E-LEARNING SEBAGAI STRATEGI PEMBELAJARAN

E-LEARNING SEBAGAI STRATEGI PEMBELAJARAN

A. Pendahuluan

Perkembangan era global dan era digital informasi, menjadikan hal yang menjadi sorotan adalah persaingan yang semakin kompetitif terutama dibidang industri dan perdagangan. Dikatakan demikian, bila ditinjau dari sudut pandang pekerja pada kedua sektor utama tersebut, maka diketahui kalau persaingan tersebut tidak hanya melibatkan para pekerja lokal saja, akan tetapi juga para pekerja asing dari mancanegara.

Yang menjadi polemik adalah seberapa siapkah para pekerja lokal bersaing dengan para pekerja asing, sementara persaingan di dalam negeri saja sudah begitu ketat. Dilain pihak, dengan memperhatikan kualitas para pekerja lokal yang sebagian besar boleh dikatakan masih rendah, terutama para pekerja yang baru lulus dari pendidikan formal maupun informal yang masih belum memiliki pengalaman yang memadai di bidang yang digelutinya, maka, rasa pesimis tak dapat dihindarkan lagi.[1]

Dengan melihat fakta tersebut, sekiranya memberikan peringatan kepada semua pihak agar ikut serta menyiapkan sumber daya manusia yang handal, yang dapat memenuhi tuntutan zaman. Kaitannya dengan hal tersebut, pendidikan dan para pelaksananya dapat dijadikan sebagai tonggak dalam rangka pembekalan para generasi untuk dapat bersaing di zamannya.

Masalah pendidikan merupakan masalah yang selalu saja menjadi pusat perbincangan ketika suatu masalah dihadapkan kepada bagaimana membentuk dan membina para generasi. Dan sudah sekian banyak para pakar mengemukakan teori pendidikan, dan dalam perjalanannya teori tersebut selalu saja berkembang sesuai dengan kebutuhan hidup manusia dan tuntutan zaman, walaupun secara mendasar teori tersebut selalu bermuara pada sisi yang sama yaitu transformasi ilmu pengetahuan yang diarahkan pada pembentukan karakteristik kepribadian manusia secara fisik maupun non fisik.[2]

Proses transformasi ilmu pengetahuan dalam prakteknya dibentuk dalam proses pembelajaran yang merupakan sebuah kesengajaan dari suatu interaksi sosial. Yang mana dalam suatu interaksi edukatif ini haruslah memperhatikan beberapa aspek tujuan pendidikan dan pengajaran. Sehingga interaksi yang terjadi mengandung makna adanya kegiatan interaktif dan hubungan timbal balik antara pengajar yang melaksanakan tugasnya dengan warga belajar atau peserta didik yang sedang melaksanakan kegiatan belajar.[3] Adapun harapan pokok dari interaksi tersebut adalah pihak pengajar mampu memberikan dan mengembangkan motivasi kepada peserta didik agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal.[4]

Seorang guru yang melakukan tugas mengajar, pada prinsipnya adalah membimbing siswa atau suatu usaha mengorganisasi lingkungan yang menghubungkan siswa dengan bahan pengajaran sehingga menimbulkan proses belajar.[5] Pada pengertian ini, guru merupakan organisator kegiatan belajar siswa dan memanfaatkan lingkungan baik di dalam kelas maupun di luar kelas yang dapat digunakan sebagai penunjang kegiatan pembelajaran.

Tuntutan pencapaian kompetensi bagi peserta didik dalam proses belajar mengajar merupakan amanah kurikulum yang harus dipenuhi oleh para guru sebagai manajer di kelas. Oleh karena itu berbagai cara telah dan terus akan dilakukan dalam rangka memperbaiki proses pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan pencapaian kompetensi bagi peserta didik.

