Pendidikan Islam di Era Global Village

PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL VILLAGE

(ANALISA TANTANGAN DAN PELUANG)

  1. Pendahuluan

Masa dan era yang selalu berjalan ke depan dengan demikian cepatnya, telah membawa berbagai macam perubahan dari berbagai sudut pandang kehidupan umat manusia. Bukan hanya pada pola kehidupannya akan tetapi lebih spesifik dapat dikatakan telah mempengaruhi cara berfikir dan etika berfikirnya. Hal ini telah menyajikan kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menuntut umat manusia untuk mengikuti perkembangannya jika menginginkan keberlangsungan kehidupannya di dunia modern ini. Sedangkan hal terpenting untuk pencapaian kemajuan dan peradaban tersebut, tak dapat melepaskan diri dari suatu proses pendidikan yang dapat mengantarkannya mencapai proses pemikiran yang integral atas perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terapannya. Sebab yang sekarang ini terjadi adalah, siapa yang menguasai sains, teknologi, dan informasi maka merekalah yang akan mempengaruhi dan menentukan arah perjalanan masyarakat global. Maka, yang urgen untuk diupayakan untuk diraih dan diwujudkan oleh umat (Islam) ialah adanya kemampuan yang berkualitas tinggi dari umat sehingga memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara sehat dalam pluralisme kultural masyarakat global.1

Globalisasi yang sering disebut sebagai era pasar bebas dan sekaligus persaingan bebas, telah banyak membuka jalur komunikasi antar manusia melalui media elektronika, dan telah menggeser agen-agen sosialisasi manusia yang berlangsung secara tradisional. Kemajuan bidang informasi tersebut pada akhirnya akan berpengaruh pada kejiwaan dan kepribadian masyarakat. Sehingga hanya mereka yang berorientasi ke depan lah sanggup bertahan, dan yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan dan mereka yang memiliki ciri sebagai masyarakat modern. Dalam keadaan ini, keberadaan masyarakat satu bangsa dengan bangsa lain telah menjadi satu, baik dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, bahkan pendidikan.2

Dari pandangan diatas, pendidikan sebagai pemegang peran dalam proses pengembangan baik secara kelembagaan, materi pendidikan, guru sebagai pelaksana pembelajaran, metode, sarana, dan sebagainya dari seluruh aspek dan faktor pendukung proses pendidikan, haruslah dapat melihat secara cermat dan dapat membangun paradigma baru yang berupa pendidikan di era global yang sarat dengan tantangan, sehingga dapat memberikan ruang baru terhadap beberapa peluang yang dapat memberikan pandangan baru dan memberikan sumbangsih terhadap berkembangnya dunia global.

  1. Global Village dan Pendidikan Islam
  1. Teori Global Village

Kata “global” bermakna universal. Dari kata global tersebut berkembang istilah globalisasi yang hingga saat ini pun belum memiliki definisi yang mapan, dan hanya sekedar definisi kerja sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya.3 Dengan berkembangnya teknologi informasi yang semakin dapat mendekatkan seluruh penjuru dunia dalam sekali waktu, muncullah istilah global village atau desa global. Artinya, semakin tidak adanya batasan yang memberikan jarak kepada seluruh warga di seluruh pelosok dunia untuk mendapatkan informasi yang sama.4

Sepertiny di era digital, teori global village yang dikatakan Friedman dalam buku The World is Flat terbukti. Global village telah menyebabkan dunia tidak memiliki tapal batas sedikit pun. Berita yang terjadi di kutub selatan akan terekspos hanya dalam hitungan menit.5

