Global Warming Dalam Pandangan Islam

GLOBAL WARMING DALAM PANDANGAN ISLAM

  1. Pendahuluan

Bumi dan alam ini kian renta. Mungkin kalimat itulah yang bisa diucapkan, kala para penduduk bumi (manusia) semakin merasakan bahwa tempat yang ditinggalinya dan tempat dimana ia berlindung sudah tidak lagi bersahabat dengannya. Banyaknya kejadian bencana alam dan ketidak stabilan alam semesta, telah menjadi cukup bukti bahwa memang bumi dan alam semesta ini sudah semakin renta dan lemah.

Pada dasarnya manusia lebih dikenal sebagai makhluk multidimensi dalam pendekatan ekologis, yang hakekatnya manusia merupakan makhluk lingkungan. Artinya, dalam melaksanakan fungsi dan posisinya sebagai salah satu sub dari ekosistem, manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk selalu mencoba mengerti akan lingkungannya, dan berusaha bereaksi terhadap pengertiannya tentang lingkungan dibandingkan dengan reaksi terhadap lingkungan itu sendiri. Kecenderungan seperti ini menjadi salah satu ciri utama manusia sebagai makhluk yang berakal.1 Sebagaimana pula telah difirmankan Allah dalam al-Qur’an :

Artinya : “dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)” (QS. Huud : 61).

Artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah : 29).

Dari ayat tersebut mengisyaratkan bahwa alam dan lingkungan yang telah Allah anugerahkan kepada manusia bukan semata-mata untuk diambil manfaatnya dengan sekehendak hati manusia, akan tetapi terdapat pesan yang substansial yakni menjadikan manusia sebagai pemakmur dan pemelihara alam dan lingkungannya sebagai konsekuensi atas kekhalifahannya di muka bumi.

Akan tetapi walaupun demikian adanya, sekian banyak manusia yang telah dikaruniai akal dan sekaligus sebagai pengemban amanat kekhalifahan di muka bumi, tidak menyadari bahwa sesungguhnya bumi dan alam semesta tidak mengalami penuaan, melainkan karena terganggunya kestabilan sistem hukum alam yang terjadi akibat proses eksplorasi alam yang berlebihan dari para manusianya sehingga membuat hukum alam melakukan reaksi atas aksi yang diberikan kepadanya.

Bertolak kepada firman Allah swt :

Artinya : Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat. (QS. Asy-Syuura : 27).

Artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Ruum : 41).

Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa sesungguhnya berbagai macam kerusakan yang ada di muka bumi, adalah akibat dari ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab dalam memanfaatkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Sebab manusia hanya dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari alam ini akan tetapi tidak dapat menjaga kelestariannya atau tidak lagi mempedulikan konservasi terhadap alam semesta.

  1. Definisi Global Warming

Global warming pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan ChloroFluoroCarbon (CFC), serta radikal bebas lainnya yang terbentuk dari unsur golongan halogen, yaitu ion fluorida (F), klorida (Cl), dan bromida (Br), juga Oksida hidrogen (HOx), nitrogen (NOx), klorin (ClOx), dan bromin (BrOx) yang mengakibatkan terinfeksinya lapisan ozon di stratosfer, sehingga energi matahari yang berupa sinar infra merah terperangkap dalam atmosfer bumi.2

Dari sekian unsur dan senyawa yang ikut andil atas terjadinya pemanasan global, masing-masing mempunyai latar belakang sendiri-sendiri dan merupakan hasil reaksi sebelumnya yang terlepas ke udara sehingga mencapai ketinggian 20 km dari permukaan bumi dimana ozon (O3) berada, dan yang telah sekian lamanya menjadi tameng bumi dari sinar Ultraviolet (UV) yang dipancarkan matahari. Atau dengan banyaknya radikal bebas yang berkeliaran diudara maka akan menghalangi sinar infra merah untuk keluar dari permukaan bumi menembus atmosfer sehingga terjebak di permukaan bumi dan menaikkan suhu permukaan bumi menjadi lebih panas.