Tuntutan akan kualitas sumberdaya manusia yang mampu bersaing di dunia global, selalu menghendaki adanya perubahan-perubahan yang menuju kearah perbaikan kualitas dan kemampuan daya saing. Salah satu hal mendasar yang sedang dan akan terus dilakukan oleh pelaksana pendidikan adalah upaya-upaya pencapaian kompetensi bagi peserta didik melalui beberapa metode dan strategi pencapaian kompetensi melalui proses dan media pembelajaran yang efektif.[6]

Menghadapi perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat dan dinamis, maka pembelajar perlu dipersiapkan agar memiliki ketrampilan yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Pembelajar diberi kesempatan untuk belajar mengembangkan ketrampilan teknologi informasi dan komunikasi yang bermanfaat pada proses belajarnya dan dalam kehidupan sehari-harinya serta dapat digunakan untuk mempersiapkan dirinya menghadapi masa yang akan datang.[7]

Dengan demikian program pembelajaran di lembaga pendidikan perlu adanya penggunaan media pembelajaran yang qualified dan didukung oleh adanya infrastruktur teknologi informasi yang diprediksi ikut mendorong pencapaian kompetensi peserta didik dalam menguasai unit-unit kompetensi dan mempercepat dalam menyelesaikan tugas.

B. Landasan Teori Tentang e-Learning dan Strategi Pembelajaran.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat mendorong berbagai lembaga pendidikan memanfaatkan sistem e-learning untuk meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran. Meskipun banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran menggunakan sistem e-learning cenderung sama bila dibanding dengan pembelajaran konvensional atau klasikal, tetapi keuntungan yang bisa diperoleh dengan e-learning adalah dalam hal fleksibilitasnya. Melalui e-learning materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan dari mana saja, disamping itu materi yang dapat diperkaya dengan berbagai sumber belajar termasuk multimedia dengan cepat dapat diperbaharui oleh pengajar.[8]

Jika terdapat pertanyaan, apa yang dimaksud dengan e-learning yang saat ini banyak diperbincangkan? Secara umum terdapat dua persepsi dasar tentang e-learning, yaitu :

  1. Electronic based e-learning, adalah pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, terutama perangkat yang berupa elektronik. Artinya tidak hanya internet, melainkan semua perangkat elektronik, seperti film, video, kaset, OHP, slide, LCD projector, dan lain sebagainya sejauh menggunakan perangkat elektronik.
  2. Internet Based, adalah pembelajaran yang menggunakan fasilitas internet yang bersifat online sebagai instrumen utamanya. Artinya, memiliki persepsi bahwa e-learning haruslah menggunakan internet yang bersifat online yaitu fasilitas komputer yang terhubung dengan internet. Artinya pembelajar dalam mengakses materi pembelajaran tidak terbatas jarak, ruang dan waktu, bisa dimana saja dan kapan saja.[9]

Pendapat para pakar lain yang mendefinisikan e-learning antara lain :

  1. Jaya Kumar C. Koran, e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.
  2. Dong, e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
  3. Rosenberg, menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
  4. Darin E. Hartley, e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.
  5. Learn Frame.Com dalam Glossary of e-Learning Terms, e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone.[10]

Menilik dari lima pendapat diatas, para pakar tersebut lebih banyak menyoroti hal yang berkaitan dengan pembelajaran yang berbasiskan pada komputerisasi pembelajaran, baik secara langsung maupun tak langsung.

Dari beberapa pendapat yang mengkomentari tentang e-learning maka dapat disimpulkan bahwa e-learning merupakan suatu konsep belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain serta peralatan elektronik lainnya yang dapat menunjang proses pembelajaran. Namun dari kebanyakan pendapat e-learning selalu diidentikkan dengan penggunaan internet sehingga memuingkinkan terjadinya pembelajaran jarak jauh dan tidak terbatas oleh tempat dan waktu. Dan kaitannya dengan hal tersebut dapat diartikan bahwa e-learning merupakan sebuah strategi baru dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan era digital informasi.