Teori tentang global village seperti yang dikutip Faisal Luthfi juga dikemukakan oleh Marshall McLuhan6 dalam Understanding Media The Extensions of Man (1960), Marshall McLuhan mengemukakan ide bahwa medium is message (pesan media ya media itu sendiri). McLuhan menganggap media sebagai perluasan manusia dan bahwa media yang berbeda-beda mewakili pesan yang berbeda-beda. Media juga menciptakan dan mempengaruhi cakupan serta bentuk dari hubungan-hubungan dan kegiatan-kegiatan manusia. Pengaruh media telah berkembang dari individu kepada masyarakat. Dengan media setiap bagian dunia dapat dihubungkan menjadi desa global. Pengaruh media yang demikian besar kepada masyarakat menghantarkan pemikiran McLuhan untuk menyampaikan Teori Determinime Teknologi yang mulanya menuai banyak kritik dan menebar berbagai tuduhan. Ada yang menuduh bahwa McLuhan telah melebih-lebihkan pengaruh media. Tetapi dengan kemajuan teknologi komunikasi massa, media memang telah sangat maju. Saat ini, media ikut campur tangan dalam kehidupan kita secara lebih cepat daripada yang sudah-sudah dan juga memperpendek jarak di antara bangsa-bangsa. Itulah yang kemudian membawa ramalan masa depan McLuhan, adanya Desa Global. Sebuah konsep tentang perkembangan teknologi komunikasi di mana dunia dianailogikan menjadi sebuah desa yang sangat besar. Marshall McLuhan memperkenalkan konsep ini pada awal tahun 60-an dalam bukunya yang berjudul Understanding Media: Extension of A Man. Konsep tentang Global Village berangkat dari pemikiran McLuhan bahwa suatu saat nanti informasi akan sangat terbuka dan dapat diakses oleh semua orang. Pada masa ini, mungkin pemikiran ini tidak terlalu aneh atau luar biasa, tapi pada tahun 60-an ketika saluran TV masih terbatas jangkauannya, internet belum ada, dan radio masih terbatas antardaerah, pemikiran McLuhan dianggap aneh dan radikal. Desa Global menjelaskan bahwa tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat, menggunakan teknologi internet. McLuhan meramalkan pada saatnya nanti, manusia akan sangat tergantung pada teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi. McLuhan memperkirakan apa yang kemudian terjadi pada masa sekarang, di abada ke-2o seperti saat ini. McLuhan memperkirakan pada masa digital dan serba komputer tersebut, persepsi masyarakat akan mengarah kepada perubahan cara serta pola komunikasi. Bagaimana pada saat itu, masyarakat tidak akan menyadari bahwa mereka sedang mengalami sebuah revolusi komunikasi, yang berefek pada komunikasi antarpribadi. Di atas level komunikasi interpersonal yakni komunikasi antara dua-tiga orang, pada masa desa global benar-benar terjadi trend komunikasi akan ke arah komunikasi massa, yakni bersifat massal dan luas. Di mana pembicaraan akan suatu topik dapat menjadi konsumsi dan masukan bagi masyarakat luas, kecuali, tentu saja, hal-hal yang bersifat amat rahasia seperti rahasia perusahaan, rahasia negara, keamanan-ketahanan. Semua orang berhak untuk ikut dalam pembicaraan umum, dan juga berjak untuk mengkonsumsinya, tanpa terkecuali. McLuhan menyatakan bahwa desa global terjadi sebagai akibat dari penyebaran informasi yang sangat cepat dan massive di masyarakat. Penyebaran yang cepat dan massive ini menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (media massa). manusia pada masa itu akan lebih menyukai komunikasi audiovisual yang atraktif, informatif, dan menghibur. Bertentangan dengan “kekuatan” teknologi media massa, manusia tidak akan mengagumi internet seperti pada awal kehadirannya di tengah masyarakat, sekalipun Internet dapat menghubungkan satu orang dengan orang lainnya dalam tempat yang berjauhan, menyampaikan banyak pesan ke tempat yang berlainan dalam satu waktu bersamaan. Perkembangan konsep desa global.7

Dalam perkembangannya desa global tersebut telah membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan umat manusia. Dampak yang ditimbulkannya seiring dengan proses transformasi informasi yang semakin cepat dapat diakses di perbagai belahan dunia sebagaimana globalisasi dunia telah memberikan perubahan pola kehidupan di berbagai aspek dan sisi.