Global warming yang dalam istilah bahasa Indonesia dinamakan dengan pemenasan global, jika ditinjau dari kejadiannya merupakan kejadian yang diakibatkan adanya, 1. Peningkatan temperatur rata-rata pada lapisan atmosfer, 2. Peningkatan temperatur pada air laut, dan 3. Peningkatan temperatur daratan.3 Banyak pendapat para ahli menyatakan bahwa penyebab utama pemanasan global adalah aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil, pelepasan gas metana dari sampah B3, eksploitasi hutan secara liar, dan lain sebagainya, walaupun ada penyebab lainnya yang bersifat alamiah, seperti gas yang dipancarkan gunung berapi.

Pendapat lain yang membedakan istilah efek rumah kaca (ERK) dan gas rumah kaca (GRK), menyatakan bahwa pemanasan global adalah peristiwa naiknya intensitas ERK yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas (sinar inframerah) yang dipancarkan bumi. Gas itu disebut GRK. Dengan penyerapan itu sinar panas terperangkap sehingga menaikkan suhu permukaan bumi. Seandainya tidak ada GRK dan karena itu tidak ada ERK, suhu permukaan bumi rata-rata hanya -18oC saja, terlalu dingin bagi kehidupan makhluk. Dengan adanya ERK suhu bumi adalah rata-rata 15oC, sehingga ERK sangat berguna bagi kehidupan di bumi. Akan tetapi, akhir-akhir ini semakin naiknya kadar GRK dalam atmosfer, yaitu CO2 dan beberapa gas lain (seperti CO2, CH4, dan N2O) menyebabkan naiknya intensitas ERK, sehingga suhu permukaan bumi akan naik pula.4

  1. Dampak Terjadinya Global Warming

Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik antara lain :

  1. Pelelehan es di kutub

Sebab utama terjadinya hal tersebut terurainya Ozon dengan reaksi yang dihasilkan oleh Cl dan Br, serta dibantu oleh sinar matahari, dengan reaksi yang sangat cepat dan dipicu oleh terbentuknya Polar Stratospheric Cloud (PSC) dengan temperatur yang sangat dingin dan selalu terisolasi di dalam vorteks (pusaran yang terdapat pada polar), namun gelombang ultraviolet mampu menembus vorteks tersebut hingga terjadi reaksi penguaian Ozon dan menjadikan lapisannya menipis. Kejadian tersebut banyak terjadi di benua antartika yang mayoritasnya masih tertutup es, sehingga es yang menutupinyapun meleleh dan meningkatkan permukaan air laut dari hari ke hari. Dan dengan proses yang sedemikian lamanya maka bisa jadi seluruh daratan akan tertutup oleh air.5

Adapun proses terpecahnya konsentrasi Ozon (O3) oleh radikal bebas terjadi dengan reaksi sebagai berikut :

X + O3 XO + O2

XO + O X + O2

Total reaksi : O + O3 2 O2

Dimana X adalah radikal bebas yang dapat memecah ozon menjadi O2 dan XO yang juga merupakan radikal bebas yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi selanjutnya dengan atom oksigen sehingga menghasilkan X kembali yang nantinya akan melanjutkan reaksi penguraian ozon. Ini menyebabkan jumlah O3 di stratosfer makin lama makin berkurang sehingga lapisannya semakin menipis, sehingga UV-B akan semakin bebas menerobos atmosfer menuju permukaan bumi dan semakin membahayakan kondisi bumi dan seluruh isinya.

  1. Meningkatnya kadar deposisi asam

Deposisi asam disebabkan oleh belerang (sulfur) (S) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen (N) di udara yang bereaksi dengan oksigen (O2) membentuk sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx). Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air (H2O) untuk membentuk asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (NHO3) yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan.

Deposisi asam ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa terkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dalam udara. Ini dapat terjadi pada daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di daerah perbukitan yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung asam. Pada deposisi tersebut biasanya terjadi pada daerah yang dekat dari pusat pencemaran.

Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asap di dalam udara larut di dalam butir-butir air di awan. Jika turun hujan dari awan tadi, maka air hujan yang turun bersifat asam. Deposisi asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut ke dalam air hujan dan turun ke bumi. Asam itu tercuci atau wash out. Deposisi jenis ini dapat terjadi sangat jauh dari sumber pencemaran.6

  1. Munculnya banyak penyakit hingga pada mutasi genetika

Ketika udara, tanah, dan air yang dijadikan sebagai tumpuan hidup mahluk hidup di bumi ini telah mengalami polusi yang luar biasa dan sudah tidak bisa lagi dikendalikan, maka unsur-unsur polutan yang ada di dalamnya pun dapat masuk kedalam tubuh siapapun yang mengkonsumsinya. Sehingga akan terikat didalam darah dan memicu berbagai macam penyakit terutama kanker.7

Walaupun dengan daya imunitas yang dimiliki, sehingga mahluk hidup dapat bertahan. Akan tetapi unsur-unsur polutan itu mampu bergerak menguasai sifat genetikanya, sehingga akan merusak sistem genetika mahluk hidup, bahkan membentuk sifat genetika baru yang akan berpengaruh pada bentuk fisik mahluk hidup. Hal ini terjadi karena makhluk hidup yang hidup pada lingkungan dengan tingkat polutan yang tinggi menjadikan makhluk tersebut beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Dengan adaptasi fisiologis, morfologis dan tingkah laku yang dialami oleh makhluk hidup selama dan sepanjang masa tertentu, akan mempengaruhi kondisi fisiknya.

  1. Perubahan iklim

Dengan semakin menipisnya lapisan ozon sebagai pelindung bumi, maka suhu permukaan bumi pun meningkat. Hal ini akan mempengaruhi terjadinya penguapan air yang terjadi di permukaan bumi terjadi dengan tidak stabil, hingga mengakibatkan terjadinya musim hujan yang berkepanjangan, ataupun kemarau yang tiada akhir. Bahkan dengan semakin sulitnya memprediksi pergantian musim, hembusan arus angin yang terkadang membawa badai, dan curah hujan yang tinggi di kawasan tropis akan tetapi tetap menjadikan tanahnya lebih cepat mengalami kekeringan.8

  1. Isyarat al-Qur’an dan Hadits Tentang Global Warming

Di dalam tradisi teologi Islam, pemanasan global merupakan fenomena ekologis kontemporer modern. Sehingga pada beberapa prinsip teologi yang ada belum merumuskan suatu konsep teologi yang berkenaan dengan hal tersebut. Akan tetapi dengan melihat kondisi dan fakta yang dihadapi oleh dunia secara umum, dengan semakin terancamnya kehidupan berbagai makhluk dimuka bumi akibat pemanasan global, maka secara teoritis dapat dilakukan suatu pendekatan yang dilakukan guna mengantisipasi bahaya pemanasan global dengan adanya pendekatan ekoteologi Islam. Ekoteologi Islam merumuskan prinsip dasar teologis bahwa hakikat orang beriman adalah yang percaya bahwa bumi adalah tempat hidup yang ideal, langit adalah pelindung kehidupan dan pemanasan global adalah kiamat antropogenik.9

Berdasarkan beberapa hal dan kejadian diatas Imam Al-Alusi menjelaskan dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani, saat menafsirkan QS. Ar-Ruum : 41, bahwa kerusakan dimuka bumi tersebut antara lain ; kemarau, wabah penyakit, banyaknya kebakaran, kebanjiran, penghapusan berkah dari segala sesuatu, berkurangnya sesuatu yang bermanfaat, dan merajalelanya marabahaya.10 Hubungannya dengan fenomena pemanasan global, maka jelas sekali bahwa penyebab utama semua ini adalah ulah manusia.