Sedangkan yang dimaksud dengan strategi pembelajaran menurut para ahli pendidikan yang antara lain :

  1. Kemp, menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.
  2. Kozma, memberikan definisi bahwa startegi pembelajran diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran.
  3. Gerlach dan Ely, bahwa cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam ligkungan pembelajaran tertentu dengan melibatkan sifat, ruang lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik disebut strategi pembelajaran.
  4. Dick dan Carey, menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur yang digunakan oleh guru dalam rangka membentu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
  5. Cropper, mengatakan bahwa pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan penbelajaran merupakan strategi pembelajaran.[11]

Dari pemikiran para pakar tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu rencana dan tindakan pembelajaran dengan menggunakan metode tertentu serta pemanfaatan sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

C. Implementasi e-Learning Dalam Pembelajaran

Walaupun banyak para pemikir yang telah mendefinisikan e-learning sebagai pembelajaran yang pada pelaksanaannya didukung oleh berbagai peralatan elektronika, akan tetapi pada kesempatan kali ini penulis memberikan batasan atas penggunaan media elektronika tersebut dengan penggunaan media internet sebagai basis pelaksanaan pembelajaran. Hal ini perlu penulis lakukan dengan alasan bahwa internet merupakan media yang saat ini sedang menjamur, bila dibandingkan dengan media elektronika yang lainnya.

Proses pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan e-learning tidak dapat disamakan dengan pelaksanaan pembelajaran pada umumnya yang dilakukan secara konvensional dengan menggunakan metode tatap muka langsung, melainkan proses pembelajaran yang menggunakan metode online via internet. Hal ini dilakukan dalam rangka upaya meninkatkan kualitas sumberdaya manusia yang akan bersaing pada knowledge workers dan knowledge economic era. Sebab dalam era tersebut mengharuskan para pekerjanya secara cepat menemukan berbagai informasi yang diperlukan, menimbang, dan mengevaluasinya agar mendapatkan tingkat akurasi yang tinggi, serta mempergunakan informasi tersebut untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.[12] Dalam hal ini perlu ditumbuhkan kemandirian pada diri setiap pendidik untuk membuat peserta didiknya menjadi lebih independen dan akan dapat memperkaya mereka dengan kemampuan dalam menguasai ilmu pengetahuan. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah konsep yang mengatakan bahwa belajar adalah proses yang tidak pernah ada akhirnya (long live education).

Implementasi sistem e-learning didasarkan atas suatu prinsip atau konsep bahwa e-learning dimaksudkan sebagai upaya pendistribusian materi pembelajaran melalui media elektronik atau internet sehingga peserta didik dapat mengaksesnya kapan saja dari seluruh penjuru dunia. Ciri pembelajaran dengan e-learning adalah terciptanya lingkungan belajar yang flexible dan distributed. Fleksibilitas menjadi kata kunci dalam sistem e-learning. Peserta didik menjadi sangat fleksibel dalam memilih waktu dan tempat belajar karena mereka tidak harus datang di suatu tempat pada waktu tertentu. Dilain pihak, pengajar dapat memperbaharui materi pembelajarannya kapan saja dan dari mana saja. Dari segi isi, materi pembelajaran pun dapat dibuat sangat fleksibel mulai dari bahan ajar yang berbasis teks sampai materi pembelajaran yang sarat dengan komponen multimedia. Namun demikian kualitas pembelajaran dengan e-learning pun juga sangat fleksibel atau variatif, yakni bisa lebih jelek atau lebih baik dari sistem pembelajaran tatap muka (konvensional). Untuk mendapatkan sistem e-learning yang baik diperlukan perancangan yang baik pula. Distributed learning menunjuk pada pembelajaran dimana pengajar, peserta didik, dan materi pembelajaran terletak di lokasi yang berbeda, sehingga peserta didik dapat belajar kapan saja dan dari mana saja.[13]