Diantara dampak positif yang ditimbulkan oleh era digital informasi yang cenderung bebas tanpa batas, penulis menyimpulkan sebagai berikut : a. Mempermudah manusia dalam melakukan hubungan komunikatif dengan manusia lainnya di seluruh penjuru dunia, b. Semakin cepatnya laju informasi internasional, c. Dapat mengubah pola pikir manusia untuk menuju peradaban yang lebih maju, d. Semakin terbukanya peluang kerjasama yang saling menguntungkan antar negara, e. Membuka peluang untuk saling memahami dalam keberagaman dunia dan pluralisme global, dan masih banyak lagi dampak positif lainnya yang dapat di telurkan. Akan tetapi beberapa dampak positif tersebut akan dapat dirasakan oleh umat manusia secara umum, jika penyerapan informasi yang ada difilter secara baik dan dijadikan sebagai bahan pelajaran untuk mendapatkan kajian berdasarkan atas etika dan moral yang berlaku, terutama ajaran religius dari setiap agama yang selalu mengajarkan kebaikan. Sebab jika tidak demikian, bukanlah maslahat yang akan didapatkan melainkan sebaliknya, yakni kehancuran umat manusia secara moralitas dan tidak lagi memperhitungkan kaidah norma dan nilai dalam tatanan kehidupan sosial.8 Hal ini disebabkan oleh berbagai macam pengaruh transformasi budaya yang tak dapat lagi dibendung, jadi sangat memungkinkan adanya budaya taklid dengan perbuatan yang tak diketahui kejelasan landasan berfikirnya.

  1. Pendidikan Islam di Era Global Village

Seperti yang telah penulis kemukakan, bahwa pendidikan merupakan tonggak utama yang dapat dijadikan sandaran utama dalam rangka membentuk generasi yang siap diterjunkan ke dalam dunia global yang penuh dengan tantangan.

Demikian pula pendidikan Islam yang bercita-cita membentuk insan kamil yang sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan sunnah. Secara lebih spesifik pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan Islam atau sistem pendidikan yang Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai fundamental yang terkandung dalam sumbernya, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Sehingga pendidikan Islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang mendasarkan diri dan dibangun dari al-Qur’an dan Hadits.9

Dengan memperhatikan pendefinisian diatas, pendidikan Islam sebagai upaya pengejawantahan nilai-nilai al-Qur’an dan Hadits, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan pendidikan Islam berupaya menjadikan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt yang di berikan kepadanya amanat sebagai ‘abd dan juga menjadi khalifah di muka bumi. Secara lebih khusus, pendidikan Islam bermaksud untuk :

  1. Memberikan pengajaran al-Qur’an sebagai langkah pertama pendidikan.
  2. Menanamkan pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang terwujud dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dan bahwa ajaran-ajaran tersebut bersifat abadi.
  3. Memberikan pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan perubahan yang ada dalam masyarakat dan dunia.
  4. Menanamkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis iman adalah pendidikan yang tidak utuh dan pincang.
  5. Menciptakan generasi yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  6. Mengembangkan manusia islami yang berkualitas tinggi yang diakui secara universal.10

Jika mengingat betapa luhur tujuan pendidikan Islam tersebut, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi seluruh umat Islam untuk kembali kepada khiththah pendidikan Islamnya. Apalagi keberadaan pendidikan Islam di era global village ini harus mampu menjadi mitra perkembangan dan pertumbuhannya, bukan menjadi counter attack yang justru akan berseberangan dengan semakin pesatnya kemajuan. Sebab, era ini akan terus berjalan maju dan tidak akan mengenal siapapun yang akan menjadi penikmatnya, dan kemajuannya akan mampu menggilas dan menggerus apapun yang menghalanginya. Seperti yang telah diungkapkan oleh Mcluhan bahwa manusia mesti merasa berada dalam suatu pesawat antariksa yang sama, yaitu bernama planet bumi. Dimana tak ada yang sekedar berstatus penumpang namun semua adalah awak kapal. Manusia harus menyadari keberadaannya dalam teater bumi, dimana tak ada yang hanya jadi penonton tapi semuanya menjadi pelakon.11

