka dari itu al-Qur’an sebagai sarana dakwah dan penyampaian pesan-pesan agama, secara umum telah mendapatkan respon yang besar dari penduduk Arab jahiliyah waktu itu. Hal tersebut disebabkan karena al-Qur’an difirmankan dengan penggunaan gaya bahasa tak tertandingi oleh para sastrawan Arab, sehingga sangat menarik perhatian bangsa Arab yang memang berbudaya tinggi dalam hal sastra, dan juga ajaran yang disampaikan oleh al-Qur’an itu sendiri merupakan ajaran yang turunnya berangsur-angsur, sehingga tidak memberikan kondisi frontal dalam melakukan perubahan.

Lain dari pada itu, jika menelaah isi dan kandungan daripada al-Qur’an, akan banyak pula dijumpai hal yang akan mengarahkan kepada metode dan strategi dakwah Islam atau juga proses pembelajaran. Yang diantara beberapa poin yang akan dapat dijadikan sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran, seperti yang telah dirumuskan oleh Dr. Hamruni dalam bukunya “Strategi dan model-model pembelajaran aktif menyenangkan” adalah:

1.      Memberikan kemudahan dan suasana gembira.

Seperti yang difirmankan Allah dalam al-Qur’an, perintah dan anjuran untuk memberikan kemudahan dan suasana gembira telah banyak diungkapkan dalam berbagai hal, baik dalam mu’amalah bahkan sampai pada hal ibadah.

(…يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ…  (البقرة : 185

Artinya : “… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu …”

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآَنِ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى وَآَخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآَخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (المزمل : 20

Artinya : “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasannya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan segolongan dari orang0orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waltu itu, maka dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’an, Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi untuk mencari sebagian karunia Allah. Dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’an dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Bahkan Allah sendiri telah memberikan motifasi yang besar kepada manusia ketika mereka mendapatkan hal yang menjadikannya beban di pundaknya. Maka, Allah akan memberikan kemudahan baginya bersamaan dengan kesulitan dan beban yang menimpanya, seperti firmannya dalam surat an-Nasyroh berikut ini.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (1) وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (2) الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (3) وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (4) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ 8)

Artinya : “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (1), dan Kami telah hilangkan daripadamu bebanmu (2), yang memberatkan punggungmu (3), dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu (4), karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5), sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6), maka apabila kamu telah selesai dari urusanmu, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan orang lain (7), dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap (8).”

Dari ayat diatas, dapat diambil pelajaran bahwa pentingnya menumbuhkan motivasi diri seorang anak didik, seperti halnya Allah memberikan motivasi kepada Muhammad saw. Dan tidak hanya itu saja, Allah sebagai pendidik juga tetap memberikan harapan untuk dapat membantu menyelesaikan segala permasalahan yang ada, dengan menggunakan isyarat “dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap”. Sehingga akan tercipta suasana kedekatan antara pendidik dan orang yang didiknya. Selain itu, masih banyak lagi hal yang akan menjadikan pembelajaran menjadi mudah dan dalam suasana gembira. Antara lain dengan menciptakan keramahtamahan, keakraban, dan kasih sayang.

2.      Menciptakan suasana belajar yang kondusif.

Susana yang kondusif dalam belajar adalah suasana yang tidak ada tekanan di dalamnya, sehingga tercipta kondisi yang relaks, lingkungan yang mentoleransi terhadap kesalahan namun berharap pada kesuksesan tinggi. Dalam hal ini Allah pun telah menunjukkan sebuah pembelajaran yang mampu menciptakan suasana yang kondusif dan bebas dari resiko, misalnya dengan tidak adanya paksaan dalam memeluk Islam, melainkan atas kesadaran dan keikhlasan.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ … (البقرة : 256

Artinya : “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat.”

Dari kutipan ayat diatas, telah memberikan inspirasi bahwa pembelajaran yang berlangsung tidaklah merupakan sebuah paksaan, sehingga peserta didik akan secara sadar dan ikhlas dalam melakukan proses pembelajarannya. Dan dengan iu, perlulah kiranya menumbuhkan motivasi yang ada dalam diri peserta didik untuk mau belajar, yang nantinya akan membuahkan hasil bagi diri mereka sendiri.