Dalam merancang sistem e-learning perlu mempertimbangkan dua hal, yakni ; Peserta didik yang menjadi target dan Hasil pembelajaran yang diharapkan. Pemahaman atas peserta didik sangatlah penting yang antara lain adalah harapan dan tujuan mereka dalam mengikuti e-learning, kecepatan dalam mengakses internet atau jaringan, keterbatasan bandwidth, biaya untuk akses internet, serta latar belakang pengetahuan yang menyangkut kesiapan dalam mengikuti pembelajaran. Pemahaman atas hasil pembelajaran diperlukan untuk menentukan cakupan materi, kerangka penilaian hasil belajar, serta pengetahuan awal.[14]

Lain dari pada itu terdapat faktor yang harus diperhatikan dalam penerapan e-learning sebagai strategi pembelajaran, antara lain :

1. Analisis kebutuhan.

Analisis dilakukan untuk mengetahui kesiapan faktor pendukung yang berupa alat, dana, dan pembuat kebijakan. Sehingga dapat menentukan studi kelayakan pada penggunaan e-learning. Selain itu hal yang perlu dianalisa adalah dukungan teknis yang berupa komputer dan jaringan internetnya, sumberdaya manusia yang terampil dalam penggunaannya, unsur untung rugi penggunaan e-learning, dan sikap pengguna yang akan menjadi objek pembelajaran.

2. Rancangan pembelajaran.

Untuk merancang strategi e-learning terdapat hal yang harus diperhatikan, antara lain ; analisis isi pembelajaran, analisis pembelajar, analisis kompetensi yang akan dicapai, analisis proses pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan penyusunan alat evaluasi.

3. Tahap pengembangan.

Tahap pengembangan dilakukan mengikuti perkembangan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia. Selain itu, pengembangan prototype materi pembelajaran dan rancangan pembelajaran yang harus dievaluasi secara terus-menerus.

4. Pelaksanaan.

Prototype yang telah siap untuk dapat diakses, secara kontinyu mendapatkan pengujian untuk mengetahui berbagai hambatan dan standar materi pembelajaran sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran mandiri.

5. Evaluasi.

Evaluasi dilakukan dengan cara penelitian terhadap objek pembelajaran, sehingga prototype pembelajaran yang terakses dapat terkontrol sedemikian rupa untuk mengadakan pengambangan lebih lanjut.[15]

Proses pembelajaran secara online dapat dilakukan dengan :

  1. Proses pembelajaran dilakukan secara konvensional (tatap muka langsung), akan tetapi dibeberapa segi dilakukan secara online via internet atau menggunakan grafik interaktif komputer.
  2. Dengan metode yang lebih banyak menggunakan akses komputerisasi atau internet, dan suatu saat mengadakan tutorial langsung dan mendiskusikan bahan ajar.
  3. Metode pembelajaran yang sepenuhnya dilakukan dengan media internet online.[16]

Adapun jika dilihat dari segi metode penyampaian pembelajaran, e-learning dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu ; Synchrounous dan Asynchronous.

Metode Synchrounous adalah jika pengajar dan siswa berada di depan komputer secara bersama-sama karena proses pembelajaran dilaksanakan secara live, baik melalui video maupun audio conference. Selanjutnya dikenal pula istilah blended learning yakni pembelajaran yang menggabungkan semua bentuk pembelajaran misalnya on-line, live, maupun tatap muka (konvensional). Akan tetapi metode ini harus menggunakan sistem bandwidth yang sangat besar dan membutuhkan perangkat biaya yang besar pula. Sedangkan metode Asynchronous banyak dijumpai di Internet baik yang sederhana maupun yang terpadu melalui portal e-learning.[17]