Hal yang diungkapkan diatas, merupakan sebuah fenomena yang nyata terjadi di era digital informasi yang menjadikan sebuah desa global. Maka pendidikan Islam seharusnya membuka wacana sebuah pendidikan global yang mampu mengantarkan generasi muslim pada sebuah peradaban modern. Adapun konsep pendidikan global tersebut atau yang disebut juga multi cultural education yang mana pendidikan berpandangan tentang masalah yang mendunia. Dengan berpandangan bahwa upaya menanamkan pandangan dan pemahaman tentang dunia kepada peserta didik dengan menekankan pada saling keterkaitan antar budaya, umat manusia dan planet bumi. Pendidikan global menekankan pada peserta didik berfikir kritis dengan fokus substansi pada hal-hal yang mendunia yang semakin bercirikan interpendensi, serta bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, skill, dan sikap yang diperlukan untuk hidup di dunia yang sumber dayanya kian menipis, ditandai keragaman etnis, pluralisme budaya dan saling ketergantungan.12

Dengan kata lain, pendidikan Islam harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya sebagai penerima informasi global, tetapi juga harus memberikan bekal kepada peserta didik agar dapat mengolah, menyesuaikan, dan mengembangkan segala hal yang diterima melalui arus informasi itu, yakni manusia yang kreatif dan produktif.13

Bersamaan dengan konsep pendidikan Islam di era global tersebut, perhatian prinsip pendidikan Islam juga haruslah mengarah pada bagaimana konsep kemasyarakatan yang cakupannya sangatlah luas. Konteks makro pendidikan tersebut yaitu kepentingan masyarakat yang dalam hal ini termasuk masyarakat bangsa, negara dan bahkan juga kemanusiaan pada umumnya, sehingga pendidikan Islam integratif antara proses belajar di sekolah dengan belajar di masyarakat [learning society]. Yakni hubungan pendidikan dengan masyarakat mencakup hubungan pendidikan dengan perubahan sosial, tatanan ekonomi, politik dan negara, karena pendidikan itu terjadi di masyarakat, dengan sumber daya masyarakat, dan untuk masyarakat, maka pendidikan dituntut untuk mampu memperhitungkan dan melakukan antisipasi terhadap perkembangan sosial, ekonomi, politik dan kenegaraan secara simultan.14 Hal ini menjadi perhatian khusus karena demi pencapaian masyarakat madani yang sanggup berada di tengah percaturan dunia global.

Demi mewujudkan masyarakat madani tersebut, terdapat 10 (sepuluh) prinsip pendidikan Islam di era global, yang antara lain adalah :