Dan jika berangkat pada titik tolak dimana pemanasan global bersifat antropogenik, maka terjadinya dampak yang ditimbulkan merupakan sebuah konsekuensi atas perbuatan manusia dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungannya. Dengan demikian tidaklah menjadi hal yang salah jika pemanasan global merupakan ’kiamat’ antropogenik. Sebab hal yang terjadi dari dampak pemanasan global yang telah banyak dirasakan oleh kehidupan manusia dan makhluk lainnya, sangat berkaitan erat dengan teologi tentang kejadian kiamat yang telah tercantum dalam al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang diyakini sebagai kabar berita yang benar dan memiliki kebenaran yang mutlak.

Berdasarkan pada pernyataan tersebut, penulis berusaha memaparkan sebagian ayat al-Qur’an serta hadits Nabi yang memberikan isyarat tentang pemanasan global dan beberapa hal yang berkaitan dengannya, antara lain :

Artinya : apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan menjadikan meluap. (QS. Al-Infithar : 1-3)

Dari ayat tersebut sekiranya sudah bisa dijadikan sebuah alasan bahwa akibat adanya pemanasan global telah mampu membelah langit yang selama ini telah menjadi pelindung kehidupan bumi, seperti yang difirmankan Allah pada al-Qur’an surat al-Anbiya’ : 32, وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا وَهُمْ عَنْ آَيَاتِهَا مُعْرِضُونَ bahwa langit telah dijadikan Allah sebagai atap (pelindung) yang terjaga. Dalam hal ini penulis memahami bahwa langit yang dijadikan pelindung dan atap tersebut adalah lapisan ozon yang ada pada atmosfer bumi. Sebab jika dilihat fungsinya, ozon telah melindungi bumi dari pancaran sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari, sebagaimana sebuah atap yang melindungi penghuni rumah dari panas dan hujan.

Adapun bintang-bintang yang jatuh berserakan, dapat ditafsirkan sebagai hujan meteor yang fenomenanya telah banyak terjadi di akhir-akhir masa ini. Hujan meteor tersebut terjadi karena atmosfer tak lagi mampu menahan gesekan dengan benda langit yang jatuh akibat adanya gaya gravitasi bumi. Jika dihubungkan dengan ayat sebelumnya maka semakin jelas erat kaitanya dengan melemahnya lapisan ozon sebagai pelindung bumi.

Dan dengan adanya air laut yang meluap, telah dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan terbelahnya langit (berlubangnya lapisan ozon), yang menurut penelitian banyak terjadi di daerah kutub bumi yang berupa vorteks, mengakibatkan pelelehan es di kedua kutub bumi sehingga menambah volume air laut secara terus-menerus. Dengan demikian permukaan laut akan terus meningkat dan dalam waktu tertentu akan dapat menenggelamkan daratan yang ada secara keseluruhan.

Al-Alusi dan Ibadhiy : menyatakan bahwa dari lautan tersebut akan meluap kepada daratan hingga menutupi seluruh daratan, sebagai adzab atas tindakan manusia, dan tiada lagi tempat yang rendah maupun yang tinggi.11

Terlepas dari penafsiran diatas, ayat-ayat tersebut dan juga ayat-ayat lainnya seperti dalam al-Waqi’ah : 1-6, al-Qiyamah : 7-9, at-Takwir : 1-6, az-Zalzalah : 1-2, dan lain sebagainya. Seluruh ayat tersebut merupakan ayat dengan kalimat ‘bersyarat’, atau selalu didahului oleh huruf Syarth yaitu “إذا” , yang jika diberikan makna secara semantik adalah kalimat yang akan terjadi jika ada penyebab sebelumnya. Dan jika dihubungkan pada sistem hukum alam yang selalu tunduk dan patuh terhadap hukum sebab akibat, maka hal ini sangat relevan bahwa terjadinya kejadian-kejadian yang disebutkan di dalam ayat-ayat tersebut merupakan perwujudan dari akibat yang ditimbulkan dari penyebab tertentu.

Artinya : Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Al-Ankabut : 40).