Pengajar dan mahasiswa dalam kelas virtual, meskipun dalam asinkron waktu dan tempat yang berbeda. Nah disinilah diperlukan peranan sistem (aplikasi) e-Learning berupa Learning Management System dan content baik berbasis text atau multimedia. Sistem dan content tersedia dan online dalam 24 jam nonstop di Internet. Pengajar dan mahasiswa bisa melakukan proses belajar mengajar dimanapun dan kapanpun. Tahapan implementasi e-Learning yang umum, Asynchronous e-Learning dimatangkan terlebih dahulu dan kemudian dikembangkan ke Synchronous e-Learning ketika kebutuhan itu datang.[18]

Fasilitas program IT yang dapat mendukung proses pelaksanaan e-learning pada saat ini telah banyak berkembang. Program sistem informasi tersebut berupa Learning Manajemen System (LMS), yang beberapa contohnya adalah WebCT, Blackboard, Macromedia Breeze, dan Fronter.[19] Selain itu juga dikembangkannya sistem intruksi berbasis jaringan yang disebut Virtual Online Intructional Support System (VOISS), yang memungkinkan para pembelajar untuk men-download tugas-tugas, membaca arahan staff pengajar, mengikuti kuis online, melihat jadwal kelas, menerima dan mengirim e-mail, bahkan memungkinkan untuk melihat hasil tes evaluasi pembelajaran. Dengan VOISS juga memungkinkan untuk adanya diskusi interaktif yang dapat melibatkan banyak peserta didik tanpa harus berkumpul dalam satu ruangan.[20]

Berdasarkan berbagai pertimbangan dalam pemilihan perangkat lunak aplikasi untuk e-learning, maka untuk membangun dapat memilih salah satu perangkat lunak e-learning yang tergolong pada jenis open soure seperti web, blog, group mailing, dan lain sebagainya. Salah satunya dapat menggunakan perangkat lunak Moodle. Pemilihan perangkat lunak moodle didasari atas pertimbangan bahwa perangkat moodle merupakan perangkat lunak yang open source, tidak terikat dengan royalti dan kepemilikan, dapat dikonfigurasi ulang sesuai dengan analisis kebutuhan, dan mendapat dukungan komunitas sesama pengguna perangkat lunak open source.[21]

Penggunaan e-learning sebagai bagian dari proses pembelajaran merupakan ikhtiar penting dalam membantu peserta didik untuk mendapatkan materi pembelajaran secara dini, tentunya materi pembelajaran sudah disiapkan terlebih dahulu oleh pengajar sebagai agen pembelajaran. Oleh karena itu peserta didik dapat mempersiapkan materi pembelajaran dengan terlebih dahulu mengakses materi ajar. Kegiatan ini merupakan aktifitas pembelajaran mandiri yang dapat dikerjakan peserta didik tanpa harus bertemu secara fisik dengan pengajar. Dengan demikian ketika proses pembelajaran klasikal dan atau berkelompok, peserta didik sudah terlebih dahulu mempelajari topik-topik pembelajaran yang hendak didiskusikan dengan kelompok-kelompok yang lain. Oleh karena itu, pembelajaran mandiri dengan materi pembelajaran berikutnya dapat terlaksana dengan bantuan e-learning.

D. Pro dan Kontra Seputar e-Learning

Di saat semakin maraknya penggunaan media internet sebagai media pembelajaran dengan strategi e-learning, di sisi lain masih banyak para pakar yang memberikan komentar tentang efektifitas pembelajaran tersebut dengan pro dan kontra terhadapnya.

Pro dan kontra itu muncul karena pertimbangan atas kebermanfaatan proses e-learning dan juga efek yang ditimbulkan olehnya. Adapun segi manfaat e-learning antara lain :

  1. Meningkatkan interaksi pembelajaran, dengan adanya interaksi antara pembelajar, materi pembelajaran, dan pengajar. Sebab dengan tidak adanya tatap muka langsung biasanya para pembelajar lebih berani mengungkapkan pendapat dan pertanyaan yang substansial terhadap materi pembelajaran, atau dengan kata lain bahasa tulisan yang sering dipakai dalam interaksi tersebut biasanya lebih memberikan penjelasan dari pada penggunaan bahasa verbal.
  2. Mempermudah interaksi pembelajaran dimana pun dan kapan pun, jadi proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan tidak tergantung pada penjadwalan tertentu.
  3. Jangkauang pembelajaran lebih luas.
  4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pelajaran.