  1. Pendidikan harus membangun prinsip kesetaraan antara sektor pendidikan dengan sektor-sektor lain. Sistem pendidikan harus senantiasa bersama-sama dengan sistem lain untuk mewujudkan cita-cita masyarakat madani Indonesia. Pendidikan bukan merupakan sesuatu yang eksklusif dan terpisah dari masyarakat dan sistem sosialnya, tetapi pendidikan sebagai suatu sistem terbuka dan senantiasa berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungannya.
  2. Pendidikan merupakan wahana pemberdayaan masyarakat dengan mengutamakan penciptaan dan pemeliharaan sumber yang berpengaruh, seperti keluarga, sekolah, media massa, dan dunia usaha.
  3. Prinsip pemberdayaan masyarakat dengan segenap institusi sosial yang ada di dalamnya, terutama institusi yang dilekatkan dengan fungsi mendidik generasi penerus bangsa. Seperti pesantren, keluarga, dan berbagai wadah organisasi pemuda, diberdayakan untuk dapat mengembangkan fungsi pendidikan dengan baik serta menjadi bagian yang terpadu dari pendidikan.
  4. Prinsip kemandirian dalam pendidikan dan prinsip pemerataan menurut warga negara secara individual maupun kolektif untuk memiliki kemampuan bersaing dan sekaligus kemampuan bekerja sama.
  5. Dalam kondisi masyarakat pluralistik diperlukan prinsip toleransi dan konsensus. Untuk itu, pendidikan sebagai wahana pemberdayaan masyarakat dengan mengutamakan penciptaan dan pemeliharaan sumber-sumber tersebut secara dinamik.
  6. Prinsip perencanaan pendidikan. Pendidikan selalu dituntut untuk cepat tanggap atas perubahan yang terjadi dan melakukan upaya yang tepat secara normatif sesuai dengan cita-cita masyarakat madani Indonesia. Maka, pendidikan selalu bersifat progresif tidak resisten terhadap perubahan, sehingga mampu mengendalikan dan mengantisipasi arah perubahan.
  7. Prinsip rekonstruksionis, bahwa kondisi masyarakat selalu menghendaki perubahan mendasar. Maka pendidikan harus mampu menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan oleh perubahan tersebut. Paham rekonstruksionis mengkritik pandangan pragmatis sebagai suatu pandangan yang cocok untuk kondisi yang relatif stabil. Pendekatan pemecahan masalah bersifat lebih berorientasi masa kini, sedangkan pendekatan rekonstruksionis lebih berorientasi masa depan dengan tetap berpijak pada kondisi sekarang.
  8. Prinsip pendidikan berorientasi pada peserta didik. Dalam memberikan pelayanan pendidikan, sifat-sifat peserta didik yang umum maupun yang spesifik harus menjadi pertimbangan. Layanan pendidikan untuk kelompok usia anak berbeda dengan remaja dan dewasa, termasuk perbedaan pelayanan bagi kelompok anak-anak berkelainan fisik dan mental termasuk pendekatan pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil tidak dapat disamakan dengan anak-anak di perkotaan.
  9. Prinsip pendidikan multikultural. Sistem pendidikan harus memahami bahwa masyarakat yang dilayaninya bersifat plural, sehingga pluralisme harus menjadi acuan dalam mengembangkan pendidikan dan pendidikan dapat mendayagunakan perbedaan tersebut sebagai sumber dinamika yang bersifat posetif dan konstruktif.
  10. Pendidikan dengan prinsip global, artinya pendidikan harus berperan dan harus menyiapkan peserta didik dalam konstelasi masyarakat global.15
  1. Tantangan dan Peluang Pendidikan Islam di Era Global Village

Fenomena yang terbangun dengan munculnya era global village telah memberikan berbagai macam problem baik tentang bagaimana informasi yang terus berkembang tanpa pandang bulu dapat diserap atau juga bagaimana mensikapi hal baru yang selalu saja datang silih berganti tanpa adanya filter yang menyaringnya. Era global village dengan teknologi informasinya semakin dapat dirasakan perkembangannya, dengan medianya yang berupa komputer, televisi, hand phone, dan peralatan canggih lainnya, telah benar-benar menjadi hal yang komplek dalam transformasi informasi. Pada masyarakat informasi peranan media elektronika sangat memegang peran penting, bahkan menentukan corak kehidupan. Sebab lewat komunikasi satelit, orang tidak hanya memasuki lingkungan informasi dunia, tetapi juga sanggup mengolahnya dan mengemukakannya secara lisan, tulisan, bahkan visual.16

Di sisi lain, Muhammad Tholchah Hasan mengemukakan tantangan pendidikan Islam yang harus dihadapi di era global ini adalah kebodohan, kebobrokan moral, dan hilangnya karakter muslim.17 Secara lebih terperinci beberapa tantangan yang ditimbulkan oleh globalisasi informasi dan komunikasi adalah :

  1. Keberadaan publikasi informasi merupakan sarana efektif penyebaran isu, sehingga dapat menimbulkan saling kecurigaan di antara umat.
  2. Dalam banyak aspek keperkasaan Barat dalam dominasi dan imperalisasi informasi, yang dapat menimbulkan sukularisme, kapitalisme, pragmatisme, dan sebagainya.
  3. Dari sisi pelaksanaan komunikasi informasi, ekspos persoalan seksualitas, peperangan, dan kriminal, berdampak besar pada pembentukan moral dan perubahan tingkah laku.
  4. Lemahnya sumber daya Muslim sehingga di banyak hal harus mengimport produk teknologi Barat.18

Dan inilah menurut para pakar pendidikan yang menjadi PR besar bagi setiap institusi pendidikan termasuk pendidikan Islam.