3.      Menarik minat.

Demi menarik minat para pembelajar dalam proses pembelajaran, tentunya diperlukan beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk menarik minat tersebut. al-Qur’an telah diturunkan dengan gaya bahasa yang semenarik mungkin, sehingga dapat menjadi perhatian bagi ummat Muhammad saw saat diturunkannya. Selain itu Allah telah berfirman :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (النحل : 125

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan berbantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dari ayat di atas, telah jelas bahwa seruan dakwah dan proses pembelajaran dengan hikmah atau perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Serta memberikan pelajaran yang baik, atau dengan memberikan teladan yang baik bagi peserta didik. Dan juga memberikan ruang diskusi untuk saling berargumen, akan tetapi jika terjadi debat atau perselisihan, maka hendaknya diselesaikan dengan penyelesaian yang baik, yaitu dengan menggunakan bahasa yang ramah, dan halus. Dengan demikian pembelajaran yang berlangsung akan menjadi menarik dan terjadi dalam suasana yang kondusif.

4.      Menyajikan materi yang relevan.

Penyajian materi yang relevan, adalah penyesuaian dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakatnya. Sehingga materi ajar tersebut dapat mendukung keberhasilan kehidupannya. Petunjuk al-Qur’an tentang hal ini, berdasar pada sikap manusia dan perubahannya adalah satu hal yang ditentukan oleh manusia itu sendiri. Jadi untuk mendapatkan perubahan dan kemajuan, maka manusia haruslah dapat berubah cara berfikirnya dan konsep keilmuannya.

… إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ … (الرعد : 11

Artinya : “… sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu dapat merubah dengan diri mereka sendiri …”

Selain relevan dengan kondisi yang ada, pembelajaran seharusnya relevan dengan kondisi yang akan dihadapi para peserta didik di masa yang akan datang dan sekiranya akan memberikan manfaat bagi kehidupannya kelak. Seperti halnya banyak diisyaratkan dalam al-Qur’an, agar manusia selalu menggunakan akalnya untuk memikirkan segala hal yang telah Allah ciptakan, demi mendapatkan ilmu pengetahuan yang dapat mengangkat derajatnya baik di dunia maupun di akhirat.

… يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ … (المجادلة : 11

Artinya : “… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat …”

5.      Melibatkan emosi positif dalam pembelajaran.

Menumbuhkan emosi positif adalah menumbuhkan rasa senang dan gembira dalam pembelajaran. Yakni dengan memberikan rangsangan kepada perasaan peserta didik untuk senang, gembira, penuh harapan, dan rasa kagum. Berkaitan dengan hal ini, Allah telah memberikan contoh yang banyak sekali di dalam al-Qur’an. Seperti halnya ketika Allah memberikan pelajaran kepada nabi Muhammad yang tercantum dalam surat an-Nasyroh yang telah penulis kutip di atas. Atau juga saat turunnya ayat tentang perpindahan kiblat dari masjidil aqsha ke masjidil haram dalam surat al-Baqarah ayat  142 – 152. Di saat itu Muhammad banyak di tentang oleh orang-orang yahudi dan nasrani. Akan tetapi Allah memberikan banyak harapan dan semangat kepada Muhammad agar lebih menetapkan hatinya dalam menyampaikan risalah Allah.

6.      Melibatkan semua indra dan pikiran.

Begitu pentingnya pembelajaran yang melibatkan seluruh indra dan fikiran. Sebab hal ini akan menjadikan proses pembelajaran dengan pendapatan pengalaman baik secara langsung maupun tak langsung. Sehingga, keterlibatan indra dan fikiran dalam pembelajaran adalah suatu konsep yang mutlak ada.

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآَيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ (يونس :101

Artinya : “Katakanlah : perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

Pada ayat di atas, telah jelah memberikan pembelajaran kepada manusia untuk memperhatikan segala apa yang ada di langit dan di bumi dengan menggunakan indra dan fikirannya.