Adapun sisi kelemahan yang menjadi efek pembelajaran e-learning adalah :

  1. Tidak tersampaikannya value pendidikan yang berisikan nilai dan etika moral yang sesungguhnya menrupakan core inti dari proses pendidikan dan pengajaran.
  2. Dengan pembelajaran e-learning lebih mengutamakan aspek teknis dan komersialitas, dan mengesampingkan aspek perubahan perilaku, kemempuan akademik, sosial, dan ketrampilan pembelajar.
  3. Proses pembelajaran cenderung kearah pelatihan dari pada pendidikan yang menekankan aspek psikomotorik dan afektif.
  4. Tuntutan bagi pembelajar untuk belajar mandiri guna memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi. Sedangkan hal ini biasanya tidak mendapat perhatian dari para pengajarnya, sehingga para pembelajar tidak termotivasi untuk melakukan proses belajar mandiri.[22]

E. Penutup

E-learning atau electronic learning merupakan strategi pembelajaran yang berbasis pada IT (Information Technology) dengan penggunaan infrastruktur yang berupa media komputer, internet, dan media komunikasi yang lainnya. Dengan demikian untuk dapat menggunakan e-learning terlebih dahulu harus mempertimbangkan faktor kebutuhan, perencanaan, pengembangan, pelaksanaan dan evaluasi, disamping segi kebermanfaatan serta kekurangannya yang akan berdampak kemudian. Hal ini dilakukan agar pemanfaatan media online dalam belajar tersebut dapat dilaksanakan secara optimal sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Dengan melihat beberapa efek negatif dari e-learning, maka penulis menyarankan penggunaan e-learning seyogyanya tidak dilakukan secara mutlak begitu saja, sehingga para pembelajar tidak terlepas dari ikatan pembelajaran. Terlebih lagi jika melihat tujuan filosofis dari proses pembelajaran yang bukan hanya sekedar penyampaian ilmu pengetahuan secara kognitif, melainkan harus memperhatikan dan menanamkan nilai-nilai afektif dan penanaman ketrampilan psikomotorik yang seharusnya dilakukan dalam alam nyata dan bukan di dunia maya atau virtual.

DAFTAR PUSTAKA

“E-Learning : Peranan Dalam Globalisasi” http://suray.wordpress.com/2007/05/18/e-learning-paradigma-pembelajaran-berbasis-it-3/

“Pengertian e-learning”, http://e-dufiesta.blogspot.com/2008/06/pengertian-e-learning. html,

Fakhruddin, Asep Umar, Menjadi Guru Favorit, Yogyakarta : DIVA Press, 2009.

Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif dan Menyenangkan, Yogyakarta : Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, 2009.

http://alfauzi.blogspot.com/2008/02/pro-kontra-e-learning.html

http://sekolah-dasar.blogspot.com/2010/03/pengertian-e-learning-dan-komponennya. html,

Muchsin, Bashori dan Wahid, Abdul, Pendidikan Islam Kontemporer, Bandung : PT. Refika Aditama, 2009.

Munir, Pembelajaran Jarak Jauh, Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bandung : Alfabeta, 2009.

Rochaety, Eti, Rahayuningsih, Pontjorini, dan Yanti, Prima Gusti, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, cet. Ke-2, Jakarta : Bumi Aksara, 2006.

Sardiman, A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, cet. III, Jakarta : Rajawali Pers, 1990.