Dengan melihat fenomena tersebut, jelas tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perubahan dalam segala bentuk dan sistem baik bersifat personal maupun global bisa terjadi dalam hitungan waktu yang relatif sangat singkat. Maka ini merupakan sebuah tantangan yang mutlak dijawab oleh pendidikan Islam dengan tujuan dan cita-citanya yang luhur. Walaupun pada dasarnya Islam sebagai sebuah sistem telah memberikan wacana tentang perubahan yang memang harus terjadi demi mencapai tujuan hidup manusia yang dijadikan landasan tujuan pendidikan Islam. Seperti telah difirmankan Allah swt dalam al-Qur’an surat ar-Ra’d ayat 11, “… sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri …”. Dengan demikian, Islam menganjurkan adanya perubahan yang positif dalam keadaan apapun sehingga mengarah pada kemajuan dan perbaikan. Pemahaman yang demikian perlu ditumbuhkembangkan pada cara berfikir peserta didik sebagai generasi kedepan. Memeperluas wawasan dan membentuk sikap yang toleran terhadap berbagai perubahan dengantanpa kehilangan pegangan dan pendirian, sebab perubahan yang terjadi merupakan sunnatullah. Maka sikap yang harusdibentuk adalah sikap kreatif-proporsional, dengan wacana filsafat pendidikan multikultural dan realitas masyarakat plural, posmodernisme, integrasi interkoneksi ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya perlu dikaji. Maksudnya, agar peserta didik menjadi generasi yang mampu menyesuaikan diri dan tetap efektif berjuang di tengah perubahan sosial yang mendunia tanpa kehilangan komitmen serta sikap ketakwaan. Dalam pada itu, generasi tersebut dapat mengambil posisi subyek yang ikut memainkan peranan dan tidak sekedar menjadi penonton atau tamu di sebuah desa global dengan realitas budaya yang ada.19

Dengan mempertimbangkan beberapa tantangan pendidikan Islam diatas, telah memberikan sebuah inspirasi bahwa menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan adalah tugas pendidikan Islam. Hal itupun tidak terlepas dari berbagai peluang yang dapat dijadikan sebagai jalan untuk membina generasi dan peserta didik untuk lebih dapat bersaing dan berkiprah di desa global yang tanpa batas.

Berangkat dari perspektif tersebut, peluang pendidikan Islam di era global village ini dapat diperincikan sebagai berikut :

  1. Pendidikan semakin dituntut untuk tampil sebagai kunci dalam pengembangan kualitas sumberdaya manusia, yaitu manusia yang mempunyai wawasan, kemampuan dan ketrampilan serta kepribadian yang sesuai dengan kebutuhan nyata yang dihadapi umat.
  2. Orientasi pada kemampuan nyata yang dapat ditampilkan oleh lulusan pendidikan akan semakin kuat, artinya menciptakan dunia kerja yang cenderung realistis dan pragmatis, di mana dunia kerja lebih melihat kompetensi nyata yang dapat ditampilkan.
  3. Mutu pendidikan suatu komunitas atau kelompok masyarakat, tidak hanya diukur berdasarkan kriteria internal saja, melainkan dibandingkan dengan komunitas lain yang lebih riil.
  4. Apresiasi dan harapan masyarakat dunia pendidikan semakin meningkat, yaitu pendidikan yang lebih bermutu, relevan dan hasilnya pun dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari semakin meningkatnya kemakmuran masyarakat selalu ingin mendapatkan suatu yang lebih baik.
  5. Sebagai komunitas atau masyarakat religius, yang mempunyai keimanan dan tata nilai, maka pendidikan yang diinginkan adlah pendidikan yang mampu menanamkan karakter islami disamping kompetensi lain yang bersifat akademis dan skill.20