Selain itu di dalam al-Qur’an juga banyak menggunakan isyarat-isyarat yang berupa permisalan-permisalan atau dalam istilah lain disebut sebagai analogi. Sebab dengan menggunakan amtsal, akan memberikan pelajaran kepada orang yang mendengarnya untuk selalu berfikir dan mengoptimalkan penggunaan akal fikirannya.

7.      Menyesuaikan dengan kemampuan siswa.

Proses pembelajaran bukanlah sekedar transfer of knowledge, akan tetapi merupakan sebuah proses yang akan menjadikan peserta didik mengerti akan makna hal yang dipelajarinya. Maka sebagai pendidik, haruslah dapat menyesuaikan meteri ajar dan metode pembelajaran dengan kemampuan para peserta didiknya. Ketika al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, hal ini telah memberikan kontribusi positif terhadap adanya perubahan yang dikehendaki. Hal tersebut juga telah memberikan penyesuaian terhadap kondisi ummat jahiliyah yang masih kental dengan budayanya. Relevansi al-Qur’an yang dijadikan sumber ajaran, merupakan sebuah konsep yang mampu menempatkan dirinya pada kondisi para pembelajarnya.

Mulai dari turunnya 4 surat yang turun di awal kenabian, yang mana pada saat itu ummat manusia belum mengenal Allah swt sebagai tuhannya. Maka Allah pun mengenalkan dirinya dengan sebutan Rabb, belum menyebutkan bahwa diri-Nya adalah Allah. Baru setelah kenabian Muhammad diakui oleh sebagian orang pada masa itu, barulah Allah menurunkan wahyunya dan menyebut dirinya Allah.

Hal yang sama terjadi ketika Islam mensyari’atkan keharaman minuman keras dan judi. Sebab minuman keras dan judi sudah menjadi tradisi bangsa Arab di kala itu. Maka, dalam pensyari’atannya tidaklah langsung memberikan keharaman yang mutlak, melainkan secara bertahap hingga tiga kali proses penurunan wahyu. Dengan demikian al-Qur’an telah memberikan tuntunan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan realitas yang ada.

8.      Memberikan pengalaman sukses.

Bagaimanakah pengalaman sukses seseorang akan mempengaruhi peserta didik untuk menjadi lebih baik? Hal ini merupakan sebuah strategi untuk menumbuhkan semangat dan motivasi kepada peserta didik, agar cerita sukses dari seseorang itu dapat memberikan inspirasi kepadanya untuk mengikitu jejak suksesnya.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ … (الأحزاب : 21

Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu ….”

Dari kutipan ayat diatas, telah menjadi jelas bahwa begitu petingnya mengetahui kebaikan dan kesuksesan Rasulullah, yang direkomendasikan oleh Allah untuk dijadikan suri tauladan bagi ummatnya. Di sisi lain, al-Qur’an juga telah memberikan berbagai kisah masa lalu, baik yang berupa sejarah para nabi maupun permisalan-permisalan penuh makna. Seperti,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (الفتح : 29

Artinya : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam taurat dan injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

9.      Merayakan hasil.

Perayaan akan keberhasilan peserta didik merupakan suatu yang dapat mendorong rasa percaya diri dan memperkokoh tanggung jawabnya. Selain itu akan memberikan motivasi yang baik untuk selalu berprestasi dalam pembelajarannya. Dalam al-Qur’an juga telah diberikan contoh tentang perlunya merayakan keberhasilan. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat Fushilat ayat 30 :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (فصلت : 30

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Ayat tersebut telah memberikan inspirasi bahwa perayaan hasil belajar adalah suatu hal yang penting. Dan perayaan hasil belajar tersebut bisa berupa pemberian hadiah yang berbentuk materi atau juga non materi seperti pujian dan do’a. Di kesempatan yang lain Allah juga berfirman dalam surat al-Fajr ayat 27 – 30 sebagai penghargaan terhadap orang yang sempurna imannya :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30

Artinya : “Hai jiwa yang tenang (27) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya (28) maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku (29) dan masuklah ke dalam syurga-ku (30).”

Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

2 Balasan ke PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN DALAM AL-QUR’AN

  1. imron (@imronw) berkata:

    bagus bgt artikelnya… ini sangat membantu saya…
    trimksih…

  2. Mr.A8 berkata:

    artikel yang bagus. memadukannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s