Suranto, Beni, “Virtual Classroom : Strategi Pembelajaran Berbasis Synchronous e-learninghttp://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/view/1221/1009

Surjono, Herman Dwi, “Pengantar e-Learning dan Penyiapan Materi Pembelajaran”, http://blog.uny.ac.id/hermansurjono/files/2009/02/pengantar-elearning-dan-penyiapan-materi.pdf,

Wahid, Fathul, Teknologi Informasi dan Pendidikan, Yogyakarta : Ardana Media, 2007.

Zakaria, Masduki, “E-Learning Sebagai Model Pembelajaran Mandiri dengan Pendekatan Kooperatif dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Lulusan Perguruan Tinggi”, http://smkn3-kuningan.net/seminar_uny/07_%20Masduki%20Z.pdf


[1] “E-Learning : Peranan Dalam Globalisasi” http://suray.wordpress.com/2007/05/18/e-learning-paradigma-pembelajaran-berbasis-it-3/, akses pada, 17 Mei 2010

 

[2] Bashori Muchsin dan Abdul Wahid, Pendidikan Islam Kontemporer, (Bandung : PT. Refika Aditama, 2009), hlm. 3.

[3] Asep Umar Fakhruddin, Menjadi Guru Favorit, (Yogyakarta : DIVA Press, 2009), hlm.34.

[4] Sardiman, A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, cet. III (Jakarta : Rajawali Pers, 1990), hlm. 2.

[5] Asep Umar Fakhruddin, hlm.39.

[6] Masduki Zakaria, “E-Learning Sebagai Model Pembelajaran Mandiri dengan Pendekatan Kooperatif dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Lulusan Perguruan Tinggi”, http://smkn3-kuningan.net/seminar_uny/07_%20Masduki%20Z.pdf , diakses pada tgl. 15 Mei 2010.

[7] Munir, Pembelajaran Jarak Jauh, Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Bandung : Alfabeta, 2009), hlm. 42.

[8] Herman Dwi Surjono, “Pengantar e-Learning dan Penyiapan Materi Pembelajaran”, http://blog.uny.ac.id/hermansurjono/files/2009/02/pengantar-elearning-dan-penyiapan-materi.pdf, diakses pada tgl. 15 Mei 2010.

[9] Munir, hlm. 167.

[10] “Pengertian e-learning”, http://e-dufiesta.blogspot.com/2008/06/pengertian-e-learning. html, diakses pada tgl. 12 Mei 2010.

[11] Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif dan Menyenangkan, (Yogyakarta : Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, 2009), hlm. 2-3.

[12] Eti Rochaety, Pontjorini Rahayuningsih, dan Prima Gusti Yanti, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, cet. Ke-2 (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), hlm. 76.

[13] Herman Dwi Sarjono, …

[14] Ibid,

[15] Munir, hlm. 173-174.

[16] Eti Rochaety, Pontjorini Rahayuningsih, dan Prima Gusti Yanti, hlm. 77.

[17] Herman Dwi Sarjono, …

[18] Lihat pada Beni Suranto, “Virtual Classroom : Strategi Pembelajaran Berbasis Synchronous e-learninghttp://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/view/1221/1009, akses pada 15 Mei 2010. Lihat juga http://sekolah-dasar.blogspot.com/2010/03/pengertian-e-learning-dan-komponennya. html, diakses tgl. 12 Mei 2010.

[19] Fathul Wahid, Teknologi Informasi dan Pendidikan (Yogyakarta : Ardana Media, 2007), hlm. 71.

[20] Eti Rochaety, Pontjorini Rahayuningsih, dan Prima Gusti Yanti, hlm. 78.

[21] Masduki Zakaria, …

[22] Munir, hlm. 174-177, lihat juga http://alfauzi.blogspot.com/2008/02/pro-kontra-e-learning.html diakses pada 15 Mei 2010.

Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

Satu Balasan ke E-LEARNING SEBAGAI STRATEGI PEMBELAJARAN

  1. Ping balik: PENDEKATAN, KONSEP PENYELENGGARAAN, METODE dan STRATEGI e-LEARNING – ANAK SAHABAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s