Dari pernyataan-pernyataan di atas, sepertinya pendidikan Islam berada pada suatu posisi sehingga dapat berperan aktif di era global. Namun hal tersebut harus dilandasi beberapa syarat yang dapat menjadikan lebih eksisnya pendidikan Islam di era global village dan gencarnya pertumbuhan teknologi informasi yang ada. Adapun syarat-syarat tersebut antara lain; Pertama, pendidikan Islam harus ikut serta sebagai pendukung keberadaan era ini, dengan berusaha memanfaatkan segala informasi yang berkembang dan berperan aktif dalam menanggulangi segala dampak negatif yang di timbulkan. Kedua, pendidikan Islam seyogyanya selalu berusaha memanfaatkan sumber daya elektronika yang telah menjadi media utama transformasi informasi. Dengan mengembangkannya dengan berbagai bentuk informasi positif yang dapat menjadi bahan pelajaran dan materi ajar yang diperlukan, seperti pengembangan e-learning, e-book, tafsir digital dan lain sebagainya.

  1. Penutup

Era global village adalah sebuah era di mana setiap informasi dapat diterima dan diserap oleh seluruh penduduk bumi, tanpa batas penghalang yang dapat menghalanginya. Luasnya dunia sudah tidak lagi menjadi penghalang untuk penyebaran berita dan isu apapun yang up todate. Hal ini tentunya menjadi hal yang baru bagi beberapa orang yang belum memiliki pemikiran yang maju, dan bahkan akan menjadikannya hanya akan terlindas oleh cepatnya pertumbuhan teknologi dan kemajuan zaman, karena tidak sanggup menghadapi perubahan yang demikian cepat.

Melihat fenomena tersebut, pendidikan adalah faktor yang dapat dijadikan sebagai jaminan bagi pengembangan sumber daya manusia, sehingga dapat menghadapi tantangan global village dengan era digital informasinya. Demikian pula pendidikan Islam, yang lebih cenderung membawa misi religiusitas pun juga harus ikut berperan di dalamnya. Dengan membekali para peserta didiknya dengan kekuatan keimanan, ketakwaan, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan yang berimbang sehingga dapat membawa para peserta didik tersebut pada kondisi yang siap menghadapi segala tantangan era informasi.

DAFTAR PUSTAKA

Asifudin, Ahmad Janan, Mengungkit Pilar-pilar Pendidikan Islam (Tinjauan Filosofis), Yogyakarta : Sunan Kalijaga Press, 2009

http://blog.beswandjarum.com/aminfauzi/category/budaya/

http://gitapratiwi.wordpress.com/2009/05/07/marshal-mcluhan-dalam-the-gutenbeg-galaxy-the-making-of-typographic-man-1962-dan-understanding-media-theextentions-of-man-1964

Ismadi, Bambang, “Prasyarat strategis pengembangan IPTEK dalam era globalisasi”, http://pdfmachine.com

Jalal, Fasli, Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, Yogyakarta: Adicita, 2001

Luthfi, Faisal, “Sang Peramal Desa Global”, http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=61339e43408033a225cf34b8bd2a2e76&jenis=d82c8d1619ad8176d665453cfb2e55f0&PHPSESSID=d026aff301a610210159e13fdb7f8cef

Majid, Abdul, “Islam di tengah peradaban Global”, http://bki-fikomunpad.blog.friendster.com/2005/04/islam-di-tengah-peradaban-global/

Muchsin, Bashori dan Wahid, Abdul, Pendidikan Islam Kontemporer, Bandung : PT. Refika Aditama, 2009

Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006

Narmoatmojo, Winarno, “Dinamika Peradaban Global dan Pengaruhnya Bagi Negara dan Bangsa”, http://winarno.staff.fkip.uns.ac.id/ files/2009/10/dinamika-perd-global.pdf

Nata, Abudin, Manajemen Pendidikan,Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Bogor : Kencana, 2003

Rafiq, Mohd. “Tantangan dan Peluang Komunikasi Islam Pada Era Globalisasi Informasi”, idb2.wikispaces.com/file/view/ok2015.pdf

Sanaki, Hujair AH., “Paradigma Baru Pendidikan Islam”, http://www.sanaky.com/materi/PARADIGMA_BR_PENDIDIKAN_ISLAM_SEBUAH_UPAYA.pdf

1 Abdul Majid, “Islam di tengah peradaban Global”, http://bki-fikomunpad.blog.friendster.com/2005/04/islam-di-tengah-peradaban-global/ tgl. 07 April 2010

2 Abudin Nata, Manajemen Pendidikan,Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Bogor : Kencana, 2003), hlm. 78.