Banyak para mufassir menafsirkan ayat tersebut dengan adanya adzab yang akan diberikan kepada para ‘perusak’. Dengan adzab yang berupa bencana dengan bermacam-macam bentuknya.

Dengan menghadirkan ayat tersebut, semakin memperjelas bahwa segala kerusakan yang berupa bencana apapun bentuknya merupakan konsekuensi dari perbuatan manusia yang “merusak”. Walaupun jika ditinjau lebih lanjut, ayat tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengabarkan kejadian-kejadian yang menimpa kaum di masa lalu yakni masa kaum ‘Ad, Tsamud, Madyan, hal yang menimpa Qarun serta kaum nabi Nuh dan juga diteggelamkannya Fir’aun. Akan tetapi pesan tersebut tidak hanya berkenaan dengan kekafiran mereka sehingga ditimpakan kepada mereka bencana, melainkan pada kekufuran mereka akan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka, dan perbuatan mereka yang berlebih-lebihan.12

Ayat al-Qur’an yang lain yang mengisyaratkan terjadinya pemanasan global adalah :

Artinya : Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. (QS. Al-Qamar : 11).

Tafsiran terhadap ayat tersebut diatas adalah air yang ditumpahkan pada hari itu, bukanlah air yang berasal dari awan, melainkan dari pintu-pintu langit yang terbuka.13 Ar-Raziy menyatakan bahwa makna ‘maka kami bukakan’ mengandung makna hakiki dan majazi, yang menafsirkan bahwa secara hakiki langit tersebut terbuka dengan adanya pintu-pintu yang memancarkan air yang tercurah tiada terhingga, dan secara majazi bahwa langit tersebut terdapat awan yang membawa hujan yang teramat deras dan menambahkan bahwa ada kalanya dengan dihembuskannya angin yang kencang dan badai.14

Dari ayat tersebut, dapat ditarik sebuah penafsiran bahwa dengan dibukanya pintu-pintu langit, maka Allah akan menurunkan hujan yang deras lagi badai. Selain dari pada itu, jika dikaitkan dengan dampak pemanasan global yang terjadi di muka bumi, telah memberikan isyarat bahwa akan adanya ketidakstabilan iklim dan musim di muka bumi.

Berkenaan dengan hal tersebut diatas, Nabi Muhammad saw telah bersabda dengan mengabarkan sebagian apa yang terjadi tentang hari kiamat, sebagai berikut :

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ قَالَ حَدَّثَنِي حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنِي مُعَاذُ بْنُ حَرْمَلَةَ الْأَزْدِيُّ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُمْطَرَ النَّاسُ مَطَرًا عَامًّا وَلَا تَنْبُتَ الْأَرْضُ شَيْئًا

Artinya : tidak akan datang hari kiamat hingga manusia dihujani dengan hujan secara merata tetapi tidak dapat menumbuhkan sesuatu di bumi. (HR. Ahmad)15

Dalam hadits tersebut telah memberikan isyarat bahwa akan adanya hujan yang melimpah namun tidak mampu menumbuhkan apa-apa yang ada di bumi. Dengan kata lain, bahwa turunnya hujan yang melimpah telah disebabkan karena terjadinya perubahan iklim dan musim, sehingga air yang menyiram bumi tidak mampu diserap lagi oleh bumi untuk dijadikan air tanah yang menyuburkan, akan tetapi bumi akan kembali mengering di sebabkan ketiadaan kantong-kantong penyerapan air.

Pada penafsiran yang lain dapat pula ditafsirkan bahwa air yang melimpah tersebut merupakan air yang tidak dapat menyuburkan tahan melainkan menambah kerusakan tanah dan ekosistemnya, yakni air hujan dengan tingkat kadar keasaman yang tinggi sehingga melebihi kapasitas normal keasaman hujan dengan ph kurang dari 5,6.