3 Winarno Narmoatmojo, “Dinamika Peradaban Global dan Pengaruhnya Bagi Negara dan Bangsa”, http://winarno.staff.fkip.uns.ac.id/files/2009/10/dinamika-perd-global.pdf, tgl. 07 April 2010

6 lahir pada 21 Juli dan meninggal pada 31 Desember 1980. Dia merupakan seorang kritikus sastra kanada dan penganut media determinism. McLuhan lahir di Kanada Barat dan tumbuh di sebuah kota kecil di Saskatchewan. Ibunya figur intelektual sejati di dalam hidupnya. Menamatkan sarjana di bidang sastra di Universitas Manitobatahun 1932, kemudian Mcluhan melakukan perjalanan ke Inggris untuk kuliah di tingkat doktor dalam sastra Inggris di Cambridge dari tahun 1937 hingga 1942. Sejak tahun 1947 ia menjadi direktur pusat kebudayaan dan tekhnologi Universitas Toronto. McLuhan menjadi tren yang penting di Amerika Utara pada akhir 1960. Perusahaan besar seperti AT&T dan General Motor menjadikannya konsultan. McLuhan meninggal tahun 1980 pada usia 69 tahun karena stroke. McLuhan membagi sejarah komunikasi ke dalam 3 periode utama, yaitu oral (lisan), writing atau printing (tulisan) dan elektronika. Lihat Faisal Luthfi, “Sang Peramal Desa Global”, http://www.surabayapost.co.id/?mnu= berita&act=view&id=61339e43408033a225cf34b8bd2a2e76&jenis=d82c8d1619ad8176d665453cfb2e55f0&PHPSESSID=d026aff301a610210159e13fdb7f8cef, tgl. 07 April 2010

8 Winarno Narmoatmojo, “Dinamika Peradaban Global dan Pengaruhnya Bagi Negara dan Bangsa”.

9 Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 4-5.

10 Bashori muchsin dan Abdul Wahid, Pendidikan Islam Kontemporer, (Bandung : PT. Refika Aditama, 2009), hlm. 11.

11 Bambang Ismadi, “Prasyarat strategis pengembangan IPTEK dalam era globalisasi”, http://pdfmachine.com, tgl. 10 April 2010

12 Winarno Narmoatmojo, “Dinamika Peradaban Global dan Pengaruhnya Bagi Negara dan Bangsa”.

13 Abudin Nata, Manajemen Pendidikan…, hlm. 79.

14 Hujair AH. Sanaki, “Paradigma Baru Pendidikan Islam”, http://www.sanaky.com/materi/PARADIGMA_BR_PENDIDIKAN_ISLAM_SEBUAH_UPAYA.pdf, tgl. 8 Maret 2010

15 Fasli Jalal, Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, (Yogyakarta: Adicita, 2001), hlm. 17.

16 Abudin Nata, Manajemen Pendidikan…, hlm. 78.

17 Bashori muchsin dan Abdul Wahid, hlm. 60.

18 Mohd. Rafiq, “Tantangan dan Peluang Komunikasi Islam Pada Era Globalisasi Informasi”, idb2.wikispaces.com/file/view/ok2015.pdf, tgl. 8 Maret 2010.

19 Ahmad Janan Asifudin, Mengungkit Pilar-pilar Pendidikan Islam (Tinjauan Filosofis), (Yogyakarta : Sunan Kalijaga Press, 2009), hlm. 83-84.

20 Bashori muchsin dan Abdul Wahid, hlm. 68.

Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

3 Balasan ke Pendidikan Islam di Era Global Village

  1. eduvolunteer berkata:

    Salam kenal.
    Tulisan yang bagus, Pak.
    Ijin untuk memuatnya di worpress saya, http://www.educationvolunteer.wordpress.com

  2. Ping balik: PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL VILLAGE (ANALISA TANTANGAN DAN PELUANG « educationvolunteer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s