Dari beberapa keterangan diatas, telah memberikan bukti bahwa pemanasan global berdampak negatif terhadap sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup terutama air, tanah dan udara. Jika hal tersebut berkelanjutan dalam waktu yang relatif lama, maka akan mengganggu ekosistem yang ada, bahkan akan sangat mempengaruhi adanya adaptasi makhluk hidup dengan lingkungannya baik secara fisiologis, morfologis dan tingkah laku.

Jika demikian halnya, maka tidak menutup kemungkinan akan merebaknya berbagai wabah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus dan bakteri, yang merupakan makhluk yang sangat rentan terhadap terjadinya mutasi genetika pada dirinya untuk beradaptasi dengan lingkungannya yang kian tercemar.

  1. Penutup

Dari paparan di atas, menjelaskan bahwa segala kejadian alam yang terjadi di alam semesta, tidak luput dari campur tangan manusia yang mengelolanya. Sebab, alam semesta merupakan sebuah sistem yang terbentuk dari gejala-gejala alam dan hukum-hukum alam, maka keseimbangan sistem yang ada tergantung kepada siapa yang proaktif dalam ekosistem yang ada. Pemanasan global itu terjadi, karena kestabilan sistem di alam semesta ini telah terganggu.

Setelah mengetahui kondisi tersebut, dengan membuka kesadaran diri bahwa kesewenang-wenangan dalam mengeksploitasi alam akan berakibat buruk bagi kelangsungan hidup manusia dan seluruh makhluk di muka bumi. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk yang sempurna dengan karunia akal dan ilmu, seyogyanya dapat menjaga keseimbangan ekosistem baik biotik maupun abiotik, dan dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada secara bijak.

dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu” (QS. Al-Hijr : 21).

DAFTAR PUSTAKA

Al Diwanta, Masde, Menyingkap Rahasia Fenomena Alam & Badai Matahari 2012, Yogyakarta : Tugu Publisher, 2010

CD ROM Al-Maktabah al-Syamilah, al-Ishdar al-Tsalits, http://www.shamela.ws.

CD ROM Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, al-Ishdar al-Tsaniy, Global Islamic Software Company, 2000.

Hira Jhamtani, Agung Wardana dan Kadek Lisa, Berubah atau Diubah : Lembar Fakta dan Panduan Tentang Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, Yogyakarta : INSIST Press, 2009.

http://anafio.multiply.com/reviews/item/5

http://geo.ugm.ac.id/archives/28

http://granadamediatama.wordpress.com/arsip/isyarat-global-warming-dalam-nubuwat-qur%E2%80%99aniah-dan-hadits-rasulullah-saw-tulisan-pertama/

http://ozonsilampari.wordpress.com/2008/01/30/lapisan-ozon-di-stratosferbagian-i/

http://ray07blogqoe.blogspot.com/2008/10/kerusakan-ozon.html

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/lapisan-ozon-bagi-kehidupan-manusia/

http://www.bmg.go.id/datadetail.bmkg?jenis=teks&ids=6630117486022692992&idd =8681723648674472859

http://www.gaulislam.com/dr-ir-budi-kartiwa-cesa

http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=469

http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/20/opi4.htm

http://www.zulkieflimansyah.com/in/islam-melihat-global-warming.html

Mangunjaya, Fachrudin M., Konservasi Alam Dalam Islam, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2005.

Mujiyono Abdillah, Agama Ramah Lingkungan Perspektif al-Qur’an, Jakarta : Paramadina, 2001

Prayitno, Imam, “Islam dan Global Warming (Pemenasan Global)” dalam Risalah Jum’at edisi 6/XIX, 7 Shafar 1431 H/22 Januari 2010 M, Yogyakarta : Majlis Tabligh dan Dakwah khusus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, 2010.

Surya, Yohanes “Infeksi di Lapisan Ozon”, http://www.yohanessurya.com/download/ penulis/teknologi_13.pdf

Susanta, Gatut dan Sutjahjo, Hari, Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemenasan Global?, Jakarta : Penebar Swadaya, 2008

Taufiq, Muhammad “Qur’an In Word Ver. 1.3”, http://www.geocities.com/mtaufiq.rm/quran.html

1 Mujiyono Abdillah, Agama Ramah Lingkungan Perspektif al-Qur’an (Jakarta : Paramadina, 2001), hal. 2

2 http://geo.ugm.ac.id/archives/28, di akses tgl. 12-4-2010. Lihat juga Yohanes Surya “Infeksi di Lapisan Ozon”, http://www.yohanessurya.com/download/penulis/teknologi_13.pdf, di akses pada 18-4-2010.

3 Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo, Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemenasan Global? (Jakarta : Penebar Swadaya, 2008), hlm. 5.

5 Yohanes Surya “Infeksi di Lapisan Ozon”, http://www.yohanessurya.com/download/ penulis/teknologi_13.pdf

6 http://www.bmg.go.id/datadetail.bmkg?jenis=teks&ids= 6630117486022692992&idd =8681723648674472859, di akses tgl. 18-4-2010.

8 Gatut Susanta dan Hari Sutjahjo, hlm. 7.

9 Mujiyono Abdillah, hlm. 90.

10 Abu Tsana’ Syihabudin al-Alusiy, “Ruhul Ma’aniy fi Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim wa Sab’i-l-matsaniy”, dalam al-Maktabah al-Syamilah.

11Lihat pada al-maktabah al-Syamilah.

12 Abu Ja’far al-Thabariy, “Jami’-l-bayan fi Tafsir-l-Qur’an”, dalam al-Maktabah al-Syamilah.

13 Al-Alusiy, dalam al-Maktabah al-Syamilah.

14 Fakhrudin Arraziy, “Mafatih-l-ghaib”, dalam al-Maktabah al-Syamilah.

15 Ahmad bin Muhammad bin Hambal, “Musnad Ahmad” No. hadits 11979, dalam Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, al-Ishdar al-Tsaniy, Global Islamic Software Company, 2000.

Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

7 Balasan ke Global Warming Dalam Pandangan Islam

  1. sunardi berkata:

    ……..emmmmmmmm…………kami yang kurang terpelajar berkomonitas peduli lingkungan,..yang kami lakukan hanya menanam pohon dan menanam pohon dengan tujuan biar lingkungan sejuk,…pingin melakukan yang lebih, tapi di mulai dari mana….MUSTIKA comunity, yogyakarta.

    • fahreena berkata:

      cara yang sudah ditempuh sebagai usaha meminimalisir sudah merupakan usaha yang mulia. tinggal melanjutkan dan menggalakkan lagi.

      adapun jika menginginkan langkah lebih lanjut, itu merupakan sebuah sistem yang harus ditempuh secara universal. sebab terjadinya pemanasan global juga merupakan suatu sistem yang universal pula. sehingga hal ini tidak dapat untuk dicegah lagi, jadi tindakan meminimalisir itu sudah dapat dikatakan usaha yang maksimal. terlebih lagi dengan memberikan kesadaran lingkungan pada masyarakat kita.
      banyak buku-buku yang telah memberikan sorotan terhadap hal ini. walaupun efek yang ditimbulkannya tidak sebesar efek global warming yang dibicarakan, tapi setidaknya teori-teori tersebut telah banyak membantu.

      cayooo MUSTIKA community….

  2. ahsan berkata:

    sgt baik terima kasih

  3. Sugianto berkata:

    Kawan….. sebagai bentuk kerja kami atas pemanasan global, kami yang tergabung di POKMASWAS KEJUNG SAMODRA desa karanggandu watulimo trenggalek Jatim melakukan penyelamatan terhadap hutan mangrove. Namun pengetahuan kami masih terbatas. Kami sangat mengharapkan bantuan dari semua pihak yang mencintai lingkungan untuk membantu kami. Kabar baik dari Anda adalah senyum kami dan senyum ibu pertiwi

  4. Ping balik: GLOBAL WARMING « hasancapres

  5. Ping balik: GLOBAL WARMING « hasancapres

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s